Nafa Alif Fauziah (1), Nurfi Laili (2)
General Background: Contemporary educational institutions increasingly integrate spiritual memorization programs alongside formal academic curricula. Specific Background: Secondary students residing in Islamic boarding environments frequently encounter difficulties balancing rigorous memorization targets with daily institutional responsibilities. Knowledge Gap: Previous literature lacks sufficient empirical clarity regarding how psychological self-regulation mechanisms correlate with actual Qur'anic memorization performance among students in modern boarding settings. Aims: This study examines the statistical association between self-regulation levels and Qur'anic memorization capabilities among students at Utsman Bin Affan Islamic Boarding School. Results: Spearman correlation analysis demonstrates a strong, positive, and significant statistical association between self-regulation and memorization competence. Novelty: This research evaluates specific behavioral, motivational, and metacognitive dimensions defined by Zimmerman against actual oral performance evaluated through fluency, tajwid, and fashahah indicators within a modern boarding context. Implications: Educational administrators can utilize these findings to design targeted psychological counseling and time-management programs supporting student retention and memory consolidation.
Key Findings Highlights
Statistical correlation analysis reveals a strong positive association connecting student self-regulation levels with Qur'anic memorization competence,
Metacognitive, motivational, and behavioral dimensions operate as core psychological mechanisms driving memory retention and oral recitation performance,
Boarding school residents exhibit moderate self-regulation distributions requiring structured institutional guidance to maintain consistent daily review routines.
Keywords Self-Regulation, Memorization Competence, Qur'an Recitation, Islamic Boarding School, Spearman Correlation
Diantara bentuk rahmat Allah kepada umat manusia adalah pemberian fitrah yang suci sebagai pembimbing menuju kebaikan. Selain itu, Allah secara berkala mengutus para rasul untuk menyampaikan wahyu Al-Quran kepada manusia dan menegaskan kewajiban untuk hanya menyembah kepada-Nya. Dalam karyanya, Syekh Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah mengatakan bahwa Allah SWT meminta semua orang Islam untuk mempelajari Al-Quran melalui pembacaan, pemahaman, dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran berfungsi sebagai fondasi ilmu pengetahuan empiris yang mendorong manusia untuk mengamati ayat-ayat kauniah dan ayat-ayat nafsiah. Selain menawarkan nasihat tentang fenomena, deskripsi, dan manifestasi nyata, Al-Quran juga mendorong manusia untuk mengungkap dimensi esoteris dan mengkaji secara mendalam berbagai mukjizat dan hukum universal yang terkandung di dalamnya [1].
Selain itu, Al-Quran merupakan kitab suci yang autentisitasnya dijamin oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sejak pewahyuan kepada Nabi Muhammad Salallahu alaihi wasallam hingga saat ini, bahkan sampai akhir zaman. Penegasan ini termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa ta'ala pada Surah Al-Hijr ayat 9. Kesadaran masyarakat terhadap urgensi menghafal Al-Quran mengalami peningkatan signifikan pada era kontemporer. Hal ini mendorong berbagai lembaga pendidikan formal, mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, untuk menyelenggarakan program tahfiz Al-Quran. Sebagai langkah untuk mendukung individu dalam mengingat Al-Qur’an serta memperbaiki keterampilan hafalan mereka, sejumlah lokasi telah muncul sebagai wadah untuk belajar menghafal Al-Qur’an, seperti pesantren, madrasah diniyah, tempat tahfidz, dan lain-lain. Tempat-tempat tersebut menyediakan fasilitas bagi setiap orang yang bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an dan mengumpulkan hafalan mereka [2].
Sejalan dengan meningkatnya perkembangan para penghafal Al-Qur'an, berbagai riset telah dilakukan untuk mengkaji hal-hal mengenai kemampuan mereka dalam menghafal Al-Qur'an. Dalam perspektif teori kognitif menurut Jean Piaget, perkembangan kemampuan berpikir anak berlangsung secara bertahap sesuai dengan usia dan pengalaman yang diperoleh, perkembangan kognitif manusia berlangsung dalam empat tahap utama, yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Setiap tahap memiliki ciri khas tersendiri dalam cara berpikir dan memahami informasi. Peserta didik pada usia sekolah dasar hingga remaja berada pada tahap operasional konkret dan operasional formal, di mana mereka mulai mampu berpikir logis dan memahami simbol-simbol abstrak, termasuk bahasa dan makna ayat-ayat Al-Qur’an [3]. Dalam konteks tahfidz, pemahaman terhadap tahapan ini membantu guru menyesuaikan metode pengajaran —misalnya, siswa usia SD lebih mudah menghafal melalui pengulangan konkret seperti mendengar dan menirukan bacaan, sedangkan siswa remaja dapat diarahkan untuk memahami kandungan makna ayat agar hafalan lebih bermakna dan bertahan lama.
