Abda’u Khoiriyatul Laily (1), Choirun Nisak Aulina (2)
General Background: Early childhood education provides the foundational stage for human resource development and moral socialization. Specific Background: Kindergarten educators frequently utilize hadith memorization programs through daily habituation routines to foster moral values. Knowledge Gap: Previous literature primarily addresses general religious learning rather than specifically examining the procedural implementation of hadith memorization for moral cultivation within kindergarten environments. Aims: This study investigates the implementation of hadith memorization practices and their association with Islamic character development among children at TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen. Results: Qualitative findings demonstrate that daily murojaah, songs, physical movements, simple explanations, and parental collaboration successfully cultivate discipline, responsibility, politeness, and emotional regulation. Novelty: This research applies a qualitative descriptive design focusing specifically on the practical integration of short hadith memorization as a core moral strategy in early childhood settings. Implications: Educational stakeholders can adopt these structured habituation methods to design comprehensive religious curricula supporting early moral growth.
Key Findings Highlights
Daily murojaah, musical integration, physical movements, and simple explanations serve as primary instructional methods for teaching religious texts to young learners,
Structured habituation practices successfully cultivate discipline, responsibility, politeness, caring behavior, and emotional regulation among kindergarten participants,
Teacher-parent collaboration through continuous coordination reinforces behavioral consistency between school environments and home settings.
Keywords Early Childhood Education, Hadith Memorization, Islamic Character, Habituation Method, Qualitative Descriptive Research
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dapat dipahami sebagai tahap awal yang sangat menentukan dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak. Pada jenjang inilah dasar-dasar sikap, kebiasaan, serta cara anak memandang dirinya dan lingkungan mulai terbentuk. Anak usia dini belum hanya belajar mengenal huruf atau angka, tetapi sedang belajar bagaimana bersikap, berinteraksi, dan memahami nilai-nilai yang ada di sekitarnya.[1]
Anak usia dini merupakan individu yang berada pada rentang usia 0–6 tahun sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada masa ini anak berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, baik dari aspek kognitif, bahasa, sosial-emosional, fisik-motorik, maupun nilai agama dan moral.[2] menurut para ahli bahwa fase golden age adalah termasuk masa emass atau dimana manusia akan mengalami masa ini hanya sekali seumur hidup, bahwa seluruh aspek termasuk potensi perkembangan pada anak akan mengalami tumbuh kembang secara optimal jika mendapatkan stimulus yang sesuai dengan usia dan kebutuhan nya.[3]
Tujuan pada Pendidikan Anak Usia Dini adalah untuk menanamkan nilai-nila karakter yang baik dan keyakinan secacra bertahap sesuai dengan perkembangan karakteristik anak. Dalam membangun karakter yang baik maka salah satu sumber yang sangat penting pada ajaran agama islam adalah hadist. Hadis bukan sekadar bersifat normatif dalam pengertian yang memerintah, melainkan juga berfungsi sebagai sumber teladan tentang bagaimana anak bersikap/berperilaku secara positif, seperti bersikap jujur, memiliki kasih sayang, bertanggung jawab, dan disiplin.[4]
Adanya pendidikan berbasis islam di usia PAUD terutama Hadist dimaksud untuk mengenalkan, menanamkan kepada anak sekaligus mengajari serta membimbing anak untuk meneladani sifat-sifat dan perilaku yang baik dan terpuji sesuai dengan ajaran agama islam dan nantinya hal ini akan berpengaruh terhadap perilaku, serta pembiasaan anak sehari-hari.[5]
Anak belum memiliki system nilai yang mapan pada tahap PAUD. Mereka belajar melalui pembiasaan, peniruan, dan pengalaman langsung dalam lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik awal, tetapi juga pada pembentukan karakter sebagai fondasi kepribadian di masa mendatang.[4] Salah satu aspek karakter yang menjadi perhatian utama dalam pendidikan berbasis keislaman adalah karakter Islami, yaitu karakter yang mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Pembentukan karakter Islami pada anak usia dini menjadi isu yang semakin relevan saat ini. Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, anak-anak semakin mudah terpapar berbagai nilai yang tidak selalu sejalan dengan ajaran agama.[6] Fenomena seperti kurangnya sopan santun, rendahnya kedisiplinan, kurangnya rasa empati, serta minimnya pembiasaan ibadah sederhana menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan Islam.[7] Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan moral anak di tahap selanjutnya.
Karakter Islami mencakup sikap jujur (shiddiq), amanah, disiplin, tanggung jawab, santun, serta kecintaan terhadap ajaran agama.[8] Nilai-nilai dalam karakter tersebut tidak dapat terbentuk secara instan, tetapi melalui proses pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan sehingga dapat membentuk kepribadian anak. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, metode pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik perkembangan anak yang masih berada di tahap berpikir konkret, sehingga penyampaian nilai dilakukan secara menyenangkan, berulang, mudah di pahami dan m udah di ingat , yakni konkret, menyenangkan, berulang, dan mudah diingat.[9]
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembiasaan nilai-nilai agama sejak dini memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan karakter anak. Penelitian yang dilakukan oleh Sari menunjukkan bahwa pembiasaan doa harian mampu meningkatkan sikap disiplin dan tanggung jawab anak di RA.[10] Penelitian lain oleh Hidayati menemukan bahwa kegiatan hafalan surat pendek dan hadis sederhana dapat membantu anak memahami nilai moral secara lebih konkret.[11] Selain itu, studi Rahmawati menyimpulkan bahwa integrasi pembelajaran agama dalam kegiatan rutin sekolah efektif dalam membentuk perilaku prososial anak.[12]
Sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada hafalan doa atau surat pendek, sedangkan kajian mengenai implementasi hafalan hadis sebagai sarana pengembangan karakter Islami pada anak usia dini masih relatif terbatas. Padahal, hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an mengandung banyak nilai praktis yang langsung berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti anjuran tersenyum, berkata baik, menjaga kebersihan, dan saling menyayangi.
