Rizkiyah (1), Najih Anwar (2)
General Background: Mastery of Arabic vocabulary plays a crucial role in Arabic language learning and serves as a supporting factor for success in Qur'an memorization. Specific Background: Islamic boarding school students engaging in Tahfidz programs require vocabulary command to understand verse meanings and maintain long-term memory retention. Knowledge Gap: Previous literature lacks specific empirical examinations focusing directly on the correlation between vocabulary mastery and Qur'an memorization retention. Aims: This study analyzes the relationship between Arabic vocabulary mastery levels and Qur'an memorization retention among students at PPTQ Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo. Results: Pearson correlation testing yields a coefficient of 0.618, indicating a strong, positive, and significant relationship, where vocabulary mastery accounts for 38.2% of retention variance. Novelty: This research applies Information Processing Theory to examine semantic and phonological encoding mechanisms specifically within an integrated boarding school curriculum model. Implications: Educators can integrate vocabulary instruction into memorization programs to optimize cognitive encoding and facilitate memory retrieval processes.
Key Findings Highlights
Pearson correlation analysis demonstrates a strong, positive, and significant relationship connecting Arabic vocabulary mastery with Qur'an memorization retention,
Information Processing Theory explains that semantic vocabulary understanding enhances cognitive encoding and memory retrieval pathways,
Regression analysis indicates that vocabulary mastery accounts for thirty-eight point two percent of retention variance among boarding school students,
Keywords Arabic Vocabulary Mastery, Retention Of Qur'an Memorization, Information Processing Theory, Islamic Boarding School, Pearson Correlation
Proses mengulang hafalan secara terus-menerus dalam satu waktu berpotensi menimbulkan rasa jenuh, terutama apabila ayat yang dihafalkan tidak disertai dengan pemahaman terhadap maknanya. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi aspek yang sangat penting karena merupakan pintu awal dalam memahami kandungan Al-Qur'an. Bagi para penghafal Al-Qur'an, kemampuan berbahasa Arab tidak hanya membantu memahami makna ayat, tetapi juga mempermudah proses menghafal serta menjaga kualitas dan kelancaran hafalan. Hal tersebut sejalan dengan temuan penelitian terdahulu [1], [2], [3], dan [4] yang menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan bahasa Arab dengan prestasi maupun capaian hafalan tahfiz santri. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian (research gap) dalam aspek konteks, karakteristik responden, lokasi penelitian, maupun variabel yang dikaji. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak memfokuskan pembahasan pada pengaruh pembelajaran bahasa Arab terhadap pencapaian hafalan Al-Qur'an secara umum, sedangkan hubungan antara penguasaan kosakata bahasa Arab dengan retensi hafalan Al-Qur'an belum banyak dikaji secara spesifik. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kajian tersebut dengan menghadirkan fokus pada retensi hafalan Al-Qur'an sebagai unsur kebaruan penelitian. Retensi dipahami sebagai kemampuan individu dalam mempertahankan hafalan dalam jangka waktu yang relatif panjang serta mengingat kembali hafalan tersebut ketika dibutuhkan [5]. Meskipun tema mengenai bahasa Arab dan tahfiz telah banyak diteliti, penelitian ini tetap memiliki urgensi yang tinggi dalam mendukung pengembangan generasi Qur'ani. Hal ini didasarkan pada masih terbatasnya bukti empiris yang secara khusus menjelaskan hubungan antara penguasaan kosakata bahasa Arab dengan retensi hafalan Al-Qur'an pada santri. Oleh sebab itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat korelasi antara penguasaan kosakata bahasa Arab dan retensi hafalan Al-Qur'an, sekaligus menjadi kontribusi ilmiah dalam pengembangan strategi pembelajaran tahfiz yang lebih efektif.
Selain itu, kajian ini diperlukan sebagai pijakan untuk mengidentifikasi berbagai fakta yang relevan sekaligus menjadi dasar dalam menilai perkembangan penelitian serta memperkuat temuan-temuan yang telah dihasilkan oleh penelitian sebelumnya. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi fenomena penghafal Al-Qur'an yang hanya berfokus pada proses menghafal tanpa disertai pemahaman terhadap makna ayat-ayat yang dibaca. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan lemahnya retensi hafalan dalam jangka panjang. Padahal, bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam, bahkan disebut sebagai bahasa penghuni surga.[6] Penelitian ini juga diharapkan dapat membangun kembali kesadaran lembaga-lembaga pendidikan Islam mengenai pentingnya penguasaan kosakata bahasa Arab sebagai salah satu unsur yang mendukung keberhasilan peserta didik dalam memahami sekaligus menghafal Al-Qur'an. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan adanya kecenderungan bahwa santri yang memiliki penguasaan mufradat bahasa Arab lebih baik cenderung menunjukkan kemampuan mempertahankan hafalan Al-Qur'an yang lebih kuat. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan utama dilaksanakannya penelitian ini, mengingat menjaga kualitas hafalan (mutqin) dalam jangka panjang merupakan tantangan yang lebih besar dibandingkan sekadar memperoleh hafalan baru.[7] Al-Qur'an diturunkan menggunakan bahasa Arab, yaitu bahasa yang memiliki karakteristik kebahasaan yang kaya, sistematis, dan memiliki keunggulan linguistik yang tinggi.[8] Sebagai pedoman hidup bagi umat Islam, Al-Qur'an berfungsi memberikan petunjuk menuju jalan yang benar dalam setiap aspek kehidupan.[9] Oleh karena itu, kemampuan memahami bahasa Arab menjadi modal penting untuk menangkap kandungan, pesan, serta nilai-nilai yang terdapat di dalam Al-Qur'an secara lebih utuh.[10] Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjembatani kesenjangan tersebut adalah dengan mengoptimalkan pembelajaran bahasa Arab yang bersifat kontekstual, aplikatif, dan terintegrasi dengan aktivitas keagamaan santri. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan program tahfiz Al-Qur'an yang dipadukan dengan pembelajaran bahasa Arab yang menitikberatkan pada penguasaan mufradat, sehingga proses menghafal tidak hanya berorientasi pada kuantitas hafalan, tetapi juga didukung oleh pemahaman terhadap makna ayat yang dihafalkan.
