Islamic Education
DOI: 10.21070/ijis.v5i0.1590

The Relationship Between Adversity Quotient and Learning Motivation on Islamic Junior High School Students


Hubungan Antara Adversity Quotient dengan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama Islam

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Adversity Quotient Motivation to Learn Middle School Students

Abstract

This research is motivated by the phenomenon of education problems in Indonesia. Indonesian students' learning motivation is ranked 63 out of 72 countries. This research was conducted at Sedati Islamic Junior High School. Researchers found students who lacked motivation to learn. This type of research is quantitative with a correlational approach. The independent variable is adversity quotient as and the dependent variable is learning motivation. The total population is 128 students, with a sample of 128 students taken using the Saturated Sample technique. Data collection techniques in this study used a psychological scale Likert scale model, namely the Adversity Quotient scale and the Learning Motivation scale. The hypothesis of this research is that there is a positive relationship between Adversity Quotient and the learning motivation of junior high school students. Data analysis was carried out using Spearman's Product Moment correlation technique using the SPSS 21.0 program. The results of the analysis of the correlation coefficient of 0.632 with a significance of 0.000 <0.05. This means that there is a positive relationship between Adversity Quotient and student learning motivation. The effective contribution of the Adversity Quotient variable is 39.5% to student learning motivation.

Pendahuluan

Persoalan mengenai motivasi belajar tidak asing terdengar di negara kita Indonesia, Beberapa penelitian tentang motivasi belajar pernah dilakukan oleh Utami yang berjudul “Pengaruh Pelatihan Adversity Quotient Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMP”. Utami [1] penelitian mengenai motvasi belajar juga di lakukan oleh Azizah [2]“Hubungan Motivasi Belajar Dengan Kesiapan Kerja Siswa Yang Telah Mengikuti Praktek Kerja Industri Pada Siswa SMK”. Khasanah [3] juga melakukan penelitian tentang “Hubungan Adversity Quotient dengan Motivasi Belajar Siswa SMA”, penelitian juga dilakukan oleh Ratna [4] “ hubungan antara adversity Intelligence dengan Motivasi Belajar dalam Mata Pelajaran Matematika pada Siswa SMA. Hal ini belum juga mampu menjawab persoalan yang terjadi di dunia pendidikan mengenai motivasi belajar itu sendiri.

Jika dilihat dari data statis hasil survey yang dilakukan oleh PISA (salah satu lembaga program penilaian siswa Internasional), Gurria menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Indonesia sendiri di bilang cukup baik, asumsi ini peneliti kutib dari laman Youth Corps Indonesia, menurut PISA Programme for International Student Assessment menunjukkan bahwa sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat 4 dari 72 negara yang masuk dalam urutkan data statistika assessment yang di lakukan oleh PISA, namun berdasarkan hasil (survey) yang di lakukan oleh PISA mengenai keterlibatan, keyakinan, dan motivasi siswa, dari 72 negara yang di urutkan oleh PISA Indonesia berada pada peringkat ke 63 dunia. Hasil (survey) ini menunjukkan besarnya persoalan di dunia pendidikan yang dialami Indonesia sebagai negara berkembang.[5]

Data tersebut menunjukkan betapa kurangnya motivasi belajar siswa di Indonesia. McClelland (dalam Utami [1]) menjelaskan bahwa prestasi belajar dan sikap siswa terhadap tugas – tugas sekolah dapat meningkat karena adanya motivasi belajar. Dalam arti bahwa motivasi belajar dapat membangkitkan kepuasan dalam belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa. Uno mengemukakan motivasi belajar adalah suatu daya penggerak atau dorongan yang muncul baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu yang menjadi suatu kekuatan seseorang untuk melakukan aktifitas belajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. [6].