Pembiasaan hafalan Hadist Di TK DWP Kepuhklagen bukanlah program baru. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari rutinitas pembelajaran pagi. Berdasarkan pengamatan awal peneliti, karakter Islami anak di sekolah ini tergolong baik. Anak-anak terbiasa mengucapkan salam, berbicara sopan kepada guru dan teman, mau berbagi, serta menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap tugas sederhana. Kondisi tersebut tidak terlepas dari penerapan hafalan hadis yang dilakukan secara konsisten dan terstruktur. Hafalan tidak hanya diucapkan, tetapi juga dijelaskan maknanya secara sederhana dan dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari.
Hadist merupakan landasan hukum islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Menurut para ulama’ menafsirkan Hadist adalah semua ucapan, perbuatan dan kejadian yang dialami Nabi Muhammad Saw. Sedangkan menurut Ulama’ fiqih memandang Hadist hanya yang terkait dengan hukum syara’ yakni segala perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi yang terkait dengan hukum.[13] Hadist merupakan sumber pokok lajaran islam dan merupakan rujukan ummat Islam dalam memahami syari’at dan mengajarkan bagaimana berakhlak sebagai seorang muslim.[14]
Hafalan hadis dalam konteks pendidikan anak usia dini dapat dipahami sebagai proses mengingat dan melafalkan sabda Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan nilai-nilai moral, kemudian menginternalisasikannya melalui pembiasaan perilaku. Hadis yang dipilih umumnya pendek, mudah diucapkan, dan relevan dengan dunia anak, seperti hadis tentang senyum sebagai sedekah, tidak boleh mudah marah, dan pentingnya kebersihan. Implementasi di TK DWP Kepuhklagen dilakukan melalui beberapa tahapan diantaranya Pengenalan hadis dengan metode lagu agar mudah diingat, Pengulangan secara rutin setiap pagi, Penjelasan makna dengan bahasa sederhana, Pemberian contoh konkret oleh guru, serta Penguatan melalui pembiasaan dalam aktivitas harian.
Metode penyampaian melalui lagu dipilih karena sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang menyukai irama dan pengulangan. Penelitian menunjukkan bahwa metode bernyanyi efektif meningkatkan daya ingat dan keterlibatan anak dalam pembelajaran nilai agama.[15] Selain itu, pengaitan hadis dengan situasi nyata di kelas merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang membantu anak memahami dan mempraktikkan nilai secara langsung.[1] Dengan demikian, hafalan hadis tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga berfungsi sebagai media internalisasi nilai karakter Islami melalui pembiasaan yang konsisten dan praktik nyata.[16]
Hal ini selaras dengan kegiatan yang telah dilaksanakan di TK DWP Kepuhklagen yaitu pengenalan hadis menggunakan metode bernyanyi, dimana anak-anak lebih mudah memahami dan menghafalkan serta tidak mudah kehilangan fokus ketika pebelajaran berlangsung, guru juga memberikan contoh terkait dengan hadis terhadap kondisi nyata di kelas, maupun lingkungan sekolah serta nantinya akan berdampak baik bagi perkembangan nilai karakter islami anak.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan penelitian ini untuk menganalisis dampak Hafalan Hadist Dalam Mengembangkan Karakter Islami Anak Usia Dini Di TK DWP Kepuhklagen. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus kajian yang secara khusus menelaah proses implementasi hafalan hadis sebagai strategi pembentukan karakter Islami dalam konteks nyata di lembaga pendidikan, bukan sekadar mengukur hasilnya. Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan penelitian ini untuk menganalisis dampak Hafalan Hadist Dalam Mengembangkan Karakter Islami Anak Usia Dini Di TK DWP Kepuhklagen
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana implementasi hafalan hadis dalam mengembangkan karakter Islami anak usia dini. Fokus penelitian bukan pada angka atau pengukuran statistik, melainkan pada proses pelaksanaan, pengalaman subjek, serta perubahan perilaku yang terjadi secara nyata di lapangan. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti mengkaji fenomena secara lebih mendalam dan kontekstual sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. [17]
Jenis penelitian deskriptif kualitatif digunakan karena penelitian ini berupaya mendeskripsikan fenomena yang terjadi secara sistematis dan faktual sesuai dengan kondisi nyata di TK DWP Kepuhklagen. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan suatu keadaan atau peristiwa apa adanya tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap objek yang diteliti. [17]
Dengan menggunakan jenis penelitian ini, peneliti dapat menjelaskan bagaimana pelaksanaan hafalan hadis dilakukan, bagaimana respons anak selama kegiatan berlangsung, serta bagaimana dampaknya terhadap perkembangan karakter Islami mereka. Menurut Moloeng, bahwa penelitian kualitatif deskriptif berusaha memahami fenomena sosial dari sudut pandang partisipan dengan cara menggambarkannya dalam bentuk kata-kata atau narasi. [18]
Penelitian ini dilaksanakan di TK DWP Kepuhklagen. Sekolah ini dipilih karena memiliki program hafalan hadis yang diterapkan secara rutin. Selain itu, berdasarkan observasi awal, program tersebut sudah berjalan secara terstruktur dan menjadi bagian dari pembiasaan harian di sekolah. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. [18]