Al-Qur’an sebagai kitab suci memiliki keagungan dan keindahan yang tidak tertandingi. Bagi umat Islam yang senantiasa membacanya, memahami kandungan maknanya, serta menghafalkannya, akan tumbuh semangat, kecintaan, dan motivasi spiritual yang semakin mendalam dalam berinteraksi dengan firman Allah [4]. Kemuliaan Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa penguasaan Bahasa Arab tidak hanya dipandang sebagai kemampuan berbahasa, tetapi juga sebagai bekal penting untuk memahami pesan-pesan ilahi secara lebih utuh sekaligus memperkuat dimensi spiritual dan intelektual seorang Muslim [11]. Sejalan dengan hal tersebut, Syekh Imam Abi Al-Fadil menyatakan bahwa "Allah memuliakan Bahasa Arab dengan kefasihannya di atas bahasa-bahasa lainnya" [12]. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dirancang secara sistematis agar proses belajar santri berlangsung secara efektif, tujuan pembelajaran dapat tercapai, serta kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi lebih mudah. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan ialah efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan, mengingat metode merupakan komponen penting yang turut menentukan keberhasilan proses belajar mengajar [13]. Dalam pembelajaran Bahasa Arab sendiri terdapat berbagai pendekatan yang dapat digunakan, di antaranya metode langsung (direct method) serta metode penguasaan kosakata (mufradat) melalui kegiatan membaca [14].
Salah satu komponen utama dalam pembelajaran bahasa Arab adalah mufradāt (kosakata). Penguasaan kosakata memiliki hubungan yang sangat erat dengan kemampuan berbahasa Arab sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Dalam konteks tahfiz Al-Qur’an, penguasaan kosakata bahasa Arab memberikan kontribusi penting karena dapat memudahkan santri dalam memahami makna ayat, memperlancar proses menghafal, serta membantu mempertahankan hafalan yang telah diperoleh. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa penguasaan kosakata bahasa Arab menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung percepatan hafalan Al-Qur’an. Pandangan tersebut sejalan dengan ungkapan yang dinukil dari sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Cintailah bahasa Arab karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab." Oleh sebab itu, pemahaman terhadap kosakata yang membentuk ayat-ayat Al-Qur’an memungkinkan penghafal memahami kandungan firman Allah secara linguistik, sehingga proses membaca, menghafal, dan mengulang hafalan menjadi lebih bermakna serta berkontribusi dalam memperkuat retensi hafalan. Dengan demikian, penguasaan mufradāt tidak hanya menjadi aspek penting dalam pembelajaran bahasa Arab, tetapi juga dipandang sebagai salah satu faktor yang mendukung keberhasilan seseorang dalam menghafal Al-Qur’an [15]. Namun demikian, meskipun kegiatan menghafal Al-Qur’an dilaksanakan melalui tahapan yang sistematis, masih banyak penghafal yang menghadapi kendala, salah satunya disebabkan oleh terbatasnya penguasaan kosakata bahasa Arab. Di samping itu, tantangan yang tidak kalah penting adalah menjaga hafalan agar tetap kuat dalam jangka panjang melalui proses murāja'ah dan penguatan retensi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan dalam menghafal Al-Qur’an tidak hanya bergantung pada kemampuan menghafal, tetapi juga berkaitan erat dengan mekanisme penyimpanan dan pemanggilan informasi dalam sistem memori otak [16].
Dalam proses menghafal Al-Qur’an masih terdapat berbagai tantangan yang perlu mendapat perhatian. Salah satu tantangan tersebut adalah perlunya strategi pendukung yang mampu memaksimalkan kemampuan kognitif selama proses menghafal. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran Bahasa Arab yang berorientasi pada penguasaan kosakata Al-Qur’an sehingga peserta didik tidak hanya menghafal lafaz, tetapi juga memiliki pemahaman terhadap makna yang dikandungnya. Selain itu, pada sebagian lembaga pendidikan Islam, pelaksanaan program tahfiz umumnya masih berfokus pada pencapaian jumlah hafalan, sementara aspek pengembangan fungsi kognitif, seperti kemampuan memusatkan perhatian, pemrosesan informasi verbal dan visual, serta penguatan memori jangka panjang, belum menjadi bagian yang dinilai maupun difasilitasi secara optimal. Tantangan berikutnya berkaitan dengan rendahnya daya retensi hafalan, yaitu kondisi ketika proses menghafal berlangsung relatif cepat, tetapi hafalan yang diperoleh juga mudah terlupakan apabila tidak diperkuat melalui strategi yang tepat. Temuan penelitian yang dilakukan oleh Franasa Aditya Nugraha menunjukkan bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an yang dilaksanakan secara konsisten dapat meningkatkan biomarker saraf, seperti brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dan nerve growth factor (NGF), yang berperan penting dalam proses pembelajaran, plastisitas otak, serta pembentukan memori jangka panjang.[17] Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Rahmadani dan Munirul Abidin juga mengungkapkan bahwa penguasaan kosakata Bahasa Arab memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan mempertahankan hafalan Al-Qur’an. Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Zuyyina Linda Sari dan Abdurrohim yang menyatakan bahwa penerapan metode takrār dalam program tahfiz di Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum efektif dalam meningkatkan daya simpan hafalan peserta didik. Berbagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penguasaan kosakata Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai sarana memahami kandungan Al-Qur’an, tetapi juga berpotensi memperkuat kemampuan kognitif, khususnya dalam pembentukan dan pemeliharaan memori jangka panjang. Dengan demikian, penguasaan kosakata Bahasa Arab dapat dipandang sebagai salah satu faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan retensi hafalan Al-Qur’an.
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo merupakan lembaga pendidikan Islam yang berfokus pada penyelenggaraan program tahfiz Al-Qur'an sebagai kegiatan utamanya. Menghafal Al-Qur'an dipandang sebagai salah satu bentuk ibadah yang memiliki keutamaan dan kemuliaan yang tinggi dalam ajaran Islam.[18] Keberadaan pesantren ini memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya bagi calon penghafal Al-Qur'an, karena menjadi wadah yang mendorong tumbuhnya semangat untuk mempelajari dan menghafal kitab suci. Meningkatnya minat masyarakat terhadap program tahfiz turut ditandai dengan berkembangnya berbagai lembaga pendidikan yang secara khusus menyelenggarakan pembinaan hafalan Al-Qur'an, termasuk pesantren tahfiz.[19] Melalui program yang diselenggarakan, para santri memperoleh kesempatan untuk memperdalam hafalan Al-Qur'an sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap kandungannya. Salah satu bentuk pembinaan yang diberikan adalah pembelajaran bahasa Arab, khususnya penguasaan mufradāt (kosakata), agar santri lebih mudah memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an. Keberhasilan dalam meningkatkan penguasaan kosakata tersebut memerlukan kerja sama yang baik antara asatidz sebagai pendidik dan santri sebagai peserta didik dalam proses pembelajaran.[20] Sebagai bentuk implementasi kurikulum, PPTQ Al-Madinatul Kamilah mengintegrasikan pembelajaran mufradāt bahasa Arab dengan program tahfiz Al-Qur'an secara berkesinambungan. Integrasi ini didasarkan pada pemahaman bahwa bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an yang memiliki keterkaitan erat dengan isi dan makna teks suci tersebut sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.[1][21] Melalui pendekatan tersebut, santri diharapkan tidak hanya mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya, mengingat Al-Qur'an merupakan sumber utama ajaran Islam yang penjelasannya diperkuat melalui hadis Nabi Muhammad saw.[22] Dalam pelaksanaannya, PPTQ Al-Madinatul Kamilah menyelenggarakan tiga jenjang kelas yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta didik. Jenjang pertama diperuntukkan bagi anak usia balita dengan sistem pembelajaran talaqqi. Jenjang kedua ditujukan bagi kalangan remaja melalui kelas mandiri, sedangkan jenjang ketiga diperuntukkan bagi peserta dewasa, khususnya ibu-ibu, yang juga menggunakan sistem talaqqi. Pada seluruh jenjang tersebut, pembelajaran tahfiz dipadukan dengan program penguatan bacaan Al-Qur'an melalui pembelajaran tahsin menggunakan metode Wafa.