Dalam konteks pendidikan formal telah tersedia institusi yang mengakomodasi program Tahfidzul Qur'an, salah satunya adalah Pondok Pesantren Utsman bin Affan Sidoarjo yang mengintegrasikan kurikulum dari pemerintah dengan kurikulum pesantren. Namun, mengingat latar belakang peserta didik di sekolah berbasis kurikulum nasional yang juga berstatus sebagai santri kerap kali mereka menghadapi berbagai tantangan dalam proses menambah dan mempertahankan hafalan Al-Qur'an. Permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah kesulitan peserta didik dalam menambah hafalan. Di sisi lain, mereka juga harus melaksanakan kewajiban akademis serta tanggung jawab lainnya, seperti partisipasi dalam organisasi, jadwal aktivitas harian pondok, dan ekstrakurikuler. Mereka para santri Ponpes Utsman Bin Affan Sidoarjo berasal dari berbagai latar belakang, tidak semua berasal dari lembaga pendidikan yang berbasis agama islam sehingga masih banyak siswa yang bermalasan untuk menghafal Al-Qur’an, mereka belum teguh pendiriannya untuk menyadari bahwa dirinya mempunyai target untuk segera hafal Al-Qur’an. Rasa malas dan jenuh menjalankan aktifitas harian yang rutin dan padat juga mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengulang dan menambah hafalan Al – Qur’annya.
Berdasarkan kondisi aktual yang peneliti lakukan dengan survei awal pada santri Ponpes Utsman Bin Affan Sidoarjo dalam bentuk quisioner offline melalui kertas ditemukan sejumlah 15 orang dari 33 responden tidak mencapai target hafalan Al-Qur’an karena belum mampu mengantisipasi dan memilih waktu yang sesuai dan tepat untuk menghafal Al-Qur’an. Lebih lanjut hasil survei mengindikasikan (35%) belum mampu untuk mentasmi’kan hafalannya dengan lancar. Kemudian sebanyak (30%) ketika sedang di kondisi malas maka memutuskan untuk menunda dalam menambah hafalan. Hasil survei awal menunjukkan fenomena kurangnya kemampuan menghafal yang dapat dianalisis dengan merujuk pada teori kemampuan menghafal Al – Qur’an yang dikemukakan oleh Ahsin [4]. Diperoleh data yang berkaitan dengan capaian hafalan per bulan Mei tahun 2024 diketahui bahwa dari santri kelas VII, VIII, dan IX yang berjumlah 66 santri, yang sudah hafal 3 juz dengan baik dan benar sebanyak 10 santri (15%), yang 3 Juz namun masih kurang lancar, kadang lupa, dan ada salah pengucapan sebanyak 22 santri (33%), dan yang belum mencapai 3 Juz sebanyak 34 santri (51%). Pondok Pesantren Utsman Bin Affan menggunakan metode tahfidz ilman wa ruhan dengan pendekatan muroja’ah dan setoran hafalan menggunakan irama nahawand.
Kemampuan adalah daya mental ataupun fisik yang dimiliki seorang individu dalam melakukan aktifitas yang pada setiap individu memiliki perbedaan sedangkan menghafal adalah peruses mengulang sesuatu, yang didapat dari membaca, atau mendengar informasi kedalam ingatan agar dapat diulang kembali [5]. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian menghafal adalah berusaha meresapkan kedalam fikiran agar selalu ingat [6]. Menghafal al-Qur’an juga diartikan sebagai proses mengingat seluruh materi ayat (rincian bagian-bagiannya, seperti hukum bacaan, waqaf, dan lainlain) yang harus dihafal dan diingat secara sempurna [5]. Menghafal Al Qur’an adalah proses membaca dan mencamkan Al Qur’an tanpa melihat tulisan (diluar kepala) secara berulang-ulang agar senantiasa ingat dalam rangka memperoleh ilmunya atau suatu proses berusaha untuk mengingat Al Qur’an dengan berlandaskan kaidah tajwid yang benar [7].
Dari perspektif psikologi terdapat teori proses penyimpanan informasi menurut Atkinson-Shiffrin yakni sensory register, short term memory, dan long term memory [8]. Sensory register (register pengindraan) merupakan komponen utama dalam sistem memori yang berfungsi untuk menerima stimulus dari lingkungan secara konsisten melalui alat-alat pancaindra manusia. Short Term Memory (Memori jangka pendek) adalah sebuah sistem penyimpanan yang dapat menyimpan sejumlah informasi yang terbatas untuk beberapa detik. Long Term Memory (Memori jangka panjang) merupakan bagian dari sistem memori manusia yang dapat menyimpan informasi untuk periode yang sangat lama. Menurut Santrock, long term memory merupakan tipe memori yang memiliki kapasitas yang tidak terbatas dan durasi penyimpanan cukup lama (relatif permanen). Oleh karena itu, dalam proses menghafal Al-Qur‟an, para hafidz dan hafidzah dituntut untuk dapat memasukkan materi hafalannya ke dalam memori jangka panjang, karena informasi dalam hal ini ayat-ayat atau surah Al-Quran yang telah dihafal dan tersimpan dalam long term memory dapat dipanggil kembali saat dibutuhkan. Sehingga banyak pakar psikologi yang percaya bahwa manusia mungkin tidak pernah melupakan infromasi di dalam long term memory.
Sementara Atkinson, mengatakan memori adalah unsur perkembangan kognitif, yang memuat seluruh situasi yang di dalamnya individu serta menyimpan informasi yang diterima sepanjang waktu. Memori akan melewati tiga proses penyimpanan informasi, 1) perekaman (recording) yaitu pencatatan informasi yang didapatkan dari reseptor indera, 2) Penyimpanan (storage) adalah proses menentukan berapa lama informasi itu akan diingat dalam otak, kemudian terakhir 3) pemanggilan (retrieval) yaitu proses mengingat kembali informasi yang telah disimpan karena sedang dibutuhkan [8].