Fenomena mengenai masalah motivasi belajar siswa juga penulis temui di SMP Islam Sedati kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto. Berdasar hasil studi literasi yang di miliki sekolah berupa anecdotal record, sebuah buku isian yang berisi tentang rekam peristiwa pelanggaran yang terjadi di kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, Data arsip yang di miliki oleh guru BK sekolah tersebut tercatat beberapa perilaku yang berhubungan dengan motivasi belajar seperti : tidak mengerjakan tugas, tidak memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru, bolos dan mengirimkan surat palsu, tidak mengikuti pelajaran, tidur di saat jam pelajaran, tidak ada di kelas, telat masuk kelas, keluar tanpa izin, dan lain sebagainya. Fenomena tersebut mengarah pada indikator motivasi belajar rendah menurut Permana seperti siswa sering terlambat datang ke kelas, siswa cenderung kurang memperhatikan pembelajaran yang disampaikan oleh guru, dan sering bolos sekolah. [7]

Menurut Soleh (dalam Syahid [8]) prestasi belajar dalam dunia pendidikan ditentukan oleh empat (4) kecerdasan yang memiliki keterkaitan dan berkontribusi besar antara satu dengan yang lain dalam usaha menggapai keberhasilan. Keempat kecerdasan tersebut terdiri atas IQ, EQ, SQ, dan Adversity Quotient atau (AQ).

Adversity Quotient adalah kegigihan dalam menghadapi segala rintangan atau kesulitan sampai menemukan cara mengatasi rintangan atau kesulitan yang dihadapi [9]. Hal ini menunjukkan bahwa dalam belajar seorang siswa tidak hanya dituntut untuk cerdas secara ilmu pengetahuan, emosi, juga sosial saja akan tetapi juga dibutuhkan kecerdasan dalam menghadapi tantangan, rintangan dan kesulitan dalam hidup. Stoltz mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki tingkat Adversity Quotient yang tinggi dapat memotivasi diri seseorang itu sendiri, sedangkan seseorang yang memiliki tingkat Adversity Quotient rendah akan menjadikan individu – individu yang mudah menyerah, pasrah, pesimistik, memiliki kecenderungan untuk bersikap negative.[9]

Dengan demikian peneliti mengajukan hipotesis bahwa ada hubungan positif antara Adversity Quotien dengan Motivasi Belajar siswa. Mengingat pentingnya Advesity Quotient didalam meningkatkan motivasi belajar siswa, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan motivasi belajar siswa kelas XI SMP Islam Sedati.

Metode Penelitian

Penelitian kali ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2015) penelitian kuantitatif merupakan tipe penelitian yang di gunakan untuk melakukan penelitian pada populasi atau sampel penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifism, penyimpulan data pada tipe penelitian ini menggunakan instrument penelitian, analisa data bersifat statistic, dan dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah di tetapkan.[4] Penelitian ini dilakukan peneliti untuk mengetahui hubungan antar variabel, sehingga tipe penelelitian ini menggunakan tipe korelasional.

Penelitian ini mengunakan 2 variabel, variable (X) bebas adversity quotient dan variable (Y) motivasi belajar. Adversity Quotient adalah kegigihan dalam menghadapi segala rintangan atau kesulitan sampai menemukan cara mengatasi rintangan atau kesulitan yang dihadapi [9]. Adversity Quotient diukur menggunakan skala Adversity Quotient berdasarkan Dimensi dasar yang mempengaruhi Adversity Quotient yakni : CO2RE yang terdiri dari Conrol (C), Origin-Ownership (O2), Reach (R), Endurance (E) [9]

Motivasi belajar adalah suatu daya penggerak atau dorongan yang muncul baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu yang menjadi suatu kekuatan seseorang untuk melakukan aktifitas belajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.(Uno, 2011). Motivasi belajar diukur menggunakan skala motivasi belajar berdasarkan empat aspek dasar motivasi belajar menurut Chernis dan Goleman (dalam Azizah [2]) yakni : Dorongan mencapai sesuatu, Komitmen, Inisiatif, dan Optimis..