Berdasarkan dari pemaparan tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji permasalahan utama, yaitu apakah terdapat hubungan antara tingkat penguasaan mufrodat Bahasa Arab dengan retensi hafalan Al-Qur’an pada santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo. Adapun tujuan penelitian ini adalah memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai keterkaitan antara penguasaan kosakata bahasa Arab dan retensi hafalan Al-Qur’an santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang berfokus pada pengumpulan, pengukuran, dan analisis data dalam bentuk numerik. Jenis penelitian yang diterapkan adalah penelitian korelasional, yang termasuk dalam kelompok penelitian ex post facto.[23] Arikunto menjelaskan bahwa penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui tingkat hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya melalui analisis terhadap data yang telah ada. Dalam penelitian ini, peneliti tidak melakukan perlakuan, modifikasi, maupun manipulasi terhadap data yang digunakan, melainkan mengamati kondisi sebagaimana adanya.[2] Penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel independen (X) sebagai variabel bebas dan variabel dependen (Y) sebagai variabel terikat. Variabel penelitian merupakan karakteristik atau atribut yang dapat diamati dan diukur sehingga menunjukkan adanya perbedaan nilai pada setiap objek penelitian.[24] Oleh karena itu, variabel dipahami sebagai segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti secara sistematis guna memperoleh data yang relevan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan penelitian. Penelitian ini melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penguasaan kosakata Bahasa Arab yang diukur menggunakan instrumen tes tertulis. Instrumen tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat penguasaan kosakata Bahasa Arab yang dimiliki oleh santri. Sementara itu, variabel terikat (Y) berupa retensi hafalan Al-Qur’an diukur melalui tes lisan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan hafalan Al-Qur’an pada setiap santri. Pelaksanaan tes retensi dilakukan dengan metode tasmi’, yaitu santri diminta menyetorkan hafalan dalam satu kali duduk. Penilaian difokuskan pada tiga aspek, yakni kelancaran hafalan, ketepatan penerapan kaidah tajwid, serta ketepatan urutan ayat. Sebelum digunakan dalam penelitian, seluruh butir instrumen, baik pada tes penguasaan kosakata Bahasa Arab maupun tes retensi hafalan Al-Qur’an, terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya menggunakan aplikasi SPSS. Instrumen dinyatakan valid apabila mampu mengukur aspek yang memang menjadi sasaran pengukuran.[8] Adapun materi hafalan yang dijadikan objek penelitian adalah Surah Al-Haqqah. Pendekatan penelitian ini dipilih agar mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan menyeluruh terhadap fenomena yang diteliti.[25] Selanjutnya, seluruh data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 25.0 pada sistem operasi Windows.
Dengan demikian, populasi dari penelitian mencakup keseluruhan santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo dengan jumlah 172 orang. Adapun sampel penelitian ditetapkan sebanyak 20 santri dari PPTQ Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo yang tengah mengikuti program hafalan Al-Qur’an juz 29 pada kelas remaja. Dalam pengolahan data, penelitian ini menerapkan teknik analisis statistik dengan menggunakan standar acuan numerik[1]. Data hasil penelitian ini diolah melalui teknik analisis yang mencakup analisis statistik deskriptif. Teknik tersebut digunakan untuk menilai variabel X dan Y memakai cara menjumlah persentase serta nilai mean, yang perhitungannya dilakukan mengekploitasi cara rumus dibawah[2]:
Algoritma persentase:
Deskripsi simbol diatas:
(p): angka persentase
(f): Frekuensi untuk menemukan persentasenya
(n): jumlah sampel
Rumus mencari rata-rata:
Deskripsi:
(X): Nilai rata-rata
(∑n): total semua skor
Hasil yang telah dihimpun kemudian diolah dengan menerapkan satu metode analisis data, yakni analisis korelasi Pearson, guna mengidentifikasi hubungan antara variabel X dan variabel Y melalui bantuan perangkat lunak statistik SPSS. Selanjutnya, analisis statistik inferensial digunakan untuk mendapat jawaban asumsi penelitian sekaligus menguji derajat keabsahannya deng mengaplikasikan aplikasi SPSS korelasi Pearson Product Moment (r). Uji Korelasi Pearson Product Moment (r) dimanfaatkan sebagai pengukur sejauh mana tingkat hubungan antara dua variabel berdasarkan pernyataan melalui koefisien korelasi (r). Hubungan yang terbentuk antara variabel X, yaitu penguasaan kosakata Bahasa Arab, dan variabel Y, yakni retensi hafalan Al-Qur’an, dapat menunjukkan arah positif maupun negatif. Penentuan ada atau tidaknya hubungan berlandaskan dari nilai signifikansi, mengacu pada ketentuan bahwa jika nilai signifikansinya kurang dari 0,05 berarti kedua variabel dinyatakan memiliki korelasi, sedangkan apabila nilai lebih dari 0,05 maka tidak terdapat korelasi. Apabila nilainya berada tepat pada angka 0,05, maka pengujian dapat dilanjutkan dengan membandingkan nilai koefisien korelasi Pearson menggunakan nilai r tabel. Dalam hal ini, ketika nilai koefisien Pearson lebih tinggi daripada r tabel maka kedua variabel dinyatakan berhubungan, sebaliknya jika nilai koefisien Pearson lebih kecil daripada r tabel maka hubungan antarvariabel tidak terbukti[3]. Berirkut kedudukan tingkat Hasil Uji Korelasi:
Table 1 Koefisien Korelasi
Appropriate Use and Interpretation Sama [4] .
