Abstract

This study begins with anxiety about the learning process in schools that uses conventional and teacher-centered models, which affect the achievement of student learning outcomes. With the presence of the 2013 curriculum, it is clear that the learning process must be more active with a scientific and learner-centered approach. This is what then made the authors conduct research at SMA Islamiyah Babakan Karangpucung Cilacap to determine the learning process of Islamic Education with a scientific approach. This study aims to analyze: 1) Management of the factual PAI learning model, 2) Management of the hypothetical model of Islamic Education learning model with a scientific approach, 3) Finding the management of Islamic Education learning model that is in accordance with the scientific approach. This research was designed in the form of Research and Development (R & D). Data collection methods used were observation, interviews, and documentation. Meanwhile, to analyze the data using analysis with a phenomenological approach that departs from certain facts or phenomena that occur in the field and then conclusions are drawn. The results showed that: 1) the learning process still uses conventional and teacher-centered learning models. 2) developing a learning model based on a scientific approach. 3) the learning model with a scientific approach is appropriate to be used as an appropriate Islamic Islamic education learning model.

Pendahuluan

Pendidikan diartikan sebagai upaya untuk “memanusiakan” manusia. Pengertian sederhana ini mengacu pada manusia dan siapa yang memanusiakannya . Satuan pendidikan sebagai salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat dituntut untuk terus memberikan layanan pendidikan yang sejalan dengan kebutuhan dan perubahan masyarakat yang terjadi

Belajar merupakan proses penting yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang memuaskan. Dimana proses pembelajaran memiliki peran penting sebagai penentu berhasil tidaknya pembelajaran yang dilaksanakan. Tidak semua guru atau sekolah menerapkan pembelajaran yang lebih menarik atau disesuaikan dengan kebutuhan siswa saat ini. Pembelajaran konvensional juga masih banyak diterapkan. Mengapa hal ini tetap terjadi karena faktanya tidak semua guru menguasai model pembelajaran atau pendekatan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Sebagai seorang guru, kita harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat untuk siswa. Oleh karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan kondisi kelas dan kondisi peserta didik, juga bahan pembelajaran dan sumber belajar yang tersedia guna menciptakan proses belajar mengajar yang efektif yang mendukung keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh.

Peserta didik harus dilibatkan dalam pembelajaran untuk dilatih agar mampu mendalami ilmu yang berkaitan dengan pelajaran yang dapat dipetik dari pembelajaran di kelas. Jadi pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru yang menjelaskan, tetapi siswa diberikan kebebasan untuk mengembangkan pemikirannya atau ide gagasan yang muncul dari diri peserta didik. Manakah yang lebih penting, ketika siswa dapat mengembangkan kemampuan berfikir untuk menyelesaikan masalah atau siswa yang hanya menguasai materi pelajaran? Oleh karena itu doktrin guru yang mengutamakan kuantitas nilai siswa tanpa memperhatikan kualitas perkembangan berpikir siswa harus dihilangkan.

Seiring berkembangnya pembelajaran, pemerintah merespon dengan berbagai regulasi yang bertujuan untuk mengefektifkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Hal tersebut telah tertuang dalam Permendikbud (Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) Nomor 22 Tahun 2016 yang merupakan pengganti Permendiknas (Peraturan Kementerian Pendidikan Nasional) No 53 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan yang menjelaskan bahwa standar proses yang harus ada dalam proses pembelajaran di kelas harus menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan dengan kurikulum 2013. Oleh sebab itu pendekatan saintifik mulai diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Saatnya pembelajaran konvensional berevolusi menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa bisa aktif untuk mengutarakan pendapat juga melatih keberanian.

Namun faktanya tidak semua pembelajaran di sekolah menggunakan pembelajaran saintifik. Bahkan banyak guru mata pelajaran yang masih kesulitan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Dengan adanya tantangan dalam proses pembelajaran khususnya mata pelajaran PAI maka perlu dikembangkan suatu model pembelajaran baru yang efektif dan efisien yang akan mendorong siswa untuk aktif, guru juga harus mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan menerapkan model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif.

Fungsi pendidikan pada dasarnya adalah untuk membantu anak mencapai kedewasaan. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya, namun karena berbagai keterbatasan dan tuntutan zaman, terkadang orang tua tidak mampu memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak untuk hidup bermasyarakat

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan pengembangan karakter dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggungjawab (Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3. Belajar bisa diartikan sebagai perubahan sebagai perilaku, kognitif, dan sosial yang dihasilkan dari situasi tertentu secara optimal dan mempertimbangkan kondisi eksternal

Pembelajaran saat ini harus mulai menerapkan pendekatan saintifik sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016. Penggunaan pendekatan saintifik akan membuat siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar, mengembangkan pola pikir siswa serta menjadikan siswa berani dalam mengungkapkan pendapat dan ilmunya. Jadi ketika siswa lulus, karakternya sudah terbentuk dan tidak tergantung pada perkataan dari guru.