Seseorang yang mempunyai kemampuan menghafal Al-Qur’an dapat dinilai dari 3 aspek yaitu : 1. Kelancaran dalam menghafal Al-Qur’an, 2. Kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu tajwid, 3. Fashahah. [9]. Terdapat beberapa kaidah penting yang dapat membantu dalam proses menghafal Al-Qur’an, yaitu: 1. Niat yang Ikhlas. Menurut Fatmawati ikhlas adalah tujuan utama dari berbagai jenis ibadah. Ikhlas merupakan salah satu dari dua syarat yang membuat ibadah diterima [10]. 2. Menguasai Ilmu Tajwid. Menurut Ghafur bahwa ilmu tajwid sangat penting diketahui oleh seorang setiap kali membaca Al-Qur’an, terlebih jika ia ingin menghafalkannya wajib hukumnya bagi seseorang mengetahui ilmu tajwid dan juga penerapannya [10]. 3. Lancar membaca Al-Qur’an. Tidak perlu membaca terlalu lama untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur'an karena mereka yang mahir membacanya pasti mengenal dan tidak asing lagi dengan ayat-ayatnya [11]. 4. Mengikat hafalan dengan mengulang dan mengkajinya bersama – sama. Rasulullah bersabda, “Perumpamaan seorang yang menghafal al-Qur’an seperti pemilik unta yang diikat. Jika ia melepasnya, maka unta itu akan pergi.” (HR. Bukhari) [12].Seiring maraknya perkembangan penghafal Al Qur’an banyak yang mengadakan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan menghafal Al Qur’an. Pada dasarnya regulasi diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan yang benar. Regulasi diri adalah sebuah proses mengubah totalitas diri baik itu dari segi intelektual, emosional, spiritual, dan fisik agar apa yang diinginkan tercapai [13].
Menurut Zimmerman, regulasi diri mengacu pada tindakan sistematis yang diambil untuk mencapai tujuan [14]. Regulasi memiliki aspek sosial. Jika seseorang mengabaikan atau menganggap lingkungan sosial sebagai penghalang, regulasi dirinya tidak akan berhasil [15]. Regulasi diri memiliki pengaruh pada perilaku. Walaupun metakognisi dan motivasi lebih besar daripada perilaku. Namun, perilaku yang baik dan belajar yang baik memungkinkan orang untuk memilih, menyusun, dan menata lingkungan mereka untuk belajar dengan lebih baik [16]. Tiga komponen utama regulasi diri menentukan tinggi rendahnya tingkat regulasi diri. Yang pertama adalah aspek kognisi, yang menunjukkan upaya individu untuk merencanakan, menetapkan tujuan, mengatur, memonitor diri, dan mengevaluasi diri. Yang kedua adalah aspek motivasi, yang menunjukkan bahwa individu memiliki regulasi diri yang tinggi, atribusi diri, dan berminat pada tugas intrinsik. Yang ketiga adalah aspek perilaku, yang menunjukkan upaya individu untuk memilih, menstruktur, dan menciptakan lingkungan yang mengoptimalkan belajar [14]. Berdasarkan uraian di atas, regulasi diri dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir, mengatur, dan memotivasi dirinya sendiri. Regulasi diri adalah komponen penting yang memengaruhi perilaku seseorang.
Kegiatan menghafal Al-Qur'an tidak akan mengganggu aktivitas keseharian seperti sekolah, berorganisasi, dan aktifitas di luar sekolah. Para siswa harus lebih memperhatikan pengelolaan diri mereka untuk menjadi lebih baik dalam menghafal Al-Qur'an. Pengelolaan diri yang dimaksud disebut juga sebagai regulasi diri. Regulasi atau pengelolaan diri ialah kemampuan seorang individu untuk mengatur berbagai hal yang ingin dicapai dan berupa aksi mereka sendiri, bagaimana menentukan target untuk dirinya, tidak luput untuk melakukan evaluasi terhadap kesuksesan yang diraih, dan meluangkan waktu untuk memberikan reward pada dirinya sendiri atas tujuan yang telah dicapainnya [17]. Pengelolaan diri berkaitan dengan metakognitif, motivasi, dan perilaku yang berpartisipasi aktif dalam mencapai tujuan personal; ini juga berkaitan dengan pembangkitan diri dalam hal pikiran, perasaan, dan tindakan yang direncanakan, serta adanya timbal balik yang disesuaikan untuk mencapai tujuan tersebut [18].
Berdasarkan penelitian terdahulu menunjukkan hubungan positif antara pengelolaan diri dan kemampuan menghafal Al-Qur'an. Semakin tinggi tingkat pengelolaan diri maka kemampuan menghafal Al-Qur’an akan semakin tinggi pula [2].Siswa-siswi Ponpes Utsman Bin Affan, yang juga berstatus sebagai santri, mungkin tidak memiliki pengelolaan diri yang baik dalam berbagai aktivitas belajarnya. Namun, tujuan mereka berada di pondok ini adalah untuk belajar dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri mereka dalam berpikir dan dalam tindakan dan perbuatan sehari-hari. Kemampuan setiap siswa untuk menghafal Al-Qur'an juga berbeda-beda tergantung pada pengelolaan diri mereka sendiri. Keterbaruan penelitian ini terletak pada karakteristik sampel, yaitu santri Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo yang memiliki sistem pembelajaran lebih modern dan terstruktur dibandingkan pesantren di Jombang yang cenderung tradisional. Perbedaan sistem pembelajaran ini memberikan perspektif baru mengenai pengaruh regulasi diri terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an dalam konteks pesantren dengan pendekatan pendidikan yang berbeda. Dari uraian latar belakang di atas, maka disini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Regulasi Diri dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an pada santri Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo.