Subjek penelitian ini meliputi Kepala sekolah, guru, anak kelompok B usia 5-6 tahun dan orang tua. Kepala sekolah dan guru dipilih karena terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan program hafalan hadis. Anak-anak menjadi subjek utama karena mereka yang mengikuti kegiatan tersebut. Sedangkan orang tua dilibatkan untuk mengetahui dampak program terhadap perilaku anak di lingkungan rumah. Dengan melibatkan beberapa pihak, data yang diperoleh diharapkan lebih lengkap dan mendukung tujuan penelitian.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Ketiga teknik ini digunakan agar data yang diperoleh lebih mendalam dan saling melengkapi. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur. Peneliti menyiapkan pedoman pertanyaan sebagai acuan, namun dalam pelaksanaannya tetap memberi kesempatan kepada informan untuk menjelaskan secara lebih luas sesuai dengan yang di alami. [19] Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, guru kelas, dan orang tua peserta didik. Melalui wawancara ini, peneliti memperoleh informasi mengenai pelaksanaan hafalan hadis, perubahan perilaku anak, serta faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan tersebut. Observasi dilakukan secara langsung pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Peneliti menggunakan observasi partisipatif pasif, yaitu hadir dalam kegiatan namun tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. [17]. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana kegiatan hafalan hadis dilaksanakan, bagaimana respons anak selama kegiatan, serta bagaimana perilaku anak dalam menerapkan nilai-nilai hadis dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung untuk memperkuat hasil wawancara dan observasi. Dokumentasi yang di ambil meliputi kegiatan pembelajaran dan catatan perkembangan anak. Menurut Moleong, dokumentasi dapat digunakan sebagai sumber data tambahan yang membantu meningkatkan keakuratan hasil penelitian. [17]
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara induktif, yaitu berdasarkan data yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisis untuk menemukan pola dan tema tertentu. [20] Penelitian ini menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul terkait implementasi hafalan hadis dan pengaruhnya terhadap perkembangan karakter Islami anak. [21]. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai sumber dan metode agar informasi yang diperoleh lebih dapat dipercaya. [17]. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari kepala sekolah, guru, dan orang tua. Triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain itu, peneliti juga melakukan member checking, yaitu mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada informan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan yang dimaksudkan oleh informan. [22]
1. Implementasi Hafalan Hadist di TK DWP Kepuhklagen
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru, Kepala sekolah dan Wali murid yang dilakukan di TK DWP Kepuhklagen pada bulan Mei-Juni 2026, Implementasi hafalan hadis di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen merupakan salah satu program pembiasaan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin sebagai upaya menanamkan karakter Islami sejak usia dini. Pelaksanaan hafalan hadis dilakukan setiap hari sebelum kegiatan inti pembelajaran dimulai. Anak-anak berkumpul bersama guru di dalam kelas, kemudian diawali dengan salam, doa dan dilanjutkan dengan murojaah hadis yang telah dipelajari sebelumnya. Setelah itu guru mengenalkan hadis baru secara bertahap. Guru membacakan hadis dengan pelafalan yang benar, kemudian anak-anak menirukan secara bersama-sama sebanyak beberapa kali hingga mulai terbiasa mengucapkannya. Pengulangan dilakukan secara konsisten setiap hari sehingga anak mampu menghafal hadis tanpa merasa terbebani.
Hal ini di perkuat oleh hasil wawancara dengan kepala sekolah yang menyatakan “Kegiatan hafalan hadis dilaksanakan secara rutin setiap hari sebelum pembelajaran inti dimulai. Kepala Sekolah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilakukan melalui murojaah hadis yang telah dipelajari, dilanjutkan dengan pengenalan hadis baru, serta pengulangan secara berkala agar anak lebih mudah mengingat hafalan”. Selain itu kepala sekolah juga mendukung kegiatan untuk selalu mengingatkan warga sekolah maupun wali murid dirumah baik itu secara langsung ketika bertemu dengan wali murid atau melalui poster hadist yang di kirim di group whatsap wali murid. Menurut Kepala Sekolah, kegiatan hafalan hadis tidak hanya bertujuan agar anak mampu menghafalkan teks hadis, tetapi juga untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam hadis. Dengan demikian, melalui kegiatan hafalan yang dilakukan secara rutin, anak diharapkan tidak hanya mampu mengingat hadis, tetapi juga dapat memahami maknanya dan membiasakan diri menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses pembelajaran, guru menggunakan metode yang bervariasi agar kegiatan menghafal menjadi menyenangkan. Salah satu metode yang sering digunakan adalah metode bernyanyi, yaitu melafalkan hadis dengan irama lagu sederhana yang mudah diingat anak. Selain itu, guru juga menggunakan gerakan tubuh yang disesuaikan dengan isi hadis sehingga anak lebih mudah memahami makna yang terkandung di dalamnya. Hadis-hadis yang diajarkan merupakan hadis-hadis pendek yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak usia dini. Materi hadis dipilih berdasarkan nilai-nilai karakter yang ingin dikembangkan, seperti tidak boleh mudah marah, menjaga kebersihan, kasih sayang, dan tersenyum. Setiap hadis diajarkan secara bertahap, dimulai dari pelafalan, penghafalan, pemahaman makna sederhana, hingga praktik nyata dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Implementasi hafalan hadis juga melibatkan peran orang tua. Guru menyampaikan hadis yang sedang dipelajari melalui grup WhatsApp wali murid sehingga orang tua dapat mendampingi anak mengulang hafalan di rumah. Sinergi antara sekolah dan keluarga membantu anak memperoleh penguatan secara berkelanjutan sehingga hafalan menjadi lebih melekat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan tersebut di perkuat oleh guru kelas yang menjelaskan “Saya membacakan hadis dengan memberikan contoh terlebih dahulu kepada anak. Guru membacakan hadis secara perlahan, kemudian anak mengikuti bacaan tersebut secara bersama-sama. Setelah itu, hadis diulang beberapa kali agar anak semakin terbiasa dan mampu mengingat hafalan dengan baik. Guru juga menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya digunakan metode yang bervariasi, seperti bernyanyi dan melakukan gerakan-gerakan sederhana yang sesuai dengan isi hadis. Penggunaan metode tersebut disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini yang cenderung lebih mudah memahami dan mengingat sesuatu melalui kegiatan yang menyenangkan”.