Adapun instrumen pada penilitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penguasaan Kosakata Bahasa Arab
Salah satu kunci mempelajari keterampilan bahasa Arab adalah vocablury. Kemahiran berbahasa atau Bahasa Arab yang harus dikuasai meliputi keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis[5]. Poin penilainnya adalah mampu menerjemahkan kosakata dengan benar dengan total soal 5 pilihan ganda, mampu mengucapkan dan pemahaman mendalam kosakata dengan baik dan benar dengan jumlah 5 soal juga pilihan ganda, mampu menuliskan kosakata dengan baik dan benar dengan 5 soal pilihan ganda, dan mampu menggunakan kosakata dalam kalimat dengan benar terdiri dari 5 soal essay, pengumpulan data dilakukan dengan tes tulisan yang terdiri dari dua jenis soal yaitu pilhan ganda dan essay seperti pengumpulan data yang dilakukan jurnal[6]. Dengan ini maka tes yang dilakukan pada pengumpulan data penguasaan kosakata Bahasa Arab meliputi tes tulis dengan indikator dan rubrik penilaian pada tabel dibawah ini,
Tabel 2 Kisi-kisi Instrumen Variabel X
Tabel 3 Rubrik Penilaian Vareabel X Rubrik penilaian Penguasaan Kosakata Bahasa Arab
2. Retensi Hafalan Al-Qur’an
Instrumen kuantitatif pada tes retensi hafalan Al-Qur’an santri meliputi tes bacaan terstandarisasi (skor kelancaran, ketepatan tajwid/makhroj) dan tes retensi hafalan (tasmi' terstruktur)[7] yaitu setiap sampel disimak surat Al-Haqqah satu persatu dengan sekali duduk, tes ini dilakukan untuk mendapatkan data kekuatan retensi santri dalam membacakan dan mengakses ayat sesuai kaidah tajwid dengan benar dan tepat, data ini di ambil dengan mengunnakan indikator dan rubrik pada kedua tabel dibawah ini:
Tabel 4 Kisi-kisi Instrumen Variabel Y
Tabel5 Rubrik Penilaian Variabel Retensi Hafalan Al-Qur’an Y [8]
A. Penguasaan Kosakata Bahasa Arab
Membaca Al-Qur'an merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Lebih dari itu, seorang muslim juga didorong untuk memiliki komitmen dalam menghafal, memahami, serta mengamalkan kandungan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Upaya memahami pesan-pesan ilahi dapat dilakukan melalui berbagai ikhtiar, salah satunya dengan mempelajari makna setiap kosakata dalam bahasa Al-Qur'an (Bahasa Arab). Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo, setiap santri memiliki kewajiban untuk memenuhi target hafalan yang telah ditetapkan pada setiap semester maupun setiap tahun. Untuk mencapai target tersebut, santri menjalankan program menghafal Al-Qur'an sebanyak lima kali dalam sehari pada hari Senin hingga Jumat. Selain program tahfidz, pesantren juga menerapkan pembelajaran Bahasa Arab yang difokuskan pada penguasaan kosakata dan struktur bahasa yang terdapat dalam surah-surah yang sedang dihafalkan. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat retensi hafalan Al-Qur'an sehingga santri tidak hanya mampu menghafal ayat, surah, maupun juz secara berurutan, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap materi hafalannya. Sebagai bentuk evaluasi terhadap capaian hafalan, pesantren menyelenggarakan ujian hafalan yang dikenal dengan istilah munaqasyah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan santri dalam mencapai target hafalan yang telah ditentukan. Pelaksanaan munaqasyah dilakukan melalui tes tasmi', yaitu santri memperdengarkan hafalannya secara bergiliran di hadapan penguji dalam satu ruangan. Selanjutnya, hafalan tersebut dinilai berdasarkan standar penilaian yang telah ditetapkan oleh pihak pesantren. Berdasarkan data yang telah diolah setelah seluruh tahapan penelitian diselesaikan, peneliti memperoleh temuan yang berkaitan dengan rumusan masalah utama, yaitu apakah terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan kosakata Bahasa Arab dengan retensi hafalan Al-Qur’an pada santri. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pengumpulan data untuk variabel X (penguasaan kosakata Bahasa Arab) dilakukan melalui tes tertulis dan tes lisan, sedangkan data variabel Y (retensi hafalan Al-Qur’an) diperoleh melalui tes retensi hafalan yang diberikan kepada santri. Selanjutnya, untuk mengetahui skor akhir yang diperoleh setiap sampel penelitian, dilakukan penghitungan nilai menggunakan rumus yang telah ditetapkan: . Dan berikut data nilai santri sesudah rekab nilai setiap sampel:
Tabel 6 Data Hasil Pengambilan Data Variabel X dan Y
B. Uji validitas, rabilitas dan nilai mean dari variabel X dan Y
Korelasi Pearson Product Moment merupakan salah satu teknik analisis statistik parametrik yang digunakan untuk menentukan besarnya hubungan linear antara dua variabel melalui nilai koefisien korelasi.[31] Dalam penelitian ini, hubungan antara variabel X dan variabel Y dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment (r) bivariate guna mengetahui ada atau tidaknya keterkaitan antara penguasaan kosakata Bahasa Arab dengan retensi hafalan Al-Qur'an santri. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam pengujian hipotesis penelitian sekaligus menentukan apakah hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Sebelum dilakukan pengujian korelasi, terlebih dahulu dilaksanakan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap instrumen penelitian menggunakan aplikasi SPSS. Adapun hasil dari uji coba instrumen tersebut disajikan sebagai berikut:
a. Uji validitas, rabilitas dan nilai mean dari variabel X dan Y
Validitas instrumen pada penelitian ini ditentukan melalui analisis hubungan antara skor setiap butir pernyataan dengan skor total konstruk atau variabel yang diukur. Pengujian validitas dilakukan menggunakan metode Corrected Item-Total Correlation dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25 for Windows. Suatu butir instrumen dinyatakan valid apabila nilai (r_{hitung}) sama dengan atau lebih besar daripada (r_{tabel}) pada taraf signifikansi 5%. Sebaliknya, apabila nilai (r_{hitung}) lebih kecil daripada (r_{tabel}) pada taraf signifikansi yang sama, maka butir tersebut dinyatakan tidak valid sehingga tidak layak digunakan sebagai alat pengumpulan data penelitian. Sebelum diterapkan dalam penelitian utama, instrumen ini terlebih dahulu telah melalui uji coba kepada santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Madinatul Kamilah. Jumlah responden = 20, sehingga df = (N-2) = 18. Dasar pengambilan uji validitas pearson yaitu membandingkan nilai r hitung dengan r tabel. Jika nilai signifikansi < 0,05 = valid dan jika nilai signifikansi > 0,05 = tidak valid. Berikut kesimpulan uji validitas untuk instrumen variabel X dan Y. Setelah dilakukan uji coba terhadap penguasaan kosakata bahasa arab dan retensi hafalan Al-Qur’an dengan jumlah 20 butir soal.