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menekankan analisis pada data-data yang berupa angka dan pengumpulannya melalui prosedur pengukuran serta diolah dengan analisis statistik [19]. Penelitian ini melibatkan dua variabel, yakni regulasi diri (independent variable) dan aktivitas menghafal Al-Qur’an (dependent variable). Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif korelasional, yaitu jenis penelitian yang menyelidiki bagaimana satu atau beberapa perubahan berhubungan dengan satu atau beberapa perubahan yang lain dengan tujuan utama untuk menjelaskan pentingnya tingkah laku manusia atau untuk meramalkan hasil.
Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswa Ponpes Utsman Bin Affan Sidoarjo yang berjumlah 33 siswa. Peneliti menggunakan teknik sampling jenuh untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini, di mana seluruh populasi menjadi sampel penelitian. Pemilihan teknik pengambilan sampel ini didasari oleh jumlah partisipan yang tidak terlalu besar, sehingga memungkinkan untuk melibatkan seluruh populasi sebagai responden dalam penelitian ini. Hal ini sebagaimana menurut Arikunto (2002) bahwa apabila subyeknya kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi [20]. Dengan demikian, besaran sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 responden.
Dalam penelitian ini, pengumpulan data yang digunakan yakni kuesioner skala regulasi diri. Skala regulasi diri mengadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Adlan pada tahun 2023 berdasarkan pada serangkaian aspek regulasi diri menurut teori Zimmerman meliputi metakognisi, motivasi, dan perilaku. Skala ini terdiri dari 32 item pertanyaan. Pengukuran nilai dari skala ini dilakukan menggunakan skala Likert berupa lima pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala Likert bertujuan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok mengenai fenomena sosial [21]. Skala regulasi diri mengadopsi dari instrumen berdasarkan teori Zimmerman dengan skor reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,754 [22] [18]. Instrument pegumpulan data untuk mengukur kemampuan menghafal Al-Qur’an para siswa menggunakan tes abilitas aktual dalam bentuk tes lisan yang disusun dengan beberapa indikator penilaian berdasarkan teori Munir sebagai berikut : 1. Kelancaran, 2. Tajwid, 3. Fashahah. Skor yang dipakai adalah skor 1 – 5, semakin tinggi skor berarti hafalan santri semakin baik, dilihat dari aspek kelancaran, tajwid dan fashahah [22]. Penggunaan indikator kelancaran, tajwid, dan fashahah dalam mengukur kemampuan menghafal Al-Quran diperlukan karena ketiga aspek tersebut secara komprehensif merepresentasikan kualitas hafalan yang tidak hanya mengukur kemampuan mengingat teks (kelancaran), tetapi juga ketepatan penerapan kaidah bacaan (tajwid) dan kebenaran pelafalan bahasa Arab (fashahah), sehingga penilaian yang dihasilkan mencerminkan penguasaan hafalan secara utuh sesuai dengan standar ilmu qiraah dan tahfidz. Dalam penelitian ini yang menguji kemampuan menghafal Al-Quran para santri adalah para musyrifah (pendamping) santri di pondok pesantren utsman Bin Affan Sidoarjo. Pengambilan data regulasi diri dilakukan setelah santri menjalani proses setoran hafalan rutin pada hari Ahad, 30 November 2025 pukul 09.00 WIB di Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo. Contoh setoran hafalan para santri di pondok pesantren dan bentuk alat ukur regulasi diri beserta instrumen penilaian hafalan terdapat di https://drive.google.com/drive/folders/1Jpfp9ufZETa7bhar--AVVYXvUuKiNBz7?usp=sharing .
Untuk pengujian hipotesis digunakan teknik korelasi Spearman’s rho karena data tidak berdistribusi normal. Uji korelasi bentuk Spearman’s rho adalah uji statistik non-parametrik yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel. Adapun tujuan uji hipotesis adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel pengelolaan diri dengan variabel kemampuan menghafal Al-Qur’an pada santri pondok pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo. Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskripsi dan analisis regresi linier berganda dengan bantuan Microsoft Excel dan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 23.0 for Windows.
Penelitian ini melibatkan 33 santri sebagai sampel yang diambil untuk mengukur tingkat kemampuan menghafal Al-Qur'an. Peneliti melakukan analisis data menggunakan SPSS versi 23. Beberapa tahap analisis data yang dilakukan oleh peneliti diantaranya distribusi frekusensi, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Berikut adalah hasil data penelitian yang diperoleh:
A. Hasil
1. Kategorisasi
Untuk mengetahui tingkat kemampuan menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo, peneliti membagi tiga kategori: tinggi, sedang, dan rendah. Penentuan norma penilaian dapat dilakukan setelah diketahui nilai mean (M) dan nilai standar deviasi (SD). Nilai mean kemampuan menghafal Al-Qur’an santri yaitu 12,97 dan nilai standar deviasi sebesar 1,61. Sehingga diketahui skor masing-masing kategori sebagai berikut:
Tabel 1. Kategorisasi Kemampuan Menghafal Al-Qur’an
Berdasarkan norma standar diatas, maka diperoleh 6 santri (18,2%) dengan kategori rendah, 20 santri (60,6%) pada kategori sedang, dan 7 santri (21,2%) pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menghafal Al-Qur’an para santri di di Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo didominasi oleh kategori sedang.