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa anak-anak terlihat cukup antusias dalam mengikuti kegiatan hafalan hadis. Anak tampak lebih bersemangat ketika kegiatan dilakukan dengan iringan lagu dan gerakan. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode yang menyenangkan dapat membantu menciptakan suasana belajar yang tidak monoton, sehingga anak lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan dan secara tidak langsung membantu mereka dalam mengingat hafalan hadis yang diberikan.
Selama pelaksanaan hafalan hadis di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen, guru senantiasa memberikan apresiasi kepada anak yang mampu melafalkan hadis dengan baik maupun menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan. Bentuk apresiasi yang diberikan berupa pujian, tepuk semangat, stempel/stiker prestasi serta ungkapan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya diri anak. Penguatan tersebut menciptakan suasana belajar yang hangat, menyenangkan, dan mendorong anak untuk lebih antusias mengulang hafalan tanpa merasa tertekan. Selain menilai kemampuan menghafal, guru juga memberikan penjelasan sederhana mengenai makna hadis agar anak dapat menghubungkan isi hadis dengan perilaku yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui perkembangan setiap anak, guru melakukan penilaian melalui pengamatan secara berkesinambungan selama kegiatan berlangsung. Aspek yang diamati meliputi ketepatan pelafalan hadis sesuai dengan perkembangan anak, kelancaran dalam menghafal, kemampuan mengingat kembali hadis yang telah dipelajari, serta kesediaan anak menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam hadis pada berbagai aktivitas di sekolah, seperti tidak boleh mudah marah, tersenyum, saling menyayangi dan menjaga kebersihan. Seluruh hasil pengamatan kemudian didokumentasikan dalam catatan perkembangan anak sebagai bahan evaluasi untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran, sehingga guru dapat memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Figure 1.
Gambar 1. Pengenalan Hadis dengan lagu dan gerakan kepada anak
Figure 2.
Gambar 2. Satu persatu Anak melafalkan hadis dengan lagu dan gerakan yang sudah di ajarkan oleh guru
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi hafalan hadis di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter Islami anak usia dini. Dampak tersebut tidak hanya terlihat pada kemampuan anak dalam menghafalkan hadis, tetapi juga pada perubahan sikap dan perilaku anak yang mulai mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam hadis yang dipelajari. Perubahan tersebut tampak baik ketika anak berada di lingkungan sekolah maupun di rumah berdasarkan keterangan dari orang tua. Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rosada dan Sasmanda (2015) yang menunjukkan bahwa pembiasaan Al-Qur'an dan hadis pada anak usia dini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan menghafal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islami melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut terlihat pada anak-anak di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen yang mulai menerapkan isi hadis dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Temuan tersebut di perkuat oleh keterangan kepala sekolah TK DWP Kepuhklagen, diketahui bahwa kegiatan hafalan hadis memberikan perkembangan positif terhadap karakter anak. Kepala Sekolah menyampaikan bahwa anak mulai menunjukkan sikap yang lebih disiplin, sopan, bertanggung jawab, peduli, dan mampu mengendalikan emosi. Selain itu, karakter religius, kejujuran, kasih sayang, serta kebiasaan menjaga kebersihan juga mulai terlihat dalam perilaku anak. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan hafalan hadis tidak hanya membantu anak dalam mengingat hadis, tetapi juga mendukung pembentukan karakter melalui pembiasaan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Temuan penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Aryanto dan Natsir (2025) yang menunjukkan bahwa pembiasaan menghafalkan hadis secara rutin dapat mendukung pembentukan karakter peserta didik melalui penerapan akhlak yang sesuai dengan kandungan hadis. Hal tersebut juga terlihat di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen, di mana kegiatan hafalan hadis tidak hanya meningkatkan kemampuan mengingat anak, tetapi juga mendorong mereka untuk membiasakan perilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari. [23]
Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah mampu menunjukkan sikap ramah kepada teman, anak juga mulai terbiasa tersenyum ketika berinteraksi, saling membantu apabila ada teman yang mengalami kesulitan, dan mampu mengendalikan emosi ketika terjadi perselisihan saat bermain. Perilaku tersebut muncul secara spontan tanpa harus selalu diingatkan oleh guru sehingga menunjukkan bahwa nilai-nilai hadis telah mulai diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan karakter islami juga terlihat selama proses pembelajaran. Anak mulai terbiasa mengikuti aturan kelas, duduk dengan tertib saat kegiatan hafalan berlangsung, serta mengikuti instruksi guru dengan baik. Selain itu, anak mulai memiliki rasa tanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri, seperti merapikan alat tulis, mengembalikan mainan ke tempat semula, serta menjaga kebersihan kelas setelah kegiatan belajar selesai. Guru menyampaikan bahwa perubahan tersebut tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus setiap hari. Temuan penelitian ini sejalan dengan Puspitasari dkk. (2023) yang menyatakan bahwa pembentukan karakter disiplin dan tanggung jawab pada anak berlangsung melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Proses tersebut mendorong anak untuk terbiasa mematuhi aturan serta bertanggung jawab terhadap lingkungan dan barang miliknya. [25]
Karakter peduli terhadap sesama juga mengalami perkembangan yang cukup baik. Berdasarkan hasil pengamatan, anak lebih sering berbagi makanan kepada teman, membantu teman yang kesulitan memakai sepatu, serta menghibur teman yang sedang menangis. Sikap saling menyayangi tersebut sejalan dengan hadis yang telah dipelajari mengenai pentingnya kasih sayang kepada sesama. Guru menjelaskan bahwa setelah penyampaian makna hadis, anak biasanya lebih mudah memahami contoh perilaku yang harus dilakukan sehingga pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan menghafal saja.