Tabel 7 Validitasi soal (korelasi pearson)
Tabel 8 Tingkat validitasi data (korelasi pearson)
Gambar 1. Uji validitas korelasi pearson
Berdasarkan Tabel 8, hasil uji coba instrumen yang digunakan untuk mengukur penguasaan kosakata Bahasa Arab serta retensi hafalan Al-Qur’an terhadap 20 responden menunjukkan bahwa instrumen terdiri atas 20 butir soal. Nilai r tabel ditentukan berdasarkan distribusi r Product Moment pada taraf signifikansi (α) 0,05 dengan derajat kebebasan (df) = N – 2, yaitu 20 – 2 = 18. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh nilai r tabel sebesar 0,04. Hasil uji validitas memperlihatkan bahwa seluruh 20 butir soal memiliki nilai yang memenuhi kriteria validitas, sehingga seluruh instrumen dinyatakan valid dengan tingkat validitas mencapai 100%.
b. Uji Realibilitas (cronbach alpha)
Uji reliabilitas bertujuan untuk melihat apakah soal pada tes tulis memiliki konsistensi jika pengukuran dilakukan dengan tes tulis secara berulang. Dasar pengambilan nilai uji reliabilitas Cronbach’s Alpha, tingkat katagori skor alpha sebagai berikut: Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna, jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi, jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat, dan jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah.
Tabel 9 Tingkat kolerasi vareabel X dan Y (korelasi pearson)
Gambar 2. Uji validitas
“N of Items” adalah jumlah total soal yang diuji reabilitasnya, yaitu dengan 20 butir soal. Nilai Cronbach’s Alpha 0,750 tidak ada satu soalpun yang tidak terjawab yakni kosong, yang artinya hasil dari uji ini > 0,7 dengan demikian list soal tersebut adalah reliabel atau konsisten jika diulang pada soal yang sama dan reliabilitasnya tergolong dalam katagori tinggi.
c. Nilai Mean
a) Penguasaan Kosakata Bahasa Arab
Penguasaan kosakata Bahasa Arab menjadi salah satu aspek penting yang berperan dalam mendukung keberhasilan santri dalam memperkuat hafalan Al-Qur’an. Hal tersebut sejalan dengan pengalaman para santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo yang menjadi responden dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil pengamatan dan keterangan para santri, kemampuan memahami kosakata Bahasa Arab memberikan kemudahan dalam proses menghafal Al-Qur’an karena mereka tidak hanya mengingat susunan lafaz, tetapi juga memahami makna ayat yang dihafalkan. Sebaliknya, menghafal tanpa disertai pemahaman makna cenderung terasa lebih sulit dan kurang memberikan kesan yang mendalam terhadap hafalan. Sebagai upaya agar Bahasa Arab tidak lagi dipandang sebagai bahasa yang asing bagi para santri, pesantren menerapkan program pembelajaran Bahasa Arab yang menitikberatkan pada peningkatan penguasaan kosakata (mufradat). Melalui program tersebut, kemampuan santri dalam menguasai mufradat diharapkan semakin berkembang sehingga dapat menjadi salah satu faktor pendukung utama dalam meningkatkan kualitas dan ketahanan hafalan Al-Qur’an. Pada penelitian ini, nilai rata-rata kemampuan santri pada setiap komponen tes dihitung dengan membagi total skor yang diperoleh seluruh responden dengan jumlah sampel penelitian yang terdiri atas 20 santri. Berdasarkan hasil pengolahan data, skor kemampuan penguasaan kosakata Bahasa Arab menunjukkan bahwa nilai tertinggi yang diperoleh santri adalah 95, sedangkan nilai terendah sebesar 70. Selanjutnya, penentuan banyaknya kelas interval pada variabel X dilakukan menggunakan rumus yang telah ditetapkan dalam analisis statistik. [2]
Kelas interval = 1 + (3,3) log n, yang mana n adalah jumlah sampel yaitu 20 (log 20 = 1,30), maka:
K = 1 + (3,3) log n
= 1 + (3,3) log 20
= 1 + (3,3) 1,30
= 1 + 4,6
= 5,6 dibulatkan menjadi 6.
Lalu dicari untuk mengetahui rentangan atau selisih kelas dengan menggunakan Algoritma sebagai berikut:
Rentangan =
=
= 4,16 dibulatkan menjadi 5
Berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan, tingkat penguasaan kosakata Bahasa Arab santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah berada pada kategori cukup baik, dengan rentang nilai antara 70–79.
Oleh karena itu, pembelajaran kosakata perlu dilaksanakan melalui teknik dan metode yang tepat sehingga dapat mendukung peningkatan jumlah perbendaharaan kosakata yang dimiliki santri[9]. Maka, hasil tabel distribusi frekuensi dan persentase dari penguasaan kosakata Bahasa Arab santri Pondok Pesantren (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo, yaitu sebagai berikut:
Tabel 10 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Tes Penguasaan Kosakata Bahasa Arab(X)
Setelah diketahui data penguasaan kosakata Bahasa Arab santri pada tabel 10, kita uji parsentase dengan menggunakan rumus parsentase berikut: p = f/n x 100
Keterangan:
P = Prosentase
F = Frekuensi
N = Jumlah obyek/sampel
a. Untuk kategori sangat kurang, kurang dan cukup terdapat 0 santri: p = 0/20 x 100 = 0%
b. Untuk kategori cukup baik terdapat 11 santri p = 4/20 x 100 = 20%
c. Untuk katagori kurang baik terdapat 13 santri p = 13/20x100=65%
c. Untuk kategori baik terdapat 8 siswa p = 2/20 x 100 = 10%
d. Untuk kategori sangat baik terdapat 1 siswa p = 1/20 x 100 = 5%
Berdasarkan Tabel 7, hasil tes penguasaan kosakata Bahasa Arab yang diikuti oleh 20 santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo menunjukkan bahwa tidak terdapat santri yang memperoleh nilai sempurna (100) pada variabel X. Nilai tertinggi diperoleh oleh 1 santri dengan skor 95 (total skor 19), sedangkan 1 santri lainnya memperoleh nilai 90. Selain itu, terdapat 1 santri yang mendapatkan nilai 85. Mayoritas responden, yaitu 11 santri, memperoleh nilai 80 dengan total skor 17. Selanjutnya, sebanyak 2 santri memperoleh nilai 75 dengan total skor 15, sementara 4 santri memperoleh nilai 70 dengan skor 14 yang merupakan nilai terendah dalam tes tersebut. Berdasarkan data tersebut, selanjutnya dihitung nilai rata-rata hasil tes penguasaan kosakata Bahasa Arab yang diperoleh para santri sebagai berikut:
X =
= 79
Tabel 11 Kriteria Penilaian Variabel
Dengan demikian, data yang diperoleh dari kemampuan penguasaan kosakata Bahasa Arab santri Pondok Pesantren (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah adalah capaian mufrodat dengan hasil tes kemampuan dalam menguasai mufrodat yang telah diikuti oleh santri, poin penilainnya adalah mampu menerjemahkan kosakata dengan benar, mampu mengucapkan kosakata dengan baik dan benar, mampu menuliskan kosakata dengan baik dan benar, dan mampu menggunakan kosakata dalam kalimat dengan benar, meski masih terdapat beberapa santri yang capaiannya belum membuahkan hasil maksimal tujuan pembelajaran. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kemampuan berbicara Bahasa Arab santri berada pada kategori cukup baik. Temuan tersebut didukung oleh tingkat penguasaan kosakata Bahasa Arab santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah yang juga berada pada kategori cukup baik, yaitu pada interval nilai 70–79. Adapun rata-rata skor yang diperoleh mencapai 79, sedangkan total keseluruhan skor adalah 1.580.