Begitupun juga untuk mengetahui tingkat regulasi diri di Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo, peneliti membagi tiga kategori: tinggi, sedang, dan rendah. Penentian norma penilaian dapat dilakukan setelah diketahui nilai mean (M) dan nilai standar deviasi (SD). Nilai mean kemampuan menghafal Al-Qur’an santri yaitu 133,82 dan nilai standar deviasi sebesar 20,10. Sehingga diketahui skor masing-masing kategori sebagai berikut:
Tabel 2. Kategorisasi Regulasi Diri
Berdasarkan tabel kategorisasi diatas, maka diperoleh 5 santri (15,15%) dengan kategori rendah, 22 santri (66,67%) pada kategori sedang, dan 6 santri (18,18%) pada kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi diri para santri di di Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo didominasi oleh kategori sedang.
2. Uji Asumsi
Sebelum tahap uji hipotesis dilakukan maka peneliti melakukan uji asumsi klasik sebagai prasyarat dasar dalam tahap penelitian. Uji asumsi klasik yang dilakukan yaitu uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas merupakan salah satu uji prasyarat yang penting dalam analisis statistik parametrik untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak. Sedangkan uji linearitas dilakukan sebagai pembuktian bahwa variabel bebas memiliki hubungan yang linier dengan variabel terikat.
Tabel 3. Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas pada penelitian ini berfokus pada Shapiro-Wilk. Karena menurut Sugiyono (2014) bahwa uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk digunakan dimana simulasi data tidak melebihi 50 sampel. Menurut kriteria pengambilan keputusan, sebaran data memenuhi asumsi normalitas jika nilai signifikansi di atas 0,05 dan tidak memenuhi asumsi normalitas jika nilai signifikansi di bawah 0,05 [23].
Berdasarkan hasil uji Shapiro-Wilk yang telah dilakukan, diperoleh nilai signifikansi pada varibel regulasi diri sebesar 0,003 yang menunjukkan bahwa dibawah 0,05. Sehingga disimpulkan bahwa data variabel regulasi diri tidak berdistribusi normal. Sedangkan pada nilai uji normalitas variabel kemampuan menghafal Al-Qur’an sebesar 0,24 yang menunjukkan bahwa dibawah 0,05. Hal ini menyimpulkan bahwa data variabel kemampuan menghafal Al-Qur’an tidak berdistribusi normal.
Beberapa ahli statistik menganggap bahwa data masih dapat menggunakan uji parametrik berdasarkan Central Limit Theorem yang menyatakan bahwa distribusi sampling akan mendekati distribusi normal seiring bertambahnya ukuran sampel. Namun demikian, disarankan untuk menggunakan uji non-parametrik sebagai alternatif atau sebagai pelengkap dari uji parametrik untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan valid. Metode korelasi non-parametrik seperti Spearman's Rho atau Kendall's Tau dapat digunakan sebagai alternatif dari korelasi Pearson yang membutuhkan asumsi normalitas data. Penggunaan metode non-parametrik akan memberikan hasil yang lebih valid dan dapat diandalkan mengingat kondisi data yang tidak memenuhi persyaratan.
Tabel 4. Hasil Uji Linearitas
Pada uji linearitas, kriteria pengambilan keputusan apabila nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka tidak ada hubungan yang linear dan apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka terdapat hubungan linier antara dua variabel yang diteliti.
Berdasarkan hasil uji linearitas pada tabel diatas bahwa diketahui Signifikansi Deviation from Linearity sebesar 0,965 dimana angka ini lebih besar dari 0,05. Maka dapat disimpulkan antara variabel regulasi diri dan kemampuan menghafal Al-Qur’an terdapat hubungan yang linear.
3. Uji Hipotesis
Setelah melakukan beberapa uji asumsi klasik, maka akan dilanjutkan melakukan uji hipotesis. Uji korelasi bentuk Spearman’s rho adalah uji statistik non-parametrik yang digunakan untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antara dua variabel. Pengujian ini sangat tepat digunakan apabaila data tidak memenuhi asumsi normalitas. Kriteria pengambilan keputusan dalam uji korelasi Spearman’s rho adalah jika nilai signifikansi (2-tailed) lebih besar dari 0,05 maka korelasi atau hubungan antar kedua variabel tidak ada dan jika nilai signifikansi (2-tailed) lebih kecil dari 0,05 maka terdapat korelasi atau hubungan antar kedua variabel.
Tabel 5. Hasil Uji Korelasi Spearman’s rho
Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman’s rho diatas bahwa diketahui nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000 dimana angka ini lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan yaitu adanya hubungan yang signifikan antara variabel regulasi diri dan kemampuan menghafal Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo.
Untuk menentukan tingkat kategori dari korelasi antar variabel yang diteliti dapat dilihat dari besaran nilai koefisien korelasi yang muncul dalam hasil uji korelasi menggunakan teknik rank spearman tersebut. Pedoman guna memberi label tingkat korelasi antar variabel dari nilai koefisien korelasi yang muncul di hasil pengujian korelasional dituangkan dalam tabel di bawah:
Tabel 6. Interval Koefisien Korelasi
Berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan Spearman’s rho menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,728. Hal ini mengindikasikan bahwa kekuatan korelasi antara variabel regulasi diri dan kemampuan menghafal Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo termasuk dalam kategori kuat.
Berdasarkan pengujian korelasi Spearman rho, ditemukan adanya korelasi positif yang kuat dan signifikan antara regulasi diri dengan kemampuan tahfiz Al-Qur'an. Artinya, tingkat regulasi diri pada santri berbanding lurus dengan pencapaian hafalan mereka; santri yang piawai mengatur dirinya akan menghasilkan hafalan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan regulasi diri berperan penting dalam mengelola pikiran, tindakan, dan motivasi, yang pada gilirannya menciptakan proses pembelajaran yang lebih terfokus dan berkesinambungan.
Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Adlan (2023) menegaskan hubungan signifikan antara kemampuan menghafal Al-Qur'an dan regulasi diri [22]. Selain itu, penelitian sebelumnya oleh Surroya (2022) juga menemukan dukungan pada siswa kelas VIII Ma'had MTs N 2 Kota Kediri; mereka menghasilkan nilai korelasi positif sebesar 0,982. Angka-angka menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan hafalan berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pengelolaan diri [24]. Secara garis besar, kedua studi tersebut menyimpulkan bahwa penguasaan regulasi diri yang baik memungkinkan santri untuk menetapkan tujuan, mengelola waktu, dan menggunakan strategi belajar yang lebih terarah. Pada akhirnya, ini menghasilkan hafalan yang lebih baik.
Kemampuan Santri dalam menghafal Al-Qur’an dapat dilihat melalui tiga aspek yakni kelancaran dalam menghafal Al-Qur’an, kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu tajwid dan fashahah. Hal ini tergantung pada bagaimana para Santri ini dapat mengarahkan pikiran, perasaan, dan tindakannya di tengah padatnya jadwal pesantren dan sekolah umum. Regulasi diri adalah salah satu faktor penentu bagaimana individu dalam meningkatkan kemampuannya dalam menghafal Al-Qur’an. Santri dengan regulasi diri yang baik akan memiliki kesadaran kognitif dan perencanaan yang baik, dengan mereka mampu mengetahui kapan waktu yang terbaik untuk menghafal dan seberapa banyak kapasitas ayat yang bisa diserap dalam satu waktu [24]. Tidak hanya itu, regulasi diri dapat berfungsi sebagai semangat dan tekad yang kuat dalam menghadapi tantangan dan rintangan, serta keyakinan mengenai kemampuan dirinya untuk bisa mencapai tujuan [25]. Karena selama proses menghafal Al-Qur’an pasti dituntut adanya pengulangan (muroja’ah) secara terus-menerus sehingga menjadi pemicu rasa kebosanan dan letih. Sehingga kemampuan dalam mempertahankan motivasi yang membuat kualitas hafalan tetap terjaga dan konsisten. Dan kemampuan individu dalam menghafalkan Al-Qur’an dipengaruhi oleh bagaimana Santri mampu dalam memilih, menstruktur, serta menciptakan lingkungan yang dapat mengoptimalkan belajar. Sehingga Santri yang mampu menyeleksi dan menstruktur lingkungannnya dalam proses belajar menghafal Al-Qur’an dapat memproses ayat Al-Qur’an ke dalam memori jangka panjang dan terhindar dari kesalahan tajwid maupun fashahah.
Menurut Utami bahwa regulasi diri remaja penghafal diri Al-Qur’an ialah remaja yang mengatur dirinya dengan membuat perencanaan, memiliki tujuan, mengontrol perilakunya, memiliki motivasi yang kuat, paham akan konsekuensi akan perilakunya serta berkonsisten dalam mengelola waktu sehingga target yang ditentukan akan hafalannya sesuai dengan yang direncanakan [22]. Hal ini menunjukkan bahwa regulasi diri yang baik memungkinkan Santri melakukan aktivitas rutin tanpa mengganggu target hafalan Al-Qur’annya.
Atkinson menyatakan bahwa memori merupakan komponen perkembangan kognitif yang mencakup proses perekaman (recording), penyimpanan (storage), dan pemanggilan kembali (retrieval) informasi [8]. Selama proses menghafal Al-Qur'an, para santri pertama-tama merekam ketika mereka menerima ayat melalui penglihatan dan pendengaran saat membaca maupun mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Setelah itu, informasi masuk ke tahap penyimpanan, di mana hafalan disimpan ke dalam memori melalui pengulangan terus-menerus, atau muroja'ah, agar hafalan tersimpan lebih lama dan lebih kuat dalam ingatan. Setelah hafalan tersimpan, santri melakukan pemulihan, yaitu menyetorkan hafalan atau membaca kembali ayat tanpa melihat mushaf. Dengan demikian, kemampuan santri untuk menghafal Al-Qur'an sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka untuk mempertahankan proses pengulangan, fokus perhatian, dan konsistensi dalam muroja'ah sehingga proses penyimpanan dan pemanggilan kembali ayat berjalan dengan lancar.
Selain itu, lupa atau proses pemanggilan kembali atau retrieval memori yang telah tersimpan tidak selalu berjalan lancar. Tiga komponen utama bertanggung jawab atas fenomena kelupaan ini [8]. Pertama, ingatan menjadi buruk karena tidak digunakan lagi. Kedua, efek gangguan, juga dikenal sebagai interferensi, terjadi ketika materi hafalan baru merusak atau mengganggu retensi materi yang lama. Ketiga, mekanisme penyaringan informasi terjadi ketika stimulus baru masuk. Memori jangka pendek secara otomatis memilih mana yang penting untuk diingat dan mana yang diabaikan atau dibuang dari ingatan.