Selain di sekolah, perubahan perilaku anak juga dirasakan oleh orang tua di rumah. Berdasarkan hasil wawancara, beberapa orang tua menyampaikan bahwa anak mulai mengingatkan anggota keluarga untuk mengucapkan salam ketika masuk rumah, membuang sampah pada tempatnya, serta mengulang kembali hafalan hadis yang diperoleh di sekolah. Bahkan beberapa anak mampu menjelaskan secara sederhana makna hadis kepada orang tua sesuai dengan penjelasan yang diberikan guru di kelas. Hal tersebut menunjukkan adanya kesinambungan pembiasaan antara lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan Mirawati (2023) yang mengemukakan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam memperkuat pembentukan karakter anak. Pembiasaan dan keteladanan yang diberikan orang tua membantu anak menerapkan nilai-nilai yang diperoleh di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. [26]
Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua/wali murid, orang tua menyampaikan bahwa “Anak mulai terdapat perubahan positif pada perilaku nya setelah mengikuti kegiatan hafalan hadis”. Orang tua juga menyampaikan bahwa “anak mulai memahami perilaku yang baik dan mampu mengingat kembali nasihat yang terdapat dalam hadis. Perubahan tersebut terlihat dalam kebiasaan anak sehari-hari, seperti lebih sering mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, berbagi dengan orang lain, membantu orang tua, serta menunjukkan kepedulian kepada saudara dan teman”. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperoleh melalui kegiatan hafalan hadis mulai diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun demikian, hasil penelitian juga menemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan program hafalan hadis. Tidak semua anak memiliki kemampuan menghafal yang sama. Sebagian anak memerlukan waktu lebih lama untuk mengingat lafal hadis, terutama anak yang memiliki kemampuan bahasa yang masih berkembang. Selain itu, tingkat pendampingan orang tua di rumah juga berbeda-beda sehingga memengaruhi kecepatan anak dalam menghafal dan menerapkan isi hadis dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, guru mengatasi kendala tersebut dengan memberikan pengulangan secara rutin, menggunakan metode bernyanyi, gerakan sederhana, permainan edukatif, serta memberikan motivasi dan apresiasi kepada setiap anak sesuai dengan perkembangan masing-masing.
Hal ini sesuai dengan keterangan guru di lapangan bahwa salah satu kendala dalam pelaksanaan hafalan hadis adalah adanya perbedaan kemampuan menghafal pada setiap anak. Guru menjelaskan bahwa untuk mengatasi hal tersebut, kegiatan dilakukan melalui pengulangan secara rutin dengan menggunakan metode bernyanyi, gerakan, dan permainan sederhana. Guru juga memberikan motivasi serta apresiasi agar anak tetap semangat mengikuti kegiatan. Selain itu, Kepala Sekolah menyampaikan bahwa pendampingan orang tua di rumah yang berbeda-beda juga menjadi salah satu kendala. Oleh karena itu, dukungan dan pendampingan orang tua diperlukan agar hafalan hadis yang dilakukan di sekolah dapat terus diperkuat di rumah.
2. Dampak implementasi haf alan hadis dalam mengembangkan karakter islami anak usia dini di TK DWP Kepuhklagen
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi hafalan hadis di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen tidak hanya meningkatkan kemampuan menghafal hadis anak, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk karakter Islami seperti disiplin, sopan santun, tanggung jawab, kasih sayang, peduli terhadap sesama, menjaga kebersihan, serta mampu mengendalikan emosi. Keberhasilan program ini didukung oleh konsistensi pelaksanaan pembiasaan setiap hari, penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini, serta kerja sama yang baik antara guru dan orang tua dalam memberikan penguatan terhadap perilaku anak di rumah maupun di sekolah.
Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, dapat dilihat dari karakter religius tampak dari anak terbiasa mengucapkan salam saat datang di sekolah ketika masuk kelas, bertemu guru dan teman, anak mengikuti pembacaan Do’a sebelum pembelajaran dimulai maupun saat pembelajaran selesai, Do’a sebelum makan dan sesudah makan maupun Do’a pendek yang lain. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak mengenal hadist sebagai salah satu ajaran islam. Hal ini terlihat ketika beberapa anak mampu mengulang kembali hadist yang telah di hafal dan mengaitkan terhadap perilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari seperti mudah tersenyum, penyayang, lebih mudah mengontrol emosi bahkan sempat terlihat bahwa anak mengingatkan teman agar tidak boleh mudah marah ketika bertengkar, membuang sampah pada tempatnya. Perilaku religius juga terlihat pada sikap syukur yang mulai tampak seperti mengucapkan hamdalah ketika selesai makan maupun setelah menyelesaikan tugas.