Pembelajaran PAI di SMA Islamiyah Babakan menggunakan dua kurikulum yaitu kurikulum KTSP dan kurikulum K13. Kurikulum KTSP diterapkan di kelas XI dan XII sedangkan untuk kelas X sudah mulai menggunakan Kurikulum K13. Pencapaian hasil belajar yang lulus KKM sekitar 50-70% dari jumlah seluruh peserta didik. Guru mengadakan remedial untuk meningkatkan nilai siswa yang belum mencapai KKM.

Penggunaan model pembelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa juga telah diterapkan oleh guru PAI, misalnya dengan memberikan tugas kelompok untuk membuat makalah kemudian pada pertemuan berikutnya dibahas dalam cara presentasi kelompok masing-masing. Pembelajaran yang harus mulai dikembangkan dengan pendekatan saintifik yang membuat siswa aktif dan kritis. Peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang pengelolaan model pembelajaran PAI berbasis pendekatan saintifik.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R & D). Pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Dengan menyampaikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan kemudian dianalisis dan dikembangkan menjadi model pembelajaran. Penelitian ini menitikberatkan pada materi pelajaran PAI Kelas X.

Dalam proses penelitian dan pengembangan akan dilaksanakan dalam tiga tahap Pertama, tahap pendahuluan yang akan dilalui melalui tiga proses studi literatur dengan melihat hasil studi sebelumnya khususnya saat KBM PAI. Kedua,dilakukan dengan mengembangkan hasil tahap pertama. Pengembangan ini dilakukan dengan memfokuskan pada model pembelajaran PAI dengan pendekatan saintifik. Dimana penyusunannya adalah untuk mengembangkan model pembelajaran yang sudah ada dan ini merupakan tahap hipotesis. Tahap Ketiga adalah validasi dari ahli dan praktisi, ini bertujuan untuk melihat apakah model pembelajaran layak atau tidak. Setelah validasi dilakukan selanjutnya adalah tahap revisi atau perbaikan model pembelajaran agar layak digunakan.

Hasil dan Pembahasan

Hasil pembelajaran model factual PAI digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam pengelolaan model factual digunakan beberapa instrumen dalam pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.

Tujuan pengelolaan kelas adalah untuk memastikan pembelajaran dapat dicapai sesuai rencana sebelumnya. Manajemen kelas terkait erat dengan pengaturan kelas dan tujuan pembelajaran. Sudah menjadi tugas guru untuk menciptakan suasana yang dapat menggugah semangat belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, meningkatkan kualitas pembelajaran dan lebih mengasah kemampuan guru dalam memberikan bimbingan kepada siswa dalam pembelajaran, sehingga diperlukan penyelenggaraan kelas yang memadai.

Selain pengelolaan pembelajaran yang baik, tentunya dibutuhkan model pembelajaran yang menarik. Sesuai dengan kurikulum 2013, siswa harus lebih aktif dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang harus diterapkan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 adalah dengan pendekatan saintifik. Dalam pendekatan saintifik tentunya harus menggunakan model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran in tentunya disesuaikan dengan kebutuhan atau kesesuaian antara materi dengan media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan temuan di lapangan, pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada guru. dimana siswa sudah terbiasa menerima materi atau hanya mendengarkan ceramah guru.

Dalam rangka mengimplementasikan Kurikulum 2013, tentunya dalam penyelenggaraan pembelajaran harus diubah atau dikembangkan. Dalam hal ini perkembangan pembelajaran perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di kelas mulai dari pemenuhan sarana prasarana juga kesesuaian materi dan bahan ajar dengan kebutuhan siswa. Dalam pembelajaran yang ada perlu dikembangkan dengan model pembelajaran yang kreatif agar siswa lebih aktif dalam kelas. Berani mengungkapkan pendapat sendiri maupun hasil diskusi kelompok.

Pengelolaan model pembelajaran menjadi hal yang penting dan perlu direncanakan dalam proses pembelajaran. Manajemen pembelajaran yang baik dilakukan di semua mata pelajaran tidak hanya mata pelajaran PAI saja. Model pembelajaran yang kreatif dan peserta didik yang lebih aktif akan membuat siswa meningkatkan keterampilan dan hasil belajarnya. Pembelajaran yang selama ini difokuskan hanya pada metode ceramah guru dan metode ini tentu tidak melibatkan siswa sehingga siswa menjadi pasif. Sehingga harus dikolaborasikan dengan model pembelajaran lainnya.