Kerangka teori memori Atkinson-Shiffrin membagi proses menghafal Al-Qur'an ke dalam tiga sistem utama [8]. Dalam proses ini, indera pendengaran dan penglihatan santri mulai menerima rangsangan untuk membaca Al-Qur'an melalui sensory register (register pengindraan). Selanjutnya, data dimasukkan sebagai ingatan sementara dalam short term memory (memori jangka pendek). Santri harus terus muroja'ah karena mereka rentan hilang. hafalan dapat tersimpan lebih kuat dalam long term memory (memori jangka panjang) sehingga mudah dilafalkan kembali saat ujian setoran, dan rutinitas pengulangan inilah yang sangat penting. Alur ini sangat bergantung pada kemampuan santri untuk mengontrol diri mereka sendiri. Proses internalisasi dan pengingatan kembali ayat suci akan berjalan dengan jauh lebih baik jika santri dapat mengelola waktu, mempertahankan motivasi, dan tetap disiplin dalam muroja'ah.
Hasil penelitian ini mendukung teori regulasi diri Zimmerman [14], yang membaginya ke dalam tiga dimensi utama: perilaku, motivasi, dan metakognisi. Dimensi metakognisi memungkinkan santri untuk menetapkan tujuan, menggunakan strategi, dan mengukur kemajuan hafalan mereka. Pada dasarnya aspek metakognisi yakni individu mampu memiliki strategi tertentu yang efektif dalam memproses informasi. Dengan kemampuan metakognitif ini, waktu tahfiz dan muroja'ah dapat diatur dengan tepat, sehingga retensi memori dapat dimaksimalkan. Para santri sebenarnya memiliki kesadaran yang baik terhadap tanggung jawabnya. Mereka memiliki kemampuan untuk merencanakan target hafalan, memonitoring proses belajar, dan mengevaluasi diri. Motivasi juga sangat penting bagi santri untuk tetap gigih dan rajin menghafal meskipun jadwal pesantren padat, lelah, atau jenuh. Motivasi berfungsi sebagai dorongan psikologis untuk mencapai tujuan jangka panjang. Rendahnya dorongan internal ini selaras dengan temuan awal di lapangan, dimana beban aktivitas yang tinggi dapat menjadi pemicu rasa malas dan jenuh sebesar 30%. Selain itu, latar belakang pendidikan para santri yang beragam juga membuat sebagian dari mereka belum memiliki pendirian yang teguh untuk segera menyelesaikan target hafalannya. Terakhir, dalam hal perilaku, regulasi diri memungkinkan santri mengatur waktu dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Kondisi ini sangat membantu fokus dan rutinitas pengulangan, yang meningkatkan ingatan jangka panjang ayat Al-Qur'an. para santri berusaha menciptakan lingkungan yang mendukung dan mengatur waktu sebaik mungkin, namun pada eksekusinya seringkali tidak konsisten akibat tidak stabilnya motivasi diri.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Yang pertama adalah jumlah sampel yang sangat kecil dan penelitian ini hanya dilakukan pada satu pondok pesantren, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, penelitian ini hanya berfokus pada variabel regulasi diri dan mengabaikan variabel lain yang dapat memengaruhi kemampuan santri untuk menghafal Al-Qur'an, seperti dukungan sosial, tingkat stres, dan motivasi intrinsik.
A. Kesimpuan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tujuan dan hipotesis penelitian ini diterima. Terdapat hubungan yang positif dan signfikan antara regulasi diri dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an pada Santri di Pondok Pesantren Utsman Bin Affan Sidoarjo. Serta hubungan yang positif ini berarti bahwa semakin baik kemampuan santri dalam meregulasi dan mengelola dirinya, maka akan semakin tinggi pula kemampuan serta kualitasnya dalam menghafal Al-Qur’an.
Secara keseluruhan, para santri memiliki hafalan yang sangat baik, kokoh, dan itqan (mutlak), baik dalam hal kelancaran penyetoran, ketepatan ilmu tajwid, maupun fashahah (kefasihan). Kendala utama yang menyebabkan para santri tidak mencapai target hafalan bukan karena ketidakmampuan kognitif dalam menyerap ayat, melainkan terletak pada dinamika regulasi diri santri. Para santri memiliki kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan perencanaan target yang baik. Namun kelelahan secara fisik maupun mental karena banyaknya tugas di sekolah umum dan pesantren seringkali menyebabkan motivasi berkurang. Akhirnya, perilaku santri dalam menghafal dan muroja'ah menjadi tidak konsisten karena perbedaan antara perencanaan yang baik dan motivasi yang tidak stabil.
b. Saran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri harus meningkatkan kemampuan mereka untuk mengendalikan diri selama menghafal Al-Qur'an, terutama dalam hal mengatur waktu, mempertahankan motivasi, dan membangun konsistensi dalam muroja'ah. Selain itu, guru harus tahu kapan waktu terbaik untuk menambah hafalan agar proses menghafal dapat dilakukan dengan baik tanpa terganggu oleh kegiatan sekolah atau kegiatan pondok yang padat. Untuk menjaga semangat menghafal, guru harus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan membangun kebiasaan saling memotivasi dengan teman sebaya.
Pondok pesantren diharapkan dapat menyediakan pendampingan dan program pembinaan yang dapat membantu santri mengelola motivasi mereka, mengurangi kejenuhan, dan meningkatkan kedisiplinan dalam menghafal Al-Qur'an. Selain itu, pondok pesantren dapat menawarkan dukungan psikologis dan kegiatan evaluasi teratur untuk membantu santri meningkatkan kemampuan hafalan mereka.
