Vol 5 (2021): August
Islamic Literature

Al-Saum: A Semantic Study of the Qur'an
Al-Saum: Suatu Kajian Semantik pada Al Quran


Ridwan Mansur
, Indonesia
Picture in here are illustration from public domain image or provided by the author, as part of their works
Published August 23, 2021
Keywords
  • ṣaum,
  • semantik,
  • Alquran

Abstract

Istilah Al-ṣaum merupakan konsep dalam Alquran dengan berbagai derivasinya seperti al-ṣiyam, taṣumu, yaum, ṣiyaman, ṣiyām, ṣauman, ṣaimin. Pemaknaan ṣauman umumnya diartikan menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya yaitu makan, minum dan hubungan sex dari mulai fajar (shubuh) sampai terbenam matahari (maghrib). Pernyataan seperti itu tentu saja masih menyisakan semacam ketidak-jelasan. Oleh karena itu penelitian ini bermaksud untuk menemukan ciri khas dari konsep al-ṣaum dalam Alquran, dengan metode yang digunakan ialah  library research, pendekatan semantik Al-Qur’an karya Toshiku Izutsu dengan langkah-langkah pertama mencari makna dasar, kedua mencari makna relasional dan yang ketiga ialah mencari world view. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa makna kata  s}aum  ialah ialah menahan, meninggalkan, diam, berhenti, membuang dan mengekang.  Pada masa  pra Islam istilah s{iyam sudah dikenal, karena memiliki tradisi berpuasa beberapa hari yang dimulai pada pertengahan bulan Sya’ban untuk menyambut musim panas dan sarana mendekatkan diri kepada tuhan mereka. Adapun makna siyām pada masa pra Islam ialah diam dan menahan, tidak bergerak, ketika Islam datang terjadi perubahan makna ṣiyam yakni ketika masa jahiliah orang-orang berpuasa sebagai suatu  cara untuk menghormati perbuatan  untuk menghormati dan memuliakan sesuatu  yang dianggap tinggi, ketika Islam datang terdapat penyempitan pemaknaan ṣiyām yakni  sebagai saran untuk menjadi orang-orang bertakwa dan meningkatkan harkat martabat.World view dari ṣiyām ini ialah meningkatkan kualitas manusia dari segi fisik dan rohani, karena dengan fisik  dan rohani yang kuat mampu memakmurkan bumi.

References

  1. ‘Ali, Jawād. Al-Mufaṣal fī Tārīkh al-‘Arab Qabl al-Islām, XVI.tk:Dār Sāqī,1422H.
  2. Abdurrahman, Risalah Wanita.Sinar Baru Algensindo:2005.
  3. Ismā’il abū ‘Abdillah al-Bukhārī, Muḥammad ibn. ṣahīh Bukḥarī,Juz.3.Damaskus:Dār ṭauq al-Najjāh,1422H.
  4. Maḥmud ibn Aḥmad, Abū Muḥammad. ‘Umdah al- Qāri ṣaḥīh al-Bukhāri, juz XIV.Beirut: Dār Iḥya al-Turath, tt.
  5. Manẓūr, Ibn. Lisān al-‘Arab Juz.12.Beirut: Dār al-ṣādr,tt.
  6. Sālim, ‘Atiyah ibn Muḥammad. Sharh Bulūghūl Marām, VII.tk: Dur ṣautiyyah,tt.
  7. Saepudin, Dindin Moh. M.Solahudin, dan Izzah Faizah Siti Rusydati Khairani, Iman Dan Amal Saleh Dalam Alquran (Studi Kajian Semantik),Jurnal Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir, Vol.2, No.1 (Juni 2017): 10-20.
  8. Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah,Vol.1.Lentera Hati, 2012.
  9. Sulaimān, Abū Dāwud. Sunan Abi> Dāwūd,juz.2.Beirut: Maktabah al-‘As{riyyah,tt.
  10. Warson Munawwir, Ahmad. al-Munawwir.Yogyakarta:Pustaka Setia, 1984.