Model Manajemen dalam Pembelajaran Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan salah satu pelajaran penting untuk menanamkan karakter. Sehingga pada kurikulum 2013 juga ditambah alokasi waktu yang awalnya 2 jam sekarang menjadi 3 jam pelajaran. Terdapat beberapa perubahan teknis penulisan dalam penyusunan RPP. Penulisan tersebut lebih detail serta semakin jelas indikator-indikator yang akan dicapai dalam proses pembelajaran atau tujuan pembelajaran.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan hal wajib yang harus disusun oleh guru PAI dan mempersiapkan materi yang akan disampaikan, buku atau referensi yang dijadikan acuan dalam pembuatan bahan ajar. Referensi tidak hanya dari buku teks, tetapi guru juga harus kreatif mencari materi tambahan dari referensi lain. Sedangkan untuk dokumen pendukung seperti undang-undang sistem pendidikan nasional, standar nasional pendidikan dan lain-lain yang terkait dengan dokumen pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran seorang guru harus mencarinya sendiri. Pasalnya dokumen tersebut tidak disediakan di sekolah.

Berdasarkan dokumen berupa RPP yang telah disusun guru dianggap sudah mampu menyusun rencana pembelajaran dengan baik. RPP meliputi standar kompetensi yang harus dimiliki siswa, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, dan media yang digunakan. Hasil penelitian manajemen model faktual pada pembelajaran PAI Kelas X ditemukan fakta bahwa guru masih menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran.

Pengelolaan Hipotesis

Hipotesis berbasis pendekatan ilmiah pembelajaran adalah interaksi antara pendidik dan siswa yang secara sadar, direncanakan baik di dalam maupun di luar ruangan untuk meningkatkan kemampuan siswa. Pembelajaran untuk sekolah dasar artinya interaksi antara guru dan siswa dilakukan secara sadar dan terencana yang dilakukan baik di dalam kelas maupun di luar kelas dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa

Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kondisi yang sengaja diciptakan. Guru atau tutor yang menciptakannya untuk mengajar siswa. Perpaduan antara kedua unsur manusia ini melahirkan interaksi pendidikan dengan memanfaatkan materi sebagai medianya. Disana semua komponen pengajaran dilaksanakan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pembelajaran dilaksanakan. Dalam kegiatan belajar mengajar harus ada komunikasi dua arah antara guru dan siswa agar lingkungan belajar kondusif. Tidak lagi memakai Teacher Center melainkan Student Center sehingga proses belajar mengajar akan diarahkan menjadi tujuan pembelajaran.

Paradigma pembelajaran selama ini hanya berpusat pada guru (Teacher Centered) sebagai sumber belajar, bukan berpusat pada siswa (Student Center) sehingga guru akan mendominasi proses pembelajaran di kelas sedangkan siswa hanya bersifat pasif. Peran guru sebagai fasilitator belum terlihat dalam proses pembelajaran. Guru harus mampu menguasai empat kompetensi dasar komunikasi dua arah dengan harapan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Kemudian terkait dengan pembelajaran, tentunya kita harus bisa melakukan manajemen yang baik dalam proses pembelajaran. Manajemen pendidikan pada dasarnya adalah alat yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Unsur manajemen dalam pendidikan adalah penerapan prinsip-prinsip manajemen dalam bidang pendidikan. Pengelolaan pendidikan merupakan rangkaian proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan yang terkait dengan bidang pendidikan.

Husain Usman dalam Didin Kurniadin mengartikan manajemen pendidikan sebagai seni dan ilmu dalam mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian baik, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Secara singkat administrasi pendidikan juga dapat diartikan sebagai seni dalam mengelola sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Berdasarkan fungsi manajemen, manajemen juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Pada dasarnya manajemen pembelajaran juga sama dengan manajemen pendidikan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Jika dalam manajemen pendidikan istilahnya luas yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pembinaan. Sedangkan dalam ruang lingkup kelas yang kecil istilah yang digunakan yakni perencanaan pembelajaran, yang di dalamnya terdapat unsur pengorganisasian dimana guru sebagai pemimpin kelas bersinergi dengan anggotanya (peserta didik) untuk aktif dalam pembelajaran dan melakukan evaluasi seperti halnya yang dilakukan seorang pimpinan kepada stafnya dalam dunia manajemen pendidikan yang cakupannya lebih luas dari kelas.

Dari semua proses pembelajaran tersebut diharapkan guru dapat memberikan apresiasi yang positif kepada siswa. Apapun yang disampaikan siswa harus diapresiasi agar tercipta pikiran positif dan dukungan positif sehingga siswa termotivasi untuk lebih giat dalam belajar. Lebih baik menciptakan dukungan positif daripada dukungan negatif yang justru dapat membuat siswa kurang termotivasi untuk belajar, jika guru tidak memberikan reward dan hanya memberikan punishment hal tersebut akan berdampak negatif bagi peserta didik.