Populasi Siswa kelas IX SMP Islam Sedati Ngoro dengan jumlah 128 siswa. Sedangkan Sugiyono mengemukakan sampel penelitian adalah seluruh anggota populasi sebanyak 128, yang ditentukan dengan teknik sampling jenuh yakni suatu teknik pengambilan sampel yang dimana keseluruhan anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian.[10]

Hasil penelitian dianalisis dengan analisis korelasi Product Moment Spearman. Sebelumnya dilakukan uji asumsi sebagai syarat analisis penelitian korelasional. Uji asumsi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

Hasil dan Pembahasan

Hasil Penelitian

A. Uji Asumsi

Uji asumsi merupakan uji analisis data penelitian yang digunakan untuk mengetahui normalitas dan linieritas pada variabel penelitian Hasil uji asumsi yang dilakukan peneliti menunjukkan :

Uji Normalitas

Berdasarkan isi hasil uji normalitas diketahui bahwa variabel Adversity Quotient dan variabel motivasi belajar dikatakan distribusinya normal. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi variabel Adversity Quotient adalah 0.385>0,05 sedangkan nilai signifikansi variabel motivasi belajar adalah 0.296> 0,05 dengan hasil uji normalitas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data tersebut normal. Berikut tabel output Program SPSS 21.0 :

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Adversity Quotient Motivasi belajar
N 128 128
Normal Parametersa,b Mean 77.14 118.44
Std. Deviation 7.986 16.082
Most Extreme Differences Absolute .080 .086
Positive .080 .086
Negative -.076 -.055
Kolmogorov-Smirnov Z .906 .976
Asymp. Sig. (2-tailed) .385 .296
Table 1.Uji Normalitas

Uji Linearitas

Berdasarkan hasil uji linieritas dapat diketahui nilai deviation form linierity menunjukan nilai signifikansi sebesar 0.765>0,05. Hal ini diartikan bahwa kedua data variabel tersebut linier, yang dibuktikan dengan tabel hasil uji linieritas output SPSS 21.0 di bawah ini :

ANOVA
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Motivasi belajar * Adversity Quotient Between Groups (Combined) 17628.693 35 503.677 3.045 .000
Linearity 13124.154 1 13124.154 79.338 .000
Deviation from Linearity 4504.539 34 132.486 .801 .765
Within Groups 15218.807 92 165.422
Total 32847.500 127
Table 2.Uji Linieritas

B. Hasil Uji Analisis Data

Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil uji asumsi di atas, peneliti melakukan uji hipotesi penelitian dengan menggunakan uji korelasi product moment pearson. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini terdapat hubungan positif antara Adversity Quotient dengan motivasi belajar pada siswa SMP. Berikut tabel uji korelasinya :

Correlations
Adversity Quotient Motivasi belajar
Adversity Quotient Pearson Correlation 1 .632**
Sig. (2-tailed) .000
N 128 128
Motivasi belajar Pearson Correlation .632** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 128 128
Table 3.Uji Hipotesis

Berdasarkan tabel hasil uji hipotesis dapat diketahui koefisien korelasi (rxy) pada variabel Adversity Quotient dan motivasi belajar sebesar 0,632 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Kesimpulannya bahwa terdapat hubungan positif antara variabel Adversity Quotient dengan motivasi belajar sehingga hipotesis yang diajukan peneliti dapat diterima. Hal ini diartikan bahwa semakin tinggi Adversity Quotient, maka semakin tinggi motivasi belajar siswa SMP. Sebaliknya semakin rendah Adversity Quotient, maka semakin rendah pula motivasi belajar siswa SMP.

Uji Determinasi

Peneliti juga menghitung sumbangan efektif dari Adversity Quotient terhadap motivasi belajar. Besaran pengaruh variabel Adversity Quotient terhadap motivasi belajar siswa dapat dilihat melalui tabel hasil koefisien determinan sebagai berikut :

Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .632a .400 .395 12.511
a. Predictors: (Constant), Adversity Quotient
Table 4.Tabel Uji Determinasi

Berdasarkan tabel hasil uji determinasi diatas diketahui bahwa koefisien Adjusted R Square = 0,395. Ini artinya variabel Adversity Quotient memiliki besaran pengaruh 39,5 % pada motivasi belajar siswa dan terdapat 60,5% pengaruh dari variabel lain yang mempengaruhi motivasi belajar siswa SMP Islam Sedati selain Adversity Quotient.