Temuan penelitian ini selaras dengan hasil penelitian Nurbaiti (2020) yang menjelaskan bahwa pengembangan karakter religius pada anak dilakukan melalui kegiatan pembiasaan yang dilaksanakan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari. Kegiatan tersebut meliputi membiasakan mengucapkan salam, membaca doa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas, serta menanamkan nilai-nilai keislaman dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekolah. Pelaksanaan pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat mendorong terbentuknya sikap religius sehingga perilaku tersebut menjadi bagian dari kebiasaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. [27]
Karakter disipllin juga tampak melalui perilaku yang muncul selama kegiatan hafalan hadist berlangsung, anak mengikuti kegiatan tersebut sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan oleh guru, kegiatan dimulai anak segera menempati tempat yang duduk masing-masing. Selama proses berlangsung anak duduk dengan tertib dan memperhatikan guru ketika membacakan dan menjelaskan hadist. Berdasarkan hasil wawancara bahwa sikap tersebut dapat terbentuk melalui kegiatan yang dilakukan melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten setiap pelak sanaan hafalan hadist. Karakter disiplin anak juga tampak ketika anak mengikuti rutinitas di kelas secara berurutan mulai dari menjawab salam dari guru, membaca Do’a, mengikuti hafalan hasidt, hingga menutup kegiatan dengan Do’a bersama. Hasil penelitian ini memperkuat pendapat Yunita (2017) bahwa pembentukan karakter disiplin pada anak usia dini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pembiasaan yang dilakukan secara rutin dan berulang. Lingkungan belajar yang menerapkan aturan secara konsisten memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab, menghargai waktu, serta mematuhi tata tertib sekolah. Kebiasaan tersebut secara bertahap membentuk karakter disiplin yang tercermin dalam perilaku anak selama mengikuti kegiatan pembelajaran. [28]
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas, diketahui bahwa kegiatan hafalan hadis yang dilakukan secara rutin turut menunjukkan perubahan pada sikap disiplin dan tanggung jawab anak. Guru menjelaskan bahwa anak mulai lebih tertib dalam mengikuti kegiatan, mampu mematuhi aturan yang telah ditetapkan, serta terbiasa merapikan mainan dan alat belajar setelah digunakan. Selain itu, anak juga mulai menunjukkan tanggung jawab terhadap barang miliknya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembiasaan yang dilakukan melalui kegiatan hafalan hadis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghafal, tetapi juga dapat mendukung terbentuknya sikap disiplin dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter tanggungjawab juga tampak dari kepedulian anak dalam menjaga buku dan media pembelajaran setelah kegiatan selesai anak mengembalikan media pembelajaran, alat bermain, alat belajar pada tempat nya, anak juga merapikan barang milik nya setelah kegiatan selesai. Anak mampu melaksanakan tugas yang di berikan oleh guru seperti melaksanakan tugas sederhana, dan mengikuti instruksi sederhana selama kegiatan berlangsung. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa kegiatan hafalan hadis tidak hanya melatih kemampuan menghafal, tetapi juga membiasakan anak bertanggung jawab terhadap tugas, perlengkapan belajar, dan proses belajarnya sendiri. Hasil penelitian ini sejalan dengan Puspitasari dkk. (2023) yang menyatakan bahwa karakter tanggung jawab pada anak usia dini dapat ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari di sekolah. Kebiasaan merapikan alat belajar, menjaga kebersihan kelas, dan melaksanakan tugas sesuai arahan guru menjadi bentuk nyata yang membantu anak mengembangkan sikap tanggung jawab. [25]
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, diketahui bahwa anak mulai menunjukkan kebiasaan untuk merapikan barang yang telah digunakan dan menyelesaikan tugas sederhana sesuai dengan arahan guru. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa nilai tanggung jawab mulai diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, penanaman nilai tanggung jawab melalui hafalan hadis tidak hanya dilakukan dengan mengajarkan dan menghafalkan isi hadis, tetapi juga melalui pembiasaan dan praktik secara langsung dalam kegiatan anak di sekolah.
Karakter jujur juga tampak ketika anak mengakui kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam melafalkan hadist atau lupa tidak membaca Do’a. setelah mendapatkan bimbingan dari guru anak berusaha memperbaiki kesalahan nya Selain itu, hasil observasi menunjukkan bahwa anak mengembalikan barang milik teman yang ditemukan atau tertukar kepada pemiliknya maupun kepada guru. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa kegiatan hafalan hadis tidak hanya melatih kemampuan menghafal, tetapi juga membiasakan anak untuk bersikap jujur dalam perkataan dan perbuatannya. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Yasbiati (2019) yang menjelaskan bahwa karakter jujur pada anak usia dini terlihat dari keberanian mengatakan keadaan yang sebenarnya, mengakui kesalahan, menjaga amanah, serta menghargai barang milik orang lain. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa nilai kejujuran mulai terbentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. [29]
Karakter peduli dan kasih sayang juga terlihat melalui berbagai perilaku yang muncul selama kegiatan hafalan hadist. Anak menunjukkan kepedulian seperti membantu mengingatkan teman yang lupa dengan bacaan hadist yang sudah di hafal, tidak mengejek teman yang belum hafal hadist. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa anak mulai terbiasa meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan bersedia memaafkan teman setelah terjadi perselisihan. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa kegiatan hafalan hadis tidak hanya melatih kemampuan menghafal, tetapi juga membiasakan anak untuk memiliki rasa peduli, saling menghargai, dan menyayangi sesama teman. Temuan ini sejalan dengan penelitian Lilianti (2023) yang menyatakan bahwa pembentukan karakter pada anak usia dini dilakukan melalui pembiasaan perilaku positif di sekolah. Sikap peduli, saling menghargai, bekerja sama, dan saling menyayangi merupakan bagian dari nilai karakter yang dapat berkembang melalui kegiatan yang dilakukan secara konsisten. [30]
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, diketahui bahwa terdapat perubahan positif dalam cara anak berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Guru menyampaikan bahwa anak mulai terbiasa menggunakan bahasa yang lebih sopan, seperti mengucapkan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Selain itu, anak juga mulai menunjukkan sikap mau membantu, berbagi dengan teman, serta memperlihatkan rasa sayang kepada sesama. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai kasih sayang dan kepedulian yang dikenalkan melalui kegiatan hafalan hadis mulai terlihat dalam perilaku anak ketika berinteraksi dengan teman di lingkungan sekolah.