Rendahnya rata-rata nilai X (79) dibandingkan Y (82) dapat disebabkan oleh beberapa faktor: (1) metode pembelajaran kosakata yang masih konvensional, (2) kurangnya latihan aplikatif dalam penggunaan kosakata dalam kalimat, (3) perbedaan kemampuan awal santri dalam berbahasa Arab. Hal ini mengindikasikan perlunya inovasi metode pembelajaran seperti metode mulazamah (Wulandari & Najih, 2024) atau metode Two Stay Two Stray (Muwafiquddin & Anwar, 2023).
b. Retensi Hafalan Al-Qur’an
Retensi hafalan adalah kekuatan memory yang perlu diperhatikan dalam sebuah kemampuan menyimpan dan mengakses ingatan saat diperlukan terutama bagi penghafal Al-Qur’an, bagi mereka tentunya menjadi cita-cita yang sangat diinginkan ketika menyelesaikan hafalan agar retensi atau memori mereka menyimpan lebih baik dan kuat dengan apa yang mereka hafalkan. Dalam penelitian ini, retensi hafalan Al-Qur’an dilambangkan sebagai variabel Y yang dianalisis setelah variabel X kemudian dianalisis tingkat kolerasi keduanya. Selanjutnya analisis data tes nilai kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an (Y) santri Pondok Pesantren (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo yaitu pemerolehan hasil tes kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an santri Pondok Pesantren (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo yang berjumlah 20 santri diketahui bahwa nilai tertinggi sebesar 95 dan nilai terendah sebesar 70. Adapun banyak kelas interval diperoleh dengan menggunakan rumus Kelas interval = 1 + (3,3) log n, yang mana n adalah jumlah sampel yaitu 20 (log 20 = 1,30), maka
= 5,6 dibulatkan menjadi 6
Kemudian untuk mengetahui rentangan kelas dilanjut dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
= = 4,1 dibulatkan menjadi 5.
Kemudian dilanjutkan dengan mencari parsentase dan nilai rata-rata pada tes retensi hafalan Al-Qur’an (Y). Maka, didapatkan tabel distribusi frekuensi dan persentase dari tingkat kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:
Tabel 12 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Tes Retensi Hafalan Al-Qur’an (Y)
Setelah diketahui data tes kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an santri pada tabel 1.12, dilakukan uji parsentase dengan menggunakan rumus parsentase berikut: p = f/n x 100
a. Untuk kategori sangat kurang, kurang dan cukup terdapat tidak ada 1 santri yang mengisi: p = 0/20 x 100 = 0%
b. Untuk kategori cukup baik terdapat 11 santri p = 11/20 x 100 = 55%
c. Untuk kategori baik terdapat 6 siswa p = 6/20 x 100 = 30%
d. Untuk kategori sangat baik terdapat 3 siswa p = 3/20 x 100 = 15%
Dari tabel 1, diketahui nilai rata-rata santri yang dicapai pada tes kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an santri adalah sebagai berikut:
Nilai rata-rata kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an =
= 82
Ketika sudah ditemukan hasil dari tes tingkat kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an yang berjumlah 20 orang santri tidak ada satu santri pun yang mencapai nilai maksimal yakni nilai 100 begitu juga pada nilai 50 dan 60. Ada 1 santri mencapai nilai 95 dengan skor total 19 sebagai nilai tertinggi, 2 santri mencapai nilai 90 dengan skor total 18, dan ada 6 santri mendapat skor 17 dengan jumlah nilai 85, sedangkan 7 santri menduduki skor 16 dengan nilai 80 dan inilah nilai santri yang menduduki nilai rata-rata, dan 2 orang santri mencapai nilai 75 dengan jumlah skor 15 dan 2 santri mendapat nilai 70 sebagai nilai terendah dengan skor total 14. Diperoleh hasil tes diatas menunjukkan bahwa jumlah tingkat kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an santri Pondok Pesantren (PPTQ) Al-Madinatul Kamilah termasuk dalam kategori baik yang terletak pada interval 82.
Tabel 13 Kriteria Penilaian Variabel
Ditemukan pada tabel 13, data yang diperoleh dari nilai kekuatan retensi hafalan Al-Qur’an santri Pondok Pesantren Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo adalah kesesuaian pelafalan dan bacaan dengan tepat sesuai kaidah tajwid dengan yang tepat dan tasmi’ dengan sekali duduk dalam perhatian poin makhraj dan kekuatan hafalannya tergolong baik atau tidak yakni dilihat dari ketangkasan/kekuatan memory dalam mengakses hafalan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan menghafal Al-Qur’an santri masih perlu untuk terus ditingkatkan, dalam hal ini sudah tergolong baik dengan jumlah rata-rata sebesar 82 dengan jumlah keseluruhan adalah 1640.