C. Kategorisasi

1. Mean Dan Standart Deviasi

Untuk mengetahui tingkat Adversity Quotient dan motivasi belajar, peneliti melakukan kategorisasi, dimana kategorisasi ini dari tingkat terendah dan tertinggi. Namun sebelum itu, kategorisasi ini membutuhkan nilai mean dan standart deviasi dari variable Adversity Quotient dan motivasi belajar. Dibawah ini merupakan nilai Mean dan Standart Deviasi :

Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N
Adversity Quotient 77.14 7.986 128
Motivasi belajar 118.44 16.082 128
Table 5.Nilai Mean dan Standart Deviasi

Hasil tabel di atas dapat diketahui bahwa pada variabel Adversity Quotient memiliki nilai standart deviasi 7,986 yang dapat dibulatkan menjadi 8 dan nilai mean nya sebesar 77,14 Atau jika dibulatkan menjadi 77. Sedangkan nilai standart deviasi variabel motivasi belajar yakni sebesar 16,082 atau jika dibulatkan maka nilainya yakni 16 dengan mean 118.44 jika dibulatkan menjadibesaran nilai mean 118.

2. Kategorisasi

Berdasarkan tabel Kategorisasi adversity quotient dan motivasi belajar pada SMP Islam Sedati Ngoro yang berjumlah 128 siswa. Pada variabel Adversity Quotient terdapat 10 siswa yang memiliki AQ dalam kategori “Rendah” , 100 orang dalam kategori “Sedang”, dan 18 orang dalam kategori AQ “Tinggi”. sedangkan pada variabel motivasi belajar diketahui bahwa 15 siswa memiliki motivasi belajar dalam kategori “rendah”, 71 siswa memiliki motivasi belajar dalam kategori sedang, dan 42 siswa memiliki motivasi belajar dalam kategori tinggi (tinggi”). sehingga dapat disimpulkan bahwa 78,1% siswa kelas IX SMP Islam Sedati ngoro memiliki Adversity Quotient sedang dan 55,5 % siswa kelas IX SMP Islam Sedati Ngoro memiliki motivasi belajar dalam kategori “sedang”.

Berikut Tabel Kategorisasi Output SPSS 21.0 :

Tabel 6. Kategorisasi Adversity Quotient

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Rendah 10 7.8 7.8 7.8
Sedang 100 78.1 78.1 85.9
Tinggi 18 14.1 14.1 100.0
Total 128 100.0 100.0
Tabel 6. Kategorisasi Motivasi Belajar
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Rendah 15 11.7 11.7 11.7
Sedang 71 55.5 55.5 67.2
Tinggi 42 32.8 32.8 100.0
Total 128 100.0 100.0
Table 6.

Pembahasan

Hasil analisa data penelitian ini menggunakan analisis korelasi product momentpearson dengan nilai korelasinya sebesar 0,632 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil ini dapat dikatakan bahwa hipotesis yang telah diajukan oleh peneliti dapat diterima. Hal ini diartikan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel Adversity Quotient dengan motivasi belajar. sehingga semakin tinggi Adversity Quotient, maka semakin tinggi motivasi belajar siswa SMP. Sebaliknya semakin rendah Adversity Quotient, maka semakin rendah pula motivasi belajar siswa SMP. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Utami [1] yang berjudul “Pengaruh Pelatihan Adversity Quotient Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama”. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa adanya perbedaan tingkat motivasi belajar antara sebelum dan sesudah di berikan pelatihan Adversity Quotient. Hasil ini memiliki arti bahwa pelatihan Adversity Quotient dapat meningkatkan motivasi belajar siswa SMP.[1] Penelitian Khasanah juga mendukung hasil penelitian ini pada penelitiannya yang berjudul “Hubungan Adversity Quotient dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS dan Bahasa Pada Mata Pelajaran Matematika di SMA Takhassus Al-Qur’an” menurut hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang sangat signifikan.[3]