Pembelajaran jangka panjang akan memberikan dampak yang luar biasa dibandingkan dengan pembelajaran jangka pendek yang menuntut siswa memahami materi yang dipelajari, mampu menghafal materi dengan baik dan mendapatkan nilai bagus. Sedangkan pembelajaran jangka panjang tidak hanya terpaku pada pemahaman materi pelajaran melainkan pengembangan skill siswa dan perubahan perilaku. Inilah teori belajar sesungguhnya.

Kegiatan Belajar Mengajar yang menyenangkan adalah ketika guru dan siswa aktif, kreatif, mempunyai motivasi belajar, dan memiliki pikiran positif. Dengan suasana yang menyenangkan tentunya siswa akan lebih mudah mengingat materi yang diberikan dan akan lebih murah dalam mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam pelajaran PAI yang diajarkan adalah tentang keimanan dan keislaman yang sangat berguna bagi peserta didik agar dapat mengontrol tingkah laku dan juga memiliki pengetahuan ilahiyah untuk bekal menjalani kehidupan sebagai hamba Allah selama di dunia dan di akherat.

Pembelajaran agama tidak berhenti di kelas saja, tetapi dalam jangka panjang siswa dapat menerapkannya dalam kehidupannya nanti. Dengan ini dapat disimpulkan pengembangan model pembelajaran yang harus diterapkan adalah model pembelajaran berbasis pendekatan saintifik. Karna perkembangan tersebut sesuai dengan kebutuhan yang ada di SMA Islamiyah Babakan Karangpucung. Pendekatan saintifik dapat menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan karena aka nada interaksi sosial di dalam kelas. Lingkungan siswa dapat mempengaruhi motivasi dan hasil belajar siswa. Guru akan dengan mudah memberikan bahan ajar jika karakter siswa mudah dipahami. Pengembangan model pembelajaran dan metode pembelajaran adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai hasil dan tujuan belajar.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil validasi ahli dan praktisi (Guru PAI) Manajemen model pembelajaran PAI berbasis pendekatan saintifik di SMA Islamiyah Babakan Karangpucung layak dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan ini bahwa di SMA Islamiyah Babakan Karangpucung masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu guru dengan metode ceramahnya. Pembelajaran dapat dikembangkan menjadi pembelajaran yang lebih aktif ketika siswa menjadi pusat proses KBM dan guru sebagai fasilitator.

References

  1. Effendi, Moh Mahfud, ‘Pengembangan Kurikulum Matematika SMK: Model Piramida’, 2018 <http://publikasiilmiah.ums.ac.id/handle/11617/10169> [accessed 6 December 2020]
  2. Husaini, Usman, Manajemen (Teori, Praktik Dan Riset Pendidikan) (Jakarta: Bumi Aksara, 2013)
  3. Kurniadin, Didin, and Imam Machali, Manajemen Pendidikan (Konsep Dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan) (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009)
  4. Muhammad Afandi, and Oktarina Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah, 2013
  5. Muntari, Witi Muntari, Achmad Slamet, and Subagyo Subagyo, ‘The Improvement of Management Model Learning Islamic Education (PAI) Based on Scientific Approach’, Educational Management, 7.1 (2018), 59–64 <https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eduman/article/view/26353> [accessed 6 December 2020]
  6. Nugraha, Muhamad Tisna, ‘Pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)’, At-Turats, 10.1 (2016), 13 <https://doi.org/10.24260/at-turats.v10i1.447>
  7. ‘Peraturan Pemerintah Indonesia Tentang Nomor 32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.’
  8. ‘Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Keagamaan’
  9. ‘Permendikbud No. 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pembelajaran.’
  10. Sinta, Ika Umaya, and Hari Wibawanto, ‘Pengembangan Model Pembelajaran Inkuiri Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif (MPI) untuk Mengembangkan Minat Berwirausaha Pada Warga Sos Desa Taruna Semarang’, Innovative Journal of Curiculum and Educational Technology, UNNES, 2013, 6 <http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/488459>
  11. Sya’roni, Muhammad, Nur Zaini, and Zaini Miftah, ‘Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah Model Boarding School Kabupaten Lamongan’, Al Hikmah : Jurnal Studi Keislaman, 7 (2017), 13 <http://ejournal.kopertais4.or.id/pantura/index.php/alhikmah/article/view/2621>
  12. Tóth, Péter, ‘Learning Strategies and Styles in Vocational Education’, Acta Polytechnica Hungarica9, 9.3 (2012), 22
  13. ‘Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.’