d. Analisis Data Korelasi Pearson Variabel X dan Y
Hubungan mengenai penguasaan kosakata Bahasa Arab dan retensi hafalan Al-Qur’an santri sangat erat, dimana untuk mencapai hafalan Al-Qur’an yang baik, maka dibutuhkan rentang waktu yang cukup lama, dengan ini dibutuhkan strategi supaya capaian Al-Qur’an bisa lebih memangkas waktu, adapaun setelah proses penghafalan tentu ada amanah yang jauh lebih berat yaitu menjaga dan mengikat hafalan supaya tidak rentan dan sering lupa. Merawatnya dengan upaya-upaya yang tidak jauh dari Al-Qur’an seperti berusaha menguasai arti bahasa setiap ayatnya. Apabila mufrodat dikuasai dengan baik maka retensi hafalan Al-Qur’an juga akan lebih baik, karena dia tahu apa yang sedang dia lantunkan dan apa yang ingin dia baca seakan-akan dia mengerti bahwa hafalan yang ada dalam memorynya adalah sebuah wahyu yang mengandung makna. Dimulai dari bagaimana proses dia menghafal kata demi kata arti mufrodat dari surat yang hendak dia targetkan hafal, sehingga menjadi kata, kalimat, serta sebuah ayat yang sempurna dan kita mengerti artinya. Begitupun dengan proses hafalan Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo, mereka diterapkan pembelajaran mufrodat yang bertujuan memudahkan proses hafalan dan kekuatan retensi setelah hafal, meski dalam proses itu ada sisi yang perlu sangat diperhatikan yaitu bagaimana santri jeli dengan susunan kalimat kosakata yang ada dalam setiap ayatnya. Sehingga, proses pelafalan artikulasi bunyi dalam pembacaan semakin baik dan faham. Hal ini ditunjang oleh pendapat Afif yang mengatakan bahwa, “Kualitas seseorang dalam menghafal Al-Qur’an dapat memengaruhi kemampuan berbahasa yang bersangkutan, begitu pun sebaliknya[2]. Kualitas hafalan Al-Qur’an santri dapat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai bahasa yang dihafalnya. Berdasarkan data di lapangan, santri yang lebih menguasai mufrodat Bahasa Arab dari segi arti juga memiliki tingkat hafalan yang lancar dan mudah di akses. Dalam hal ini, tingkat pengusaan kosakata santri dengan retensi hafalan mereka masih saling menyempurnakan dan bisa memilki tingkat kolerasi tergolong sangat baik. Oleh karena itu, diantara sisi yang perlu diperhatikan oleh pengampu dan santri itu sendiri adalah kesadaran, pembiasaan, serta motivasi dari lingkungannya dan dari diri sendiri. Untuk menguatkan hasil data dalam korelasinya serta menguji kebenaran hipotesis tersebut digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian, maka berikut ini tabel nilai dari kedua variabel tersebut:
Tabel14 Tingkat kolerasi vareabel X dan Y (korelasi pearson)
Gambar 3. Korelasi data X dan Y
Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis di atas, maka H₀ ditolak dan H₁ diterima yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan kosakata Bahasa Arab Pondok Pesantren Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo dengan retensi hafalan Al-Qur’an mereka, keeratan hubungan antar kedua variabel tersebut dapat diketahui melalui tabel interpretasi r pearson product moment berikut ini:
Tabel 15 Interpretasi Nilai r Product Moment
Setelah melakukan tes secara langsung dan menganalisis kedua variabel tersebut menggunakan teknik statistik deskriptif dan inferensial dengan uji korelasi pearson product moment (r) jenis bivariate, diketahui bahwa nilai korelasi pearson atau rxy adalah 0,618 yang terletak pada interval 0,60-0,799 menunjukkan sifat positif bahwa nilai interpretasinya kuat atau tinggi dengan thitung (3,146) > ttabel (2,120). Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penguasaan kosakata Bahasa Arab dan retensi hafalan Al-Qur’an Santri Pondok Pesantren Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo memiliki hubungan atau korelasi yang signifikan dan bersifat positif (kuat) yang dinyatakan dengan H₀ ditolak dan H₁ diterima.
Nilai korelasi Pearson sebesar 0,618 (kategori kuat) menunjukkan bahwa penguasaan kosakata Arab memiliki hubungan positif yang signifikan dengan retensi hafalan Al-Qur'an. Secara teoritis, hubungan ini dapat dijelaskan melalui Teori Pemrosesan Informasi (Information Processing Theory). Menurut teori ini, informasi yang memiliki makna (meaningful information) akan diproses lebih dalam dan disimpan dalam memori jangka panjang dengan lebih baik dibandingkan informasi yang dihafal secara mekanis (rote learning)."
Ketika santri memahami makna kosakata dalam ayat yang dihafal, terjadi proses encoding yang lebih kaya. Informasi tidak hanya disimpan sebagai bunyi (fonologis), tetapi juga sebagai makna (semantis). Hal ini menciptakan lebih banyak jalur asosiatif dalam memori, sehingga memudahkan proses retrieval (pemanggilan kembali) saat diperlukan (Makinuddin, 2023). Temuan ini mengkonfirmasi pendapat Tawakkal dkk. (2022) yang menyatakan bahwa bahasa Arab merupakan kunci untuk memahami Al-Qur'an dan mempermudah proses menghafal. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Rahmadani dan Abidin (2025) yang menemukan kontribusi signifikan penguasaan kosakata Arab terhadap prestasi menghafal Al-Qur'an. Demikian pula penelitian Lestari dkk. (2023) yang menyatakan bahwa bahasa Arab memiliki pengaruh terhadap kemudahan menghafal Al-Qur'an. Namun, nilai korelasi 0,618 dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang lebih kuat dibandingkan penelitian Aliyah dan Kuraedah (2023) yang hanya menemukan korelasi pada tingkat sedang. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh pendekatan pembelajaran yang lebih terintegrasi antara program tahfidz dan pembelajaran bahasa Arab di PPTQ Al-Madinatul Kamilah. Meskipun hubungan kedua variabel tergolong kuat, koefisien determinasi (R²) sebesar 38,2% menunjukkan bahwa penguasaan kosakata hanya menjelaskan 38,2% variasi retensi hafalan. Artinya, masih ada 61,8% faktor lain yang memengaruhi retensi hafalan, seperti metode menghafal (metode takrar, metode tasmi'), motivasi internal santri, dukungan lingkungan, kecerdasan kognitif, dan durasi menghafal (Falah, 2021; Tika dkk., 2022). Hal ini menjadi rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
Berdasarkan analisis data yang melibatkan 20 santri PPTQ Al-Madinatul Kamilah Sidoarjo, instrumen penelitian terbukti memenuhi kriteria validitas dan memiliki tingkat reliabilitas yang baik dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,750. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penguasaan kosakata Bahasa Arab berada pada kategori cukup baik dengan nilai rata-rata 79, sedangkan retensi hafalan Al-Qur’an termasuk dalam kategori baik dengan rata-rata skor 82. Uji korelasi Pearson menghasilkan koefisien sebesar 0,618 dengan nilai thitung 3,146 yang lebih besar daripada ttabel 2,120, sehingga menunjukkan adanya hubungan positif, kuat, dan signifikan antara penguasaan kosakata Bahasa Arab dan retensi hafalan Al-Qur’an. Selain itu, hasil analisis koefisien determinasi menunjukkan bahwa penguasaan kosakata Bahasa Arab memberikan sumbangan sebesar 38,2% terhadap retensi hafalan Al-Qur’an, sementara 61,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain, seperti metode menghafal, motivasi belajar, lingkungan pembelajaran, serta kemampuan kognitif santri. Oleh karena itu, peningkatan penguasaan kosakata Bahasa Arab berpotensi mendukung peningkatan retensi hafalan Al-Qur’an, sehingga diperlukan pengembangan strategi pembelajaran kosakata yang lebih inovatif dan terintegrasi guna mengoptimalkan kemampuan tahfidz sekaligus pemahaman bahasa Arab.