Siswa kelas IX SMP Islam Sedati juga memiliki tingkat motivasi belajar pada kategori “sedang” hal ini dilihat pada nilai prosentase kategorisasi variabel motivasi belajar sebesar 55,5% atau 71 siswa dari 128 jumlah siswa yang ada. Namun masih terdapat siswa kelas IX SMP Islam Sedati ngoro yang memiliki motivasi belajar yang rendah karena kurangnya kegigihan dalam menghadapi rintangan atau kesulitan dalam proses tujuan pembelajaran. Pada saat proses belajar siswa kurang antusias pada pelajaran yang diberikan oleh guru, ketika mendapati soal rumit siswa lebih memilih mencontoh dari pada harus mengerjakan sendiri, sering meninggalkan kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung atau ketika jam pelajaran yang tidak disukai, ketika mendapatkan tugas siswa kerapkali menggantungkan pada rekan satu kelas yang dirasa pandai, dan lebih memilih bermain game disaat jam kosong dari pada harus memecahkan tugas pelajaran.

Jika dilihat dari hasil kategorisasi pada tabel norma dan kategorisasi variabel Adversity Quotient menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas IX SMP Islam Sedati memiliki tingkat Adversity Quotient “sedang”. Hal ini ditunjukkan oleh nilai prosentase pada tabel kategorisasi, dimana besaran nilai kategorisasi pada variabel Adversity Quotient sebesar 78,1% atau 100 dari 128 siswa. Tingkat Adversity Quotient yang sedang ini, jika dilihat dari teori Stoltz mengenai tipe – tipe Adversity Quotient siswa kelas IX SMP Islam Sedati tergolong campers atau berkemah yang merupakan ketercapaian siswa menuju suatu titik tertentu dalam tujuan belajar dan mereka merasa itu mudah mereka akan melanjutkan tujuan belajar, namun jika ia merasa bahwa itu sulit dan butuh mengorbankan banyak hal mereka akan berhenti.[9]

Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam prosesnya, yakni metode penelitian yang terbatas pada penggunaan metode penelitian kuantitatif saja, terbatasnya waktu dan subjek yang menjadi partisipan saat wawancara, serta variabel bebas yang digunakan hanya Adversity Quotient saja. Hal ini terlihat pada koefisien pengaruh Adversity Quotient terhadap motivasi belajar memiliki nilai prosentase 39,5 % sedangkan 60,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa, dan variabel-variabel ini tidak diperhitungkan dalam penelitian ini.

Kesimpulan

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti diatas dapat disimpulkan bahwa “terdapat hubungan positif antara Adversity Quotient dengan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Islam Sedati Ngoro” hal ini berdasarkan pada nilai koefisien korelasi 0,632 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Artinya semakin tinggi Adversity Quotient siswa maka semakin tinggi pula motivasi belajarnya, semakin rendah Adversity Quotient siswa maka semakin rendah pula motivasi belajar siswa. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa dari hasil uji koefisien determinasi Adjusted R Squarenya sebesar 0,395 yang artinya variabel Adversity Quotient memiliki besaran pengaruh 39,5 % pada motivasi belajar siswa.

Saran

Bagi Siswa

Peneliti berharap siswa mampu meningkatkan Adversity Quotient dan motivasi belajarnya . Baik saat menghadapi pelajaran yang rumit atau menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Upaya yang harus dilakukan yakni contohnya seperti mengadakan diskusi bersama saat menghadapi pelajaran yang sulit, berusaha selalu mengumpulkan tugas tepat waktu, aktif bertanya saat guru menjelaskan mata pelajaran disekolah. Dengan harapan siswa dapat terus berjuang menjalani proses belajar hingga mencapai tujuan yang diharapkan atapun demi menggapai cita – citanya.