Hasil observasi juga menunjukkan karakter sopan santun anak terlihat ketika anak terbiasa berbicara menggunakan Bahasa yang baik dengan guru, teman serta mengucapkan tolong, maaf, terimakasih, dan permisi sesuai dengan situasi yang di hadapi. Guru menyampaikan bahwa penggunaan kata-kata tersebut terus dibiasakan sebagai bagian dari penerapan adab dalam kehidupan sehari-hari. Anak juga mengjormati guru terlihat ketika anak mendengarkan guru berbicara, meminta izin ketika meminjam atau menggunakan barang milik guru maupun teman. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Tasya dan Sitorus (2025) yang mengemukakan bahwa sikap sopan santun pada anak usia dini dapat dibentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dalam kegiatan sehari-hari. Pembiasaan tersebut meliputi penggunaan bahasa yang santun, membiasakan mengucapkan kata tolong, maaf, terima kasih, danpermisi, serta menunjukkan sikap hormat kepada guru dan orang lain. Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten membantu anak menerapkan perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. [31]
anak menikuti pelaksanaan hafalan hadis di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan karakter Islami anak usia dini. Pengaruh tersebut tidak hanya tampak pada meningkatnya kemampuan anak dalam menghafal hadis, tetapi juga pada perubahan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islami. Anak mulai terbiasa mengucapkan salam, berbicara dengan santun, berbagi dengan teman, saling membantu, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa hafalan hadis yang diterapkan secara rutin mampu menjadi sarana pembiasaan bagi anak dalam menerapkan ajaran Islam pada kehidupan sehari-hari.
Dampak implementasi hafalan hadis juga terlihat di lingkungan keluarga. Berdasarkan hasil wawancara, orang tua menyampaikan bahwa anak mulai mengulang hafalan hadis di rumah, mengajak anggota keluarga melakukan kebaikan, serta menunjukkan perilaku yang lebih sopan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang diterapkan di sekolah turut terbawa ke lingkungan keluarga sehingga membantu memperkuat pembentukan karakter Islami anak. Hasil penelitian ini mendukung temuan Mirawati (2023) yang menjelaskan bahwa keterlibatan keluarga berperan penting dalam memperkuat pembentukan karakter anak melalui pembiasaan dan keteladanan di lingkungan rumah. Hal tersebut juga ditemukan di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen, di mana anak mulai mengulang hafalan hadis, mengajak keluarga melakukan kebaikan, serta menunjukkan sikap yang lebih santun. Temuan ini menunjukkan bahwa pembiasaan yang dilakukan di sekolah mendapat penguatan dari keluarga sehingga nilai-nilai Islami lebih mudah tertanam dalam diri anak. [26]
Keterangan orang tua memperkuat temuan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua/wali murid, diketahui bahwa anak cukup sering mengulang hafalan hadis di rumah, baik setelah pulang sekolah, sebelum tidur, maupun ketika sedang bermain. Orang tua juga menyampaikan bahwa anak terkadang menceritakan kembali hadis yang telah dipelajari dan mengajarkannya kepada orang tua. Menurut orang tua, kegiatan hafalan hadis sangat membantu perkembangan anak karena pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menghafal, tetapi mulai terlihat dalam perilaku sehari-hari. Anak menjadi lebih terbiasa bersikap sopan, mau berbagi, menyayangi orang lain, disiplin, serta menjaga kebersihan. Hal ini menunjukkan bahwa pembiasaan hafalan hadis di sekolah juga mendapat dukungan melalui pengulangan dan penerapan nilai-nilainya di lingkungan keluarga.
Hasil penelitian ini mendukung temuan Rosada dan Sasmanda (2015) bahwa pembiasaan Al-Qur'an dan hadis dapat menjadi sarana penanaman karakter Islami pada anak usia dini [23]. Temuan tersebut juga diperkuat oleh Aryanto dan Natsir (2025) yang menjelaskan bahwa kegiatan hafalan hadis yang dilakukan secara berkelanjutan berkontribusi terhadap pembentukan akhlak peserta didik [24]. Selain itu, Mirawati (2023) menegaskan bahwa keterlibatan orang tua melalui pembiasaan dan keteladanan di rumah menjadi faktor penting dalam memperkuat karakter yang telah dibangun di sekolah [25].
Secara umum, implementasi hafalan hadis di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter Islami anak. Pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan membantu anak menginternalisasi nilai-nilai hadis, sehingga tidak hanya mampu menghafalkannya, tetapi juga membiasakan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Hafalan Hadis dalam Mengembangkan Karakter Islami Anak Usia Dini di TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan hafalan hadis telah berjalan dengan baik sebagai salah satu program pembiasaan keagamaan di sekolah. Kegiatan dilaksanakan secara rutin setiap hari melalui murojaah, pengenalan hadis baru, pengulangan hafalan, penjelasan makna hadis dengan bahasa yang sederhana, serta penerapan nilai-nilai hadis dalam kehidupan sehari-hari. Guru menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini, seperti bernyanyi, gerakan, keteladanan, dan pemberian penguatan positif, serta melibatkan orang tua dalam mendampingi hafalan di rumah.
Berdasarkan hasil wawancara, Kepala Sekolah berperan dalam mengarahkan dan mendukung pelaksanaan program hafalan hadis. Guru berperan dalam membimbing anak melalui metode yang menyenangkan serta melakukan pembiasaan dalam kegiatan sehari-hari. Sementara itu, orang tua berperan mendampingi anak mengulang hafalan dan menerapkan nilai-nilai hadis di rumah. Ketiga peran tersebut saling mendukung dalam membantu pembentukan karakter anak secara berkelanjutan.
Implementasi hafalan hadis memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter Islami anak. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya kebiasaan anak dalam mengucapkan salam, berbicara sopan, menjaga kebersihan, bersikap disiplin, bertanggung jawab, saling menyayangi, peduli terhadap teman, serta mampu mengendalikan emosi. Keberhasilan program didukung oleh konsistensi pembiasaan, metode pembelajaran yang menarik, keteladanan guru, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua. Meskipun terdapat kendala berupa perbedaan kemampuan menghafal dan tingkat pendampingan orang tua, kendala tersebut dapat diatasi melalui pengulangan materi dan pendampingan yang berkelanjutan sehingga hafalan hadis terbukti menjadi salah satu strategi yang efektif dalam mengembangkan karakter Islami anak usia dini.