Peneliti harus memperluas penelitian mereka dengan memasukkan faktor lain yang memengaruhi kemampuan menghafal Al-Qur'an, seperti dukungan sosial, manajemen waktu, kemandirian, dan keinginan untuk belajar. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan metode penelitian yang lebih beragam dan jumlah sampel yang lebih besar untuk menghasilkan hasil yang lebih mendalam dan komprehensif.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pimpinan, pengurus, dan seluruh santri Pondok Pesantrsen Utsman Bin Affan Sidoarjo yang telah memberikan izin, kerja sama, dan dukungan penuh selama proses pengambilan data penelitian. Terima kasih kepada rekan-rekan peneliti yang telah bekerja sama dengan penuh dedikasi. Saya juga sangat menghargai dukungan dari keluarga dan teman-teman yang selalu memberikan semangat dan motivasi. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
S. M. bin M. A. Syuhbah, Studi Al-Qur’an Al Karim, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002.
A. Suroyya, R. R. Suminta, and N. W. Winastuti, "Hubungan Pengelolaan Diri dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Siswa Kelas VIII di Ma’had Al-Azhar MTSN 2 Kota Kediri," Happiness: Journal of Psychological and Islamic Science, vol. 3, no. 2, Sep. 2022, doi: 10.30762/happiness.v3i2.356.
L. Hadi, F. Salsabella, M. Haniah, T. H. P. Savira, Z. Mufidah, and M. F. Suparman, "Analisis Perkembangan Kognitif dan Variasi Kecerdasan pada Siswa Tahfidz," JERCS: Journal of Education Research and Community Service, vol. 1, no. 4, pp. 339–347, 2025.
W. Ahsin, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
M. Toyyib, S. Ishaq, and N. Qomariyah, "Pembentukan Kemampuan Menghafal Surah Al Fatihah Pada Anak Usia Dini (Studi Kasus dalam keluarga Hafidzul Qur’an di Desa Tlagah)," Al-Ibrah, vol. 6, pp. 27–53, 2019.
H. Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 3rd ed., Jakarta: Pusat Bahasa Balai Pustaka, 2007.
S. Muhammad, Oase Al-Qur’an Penyejuk Kehidupan, 2nd ed., Jakarta: PT Qaf Media Kreative, 2017.
M. Polem, A. D. Cahya, I. M. Hasibuan, K. Karman, and A. H. Hermawan, "Analisis Kemampuan Mengingat Hafalan Juz ’Amma Siswa Sekolah Dasar (Ditinjau dari Teori Penyimpanan Informasi Atkinson-Shiffrin)," Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, vol. 9, no. 2, pp. 229–244, 2023.
Munir, Multimedia dan Konsep Aplikasi dalam Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2013.
R. Fatmawati, "Peran Pengurus Pondok Dalam Meningkatkan Motivasi Menghafal Al-Qur’an Santri Di Pondok Pesantren Al-Hidayah Bandar Kidul Kediri," Undergraduate thesis, IAIN Kediri, 2018.
S. Mubarokah, "Strategi Tahfidz Al-Qur’an Mu’allimin dan Mu’allimat Nahdlatul Wathan," Jurnal Penelitian Tarbawi, vol. 4, no. 1, pp. 1–17, 2019.
Amirudin, Penjelasan Kitab Sahih Bukhari, Jakarta: Pustaka Azzam, 2014.
M. A. A. Jawwad, Manajemen Waktu, Bandung: Syamil Cipta Media, 2004.
J. Zimmerman, "A Social Cognitive View of Self-Regulated Academic Learning," Journal of Educational Psychology, vol. 81, no. 3, pp. 329–339, 1989, doi: 10.1037/0022-0663.81.3.329.
N. Husna, F. N. R. Hidayati, and J. Ariati, "Regulasi Diri Mahasiswa Berprestasi," Jurnal Psikologi Undip, vol. 13, no. 1, pp. 50–63, 2014, doi: 10.14710/jpu.13.1.50-63.
K. Kusaeri and U. N. Mulhamah, "Kemampuan Regulasi Diri Siswa dan Dampaknya Terhadap Prestasi Belajar Matematika," Jurnal Review Pembelajaran Matematika, vol. 1, no. 1, pp. 31–42, 2016, doi: 10.15642/jrpm.2016.1.1.31-42.
S. Ahmar, "Hubungan antara Regulasi Diri dengan Kemampuan Berpikir Kreatif Dalam Kimia Peserta Didik Kelas XI IPA Se-Kabupaten Takalar," Undergraduate thesis, Universitas Negeri Makassar, 2016.
J. Zimmerman, "Self-Regulated Learning and Academic Achievement: An Overview," Educational Psychologist, vol. 25, no. 1, pp. 3–17, 1990, doi: 10.1207/s15326985ep2501_2.
S. Azwar, Reliabilitas dan Validitas, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001.
S. Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2010.
N. M. Adlan, "Hubungan Regulasi Diri dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Pada Santri Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an Darul Falah 3 Cukir Diwek Jombang," Undergraduate thesis, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2023.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2014.
A. Suroyya, R. R. Suminta, and N. W. Winasuti, "Hubungan Pengelolaan Diri dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Siswa Kelas VIII di Ma’had Al-Azhar MTSN 2 Kota Kediri," Happiness Journal of Psychological and Islamic Science, vol. 3, no. 2, 2022.
L. F. I. S. Sari, "Regulasi Diri Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an dalam Menjaga Kualitas Hafalan Al-Qur’an di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan," SIBERNETIK: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 1, no. 1, pp. 59–71, Jun. 2023, doi: 10.59632/sjpp.v1i1.19.