Bagi Orang Tua

Orang tua diharapkan ikut berperan aktif untuk selalu memberikan semangat, nasehat, dan melakukan pengawasan pada proses belajarnya agar ketika menghadapi persoalan yang sulit ia tidak merasa gagal dan merasa bahwa orang tuanya selalu memberikan dukungan penuh padanya.

Bagi Guru

Bagi para guru SMP Islam Sedati diharapkan memberikan motivasi dan memberikan pandangan kegigihan dalam menghadapi suatu kesulitan dan tantangan dalam setiap proses belajar mengajar. di kelas Upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan Adversity Quotient yakni contohnya seperti memberikan reward bagi siswa yang mampu menyelesaikan tugas dengan cepat atau dengan menciptakan program pariwisata gratis bagi siswa yang berprestasi dan memberikan pengulangan pembelajaran pemecahan masalah soal – soal yang dirasa siswa sebagai soal yang sulit. Diharapkan siswa memiliki semangat yang gigih dalam menghadapi persoaalan yang sulit dalam proses belajar mengajar dikelas serta semakin meningkat pula prestasi belajar siswa.

Bagi Sekolah

Bagi sekolah dan para guru SMP Islam Sedati Ngoro diharapkan memberikan sosialisasi terhadap guru pengampu mata pelajaran agar selalu memberikan motivasi dan memberikan pandangan kegigihan dalam menghadapi suatu kesulitan dan tantangan dalam setiap proses belajar mengajar di kelasyakni contohnya melakukan pengembangan pada metode pembelajaran yang lebih interaktif dan meningkatkan rasa ingin tahu terhadap sesuatu pada siswa agar siswa memiliki semangat yang gigih dan bersungguh - sungguh dalam menghadapi persoaalan yang sulit dalam proses belajar mengajar dikelas serta semakin meningkat pula prestasi belajar siswa.

Bagi Peneliti Yang Akan Datang

Permasalahan mengenai motivasi belajar penting untuk diteliti kembali, penulis berharap pada peneliti yang akan datang melakukan penelitian sejenis secara lebih dalam. mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi peningkatan motivasi belajar, menggunakan metode penelitian lainnya, dan menggunakan subjek yang lebih banyak.

References

  1. S. Utami, “Pengaruh pelatihan adversity quotient untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah pertama effect of adversity quotient training to improve learning motivation among junior high school students,” vol. 6, no. 1, pp. 131–149, 2014.
  2. Azizah, “Hubungan Motivasi Belajar Dengan Kesiapan Kerja Siswa Yang Telah Mengikuti Praktek Kerja Industri Pada Siswa Kelas Xii Jurusan Tata Boga Di Smk Negeri 6 Yogyakarta,” Pengayakan, no. 37, pp. 1–4, 2017.
  3. N. Khasanah, “Hubungan Adversity Quotient dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI IPS dan Bahasa Pada Mata Pelajaran Matematika Di SMA Takhassus Al-Qur’an, Kabupaten Wonosobo.,” no. 28 (3), pp. 13–15, 2012.
  4. Ratna, “Hubungan Antara Adversity Intelligence Dengan Motivasi Belajar Dalam Mata Pelajaran Matematika Pada Siswa Kelas Xi Sma N 1 Cilimus Kabupaten Kuningan Berdasarkan pada pemeringkatan Programme for International Student Assessment ( PISA ) terakhir , kemampu,” vol. 6, no. Nomor 4, pp. 1–11, 2017.
  5. A. Gurría, “Programme Of International Students Assessment 2015,” 2015.
  6. D. H. B. Uno, Teori Motivasi & Pengkurannya. Bumi Aksara, 2011.
  7. Permana, “Indikator Motivasi Belajar,” pp. 1–120, 2019.
  8. N. Syahid, “Hubungan Antara Adversity Quotient Dan Motivasi Berprestasi Siswa Kelas Xi Ma Ali Maksum Krapyak Yogyakarta,” 2014.
  9. P. G. Stoltz, Adversity Quotient (turning obstacles into opportunities). 2004.
  10. Sugiyono, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2015.