Ucapan Terima Kasih
Alhamdulillahirabbilaalaamiin, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas limpahan waktu, kesehatan, kemudahan, rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari doa, dukungan, bimbingan, serta bantuan dari berbagai pihak, Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat dan ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kedua orang tua tercinta, yang senantiasa mencurahkan kasih sayang, doa yang tiada putus dan dukungan yang tiada henti kepada penulis. Suami tercinta, yang selalu setia mendampingi setiap proses perjalanan penulis, memberikan doa, semangat, motivasi, perhatian, serta kesabaran yang luar biasa. Terima kasih telah menjadi tempat berbagi suka dan duka serta selalu memberikan keyakinan kepada penulis untuk terus berjuang hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Dosen Pembimbing, yang dengan sabar telah memberikan bimbingan, arahan, masukan, dan motivasi selama proses penyusunan skripsi ini. Bapak/ibu Dosen yang sudah berbagi ilmu selama perkuliahan. Keluarga besar TK Dharma Wanita Persatuan Kepuhklagen, yang telah memberikan izin, kesempatan, serta membantu penulis selama pelaksanaan penelitian sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah Swt. membalas segala kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda dan senantiasa melimpahkan rahmat serta keberkahan kepada kita semua. Aamiin ya Rabbal Aaalaamiin.
Yusuf, dkk., "Pendidikan Anak Usia Dini dalam Menanamkan Nilai Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah," Journal Ilmiah Kependidikan, vol. 5, no. 3, 2025.
Suyadi, Psikologi Belajar PAUD, Yogyakarta: Pedagogia, 2010.
E. Mulyasa, Manajemen PAUD, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Zulkifli, "Konsep Pendidikan Islam terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)," Jurnal Tarbiyah Islamiyah, vol. 3, pp. 12–20, 2018.
T. Lickona, Educating for Character, New York: Bantam Books, 2013.
M. Muslich, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2011.
J. Piaget, "Development and Learning," Journal of Research in Science Teaching, vol. 2, no. 3, pp. 176–186, 1964.
R. Sari, "Pembiasaan Doa Harian dalam Meningkatkan Karakter Disiplin Anak Usia Dini," Jurnal PAUD Nusantara, vol. 3, no. 1, pp. 45–56, 2021.
N. Hidayati, "Implementasi Pembelajaran Hadis pada Anak Usia Dini dalam Membentuk Perilaku Religius," Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 115–128, 2022.
D. Rahmawati, "Integrasi Pembelajaran Agama dalam Pembentukan Karakter Anak Usia Dini," Jurnal Obsesi, vol. 7, no. 1, pp. 233–245, 2023.
Damanik, "Urgensi Studi Hadis di UIN Sumatera Utara," SHAHIH Jurnal Kewahyuan Islam, vol. 1, no. 1, pp. 83–94, 2018.
Helmi, dkk., Pendidikan Hadis pada Anak, Jakarta: Prenada Media, 2018.
Kamtini and Sitompul, "Pengaruh metode Bernyanyi Terhadap Kemampuan Mengingat Huruf dan Angka pada Anak Usia Dini," Journal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 1, 2020.
Kurniyah, "Internalisasi Nilai-nilai Hadist dalam Kegiatan Pembelajaran Anak Usia Dini di TK Cerdas Sukorejo-Kendal," Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, vol. 4, no. 1, 2025.
L. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017.
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2022.
J. W. Creswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016.
M. B. Miles, A. M. Huberman, and J. Saldaña, Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 3rd ed. Sage Publications, 2014.
V. Braun and V. Clarke, "Using Thematic Analysis in Psychology," Qualitative Research in Psychology, vol. 3, no. 2, pp. 77–101, 2006.
Y. S. Lincoln and E. G. Guba, Naturalistic Inquiry, Beverly Hills: Sage Publications, 1985.
Sasmanda Sipa and Rosada, "Pembiasaan Cinta Al-Qur’an dan Hadis Pada Anak Usia Dini Untuk Membentuk Karakter Islami Siswa Pada PAUD Nur Al-Banna Gerung," Jurnal Ilmiah Pendidikan Padagoria, vol. 1, no. 11, 2015.
Aryanto and Natsir, "Implementasi Hafalan Hadist Pendek Untuk Meningkatkan Pembentukan Karakter Santri," Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 2, no. 8, 2025.
Puspitasari, dkk., "Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Anak Kelompok B TK Muslimat Nu 001 Ponorogo," Jurnal Ilmiah Potensia, vol. 8, no. 2, 2023.
Mirawati Mira, "Peran Keluarga Dalam Pendidikan Karakter Anak Usia Dini," Jurnal Ilmiah Pendidikan Pedagogia, vol. 2, no. 9, 2023.
Nurbaiti, Rahma dkk., "Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan Aktivitas Keagamaan," Journal of Islamic Elementary Education, vol. 1, no. 2, 2020.
Yunita and Fitri, "Penerapan Disiplin Sebagai Bentuk Pembinaan Pendidikan Karakter Terhadap Anak Usia Dini," Jurnal Anak Usia Dini Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 3, no. 3, 2017.
Yasbiati dkk, "Profil Kejujuran Anak Usia 5-6 Tahun di RA-At-Taufiq Kota Tasikmalaya," Jurnal Pendidikan Anak, vol. 8, no. 2, 2019.
Lilianti dkk., "Mengoptimalkan Pembentukan Karakter Untuk Anak Usia Dini," Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 2, no. 7, 2023.
Tasya and Ahmad, "Pembentukan Karakter Sopan Santun Pada Anak Usia 4-5 Tahun," Jurnal Caksana : Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 1, no. 8, 2025.