Ucapan Terima Kasih
Alhamdulillah pertama-tama kami besyukur atas Allah yang sudah mmudahkan kami dalam proses tulisan ini dan juga kami berterima kasih kepada rekan-rekan yang sudah ikut andil dalam membimbing, mengarahkan dan memberi saran dalam setiap prosesnya, terima kasih juga untuk kedua orang tua yang sudah menjadi peran utama dalam perjalanan ini tanpa doa dan motivasi semangat dari mereka kami tidak akan pernah ada diposisi sekarang ini.
N. Lestari, R. Nurfauziah, R. N. Maulana, S. Herwinadira, and A. Fu’adin, “Pengaruh Belajar Bahasa Arab Terhadap Kemudahan Menghafal Al- Qur ’ an Santri Ma ’ had Aly Pondok Qur ’ an Bandung,” AL-MAZAYA J. Pendidik. Bhs. Arab, vol. 1, no. 1, pp. 51–61, 2023.
N. Aliyah and S. Kuraedah, “Hubungan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Arab Siswa Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Fastabiqul Khaerat DDI Ladongi Kolaka Timur,” J. Pendidik. Bhs. Arab, vol. 1, no. 1, pp. 32–38, 2023.
Rahmadani and M. Abidin, “Korelasi Penguasaan Kosakata Arab dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Menghafal Al-Qur’an Santri Kelas VIII Mts Darul Qur’an Medan,” Shaut Al-‘Arabiyah, vol. 13, no. 1, pp. 260–270, 2025, doi: https://doi.org/10.24252/saa.v13i1.49054 Korelasi.
P. Kurniadi, S. Hasnah, A. Mudinikkah, and Erwin, “Korelasi Antara Penguasaan Bahasa Arab Dan Pemahaman Al-Qur’an Dengan Teknik Menghafal,” Mauizhah J. Kaji. Keislam., vol. 12, no. 2, pp. 103–117, 2022, doi: https://doi.org/10.55849/jiem.v1i1.1.
Zuyyina Linda Sari and Abdurrohim Abdurrohim, “Implementasi Metode Takror untuk Meningkatkan Retensi Hafalan Siswa pada Program Tahfidzul Qur’an di Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum Putri,” J. Ris. Rumpun Ilmu Kesehat., vol. 4, no. 1, pp. 354–366, 2025, doi: 10.55606/jurrikes.v4i1.4656.
S. Almaliki, as-shawy, Ahmad, “Hasyiyah ’Ala Tafsir Jalalaian,” in 2, 2nd ed., 1926, pp. 01–321.
M. Makinuddin, “Intergrasi Pembelajaran Bahasa Arab dan Hafalan Al-Qur’an di Pondok Pesantren Fathul Majid Kasiman Bojonegoro,” J. Appl. Linguist. Islam. Educ., vol. 7, no. 1, pp. 179–200, 2023, [Online]. Available: http://repository.radenintan.ac.id/11375/1/PERPUSPUSAT.pdf%0Ahttp://business-law.binus.ac.id/2015/10/08/pariwisata-syariah/%0Ahttps://www.ptonline.com/articles/how-to-get-better-mfi-results%0Ahttps://journal.uir.ac.id/index.php/kiat/article/view/8839
Mahsum and I. Adzaniyah, “Pengaruh Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Terhadap Penguasaan Mufrodat di Pondok Pesantren Al Ikhlas Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang,” Arabia, vol. 02, no. 02, pp. 123–138, 2024.
G. Nasier, Abdel, “Urgensi Minat Menghafal Al-Qur’an dan Kemampuan Berbahasa Arab Bagi Peningkatan Prestasi Tahfizh Al-Qur’an,” STATEMENT, vol. 10, no. 1, pp. 02–28, 2020.
Tawakkal, Saidah, and F. Kasmirawati, “Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab Dalam Meningkatkan Hafalan Qur ’ an Santri di Ponndok Pesantren Tahfidzul Qur’an Markaz Imam Nawawi Bulukumba,” Al-gazali J. Islam. Educ., vol. 1, no. 2, pp. 154–166, 2022, [Online]. Available: https://staialgazalibulukumba.ac.id/jurnal/index.php/AJIE/article/view/26
Sulastri, 2Ade Nurpriatna, and M. Marwiji, Hasan, “Pembelajaran Bahasa Arab Sebagai Determinan Keberhasilan Tahfidz Al-Qur’an dalam Pendidikan Islam,” Kharismatik J. Ilmu Pendidik. 76, vol. 3, no. 2, pp. 75–87, 2025, doi: OI: https://doi.org/10.70757/kharismatik.v3i2.68.
Al-fadil, Abi, Lisanul ’Arab. 2009.
Yuniarti, “Hubungan Menghafal Al Qur’an dengan Kemampuan Bahasa Arab di Pesantren Dempo Darul Muttaqien,” vol. 3, no. 2, pp. 221–228, 2020.
Wulandari and A. Najih, “The Effect of Mulazamah Method on Students’ Mastery of Arabic Vocabulary in As-Sunnah Al Islamy Boarding School Pasuruan [Pengaruh Metode Mulazamah terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Arab di Pondok Pesantren As-Sunnah AL Islamy Pasuruan],” Ilm. ilmu Pendidik., vol. 7, no. 11, pp. 1–5, 2024, doi: https://doi.org/10.21070/ups.6839.
M. Yaqin, ’Ainul, “Implikasi Kemampuan Membaca Al-Qur’an dan Penguasaan Kosa Kata Bahasa Arab dan Kontribusnya dalam Pembelajaran Bahasa Arab (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Al-Qodiri Jember),” J. Ilm. Pendidik. Bhs. Arab, vol. 5, no. 2, pp. 149–162, 2025, [Online]. Available: [suspicious link removed]
K. Tika, F. Mukhlis, and F. Muhammad, “Implementasi Metode Menghafal Qur’an 3T+1M Dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Santri,” Al’Ulum J. Pendidik. Islam, vol. 2, no. 2, pp. 259–273, 2022, doi: 10.54090/aujpai.v2i2.3.
F. Nugraha, Aditya, Z. Asma, and D. Rizky, Aulia, “Manfaat Menghafal Al-Quran Bagi Kemampuan Kognitif Otak dan Memori Jangka Panjang,” vol. 17, no. 4, pp. 167–186, 2025, doi: 10.8734/Tashdiq.v1i2.365.
N. Maulida, A. Mulyana, and D. Syamsudin, “Pengaruh Penguasaan Bahasa Arab Terhadap Kemampuan Menghafal Al-Qur’an,” Tatsqifiy J. Pendidik. Bhs. Arab, vol. 5, no. 1, pp. 63–70, 2024, doi: 10.30997/tjpba.v5i1.11719.
N. Yulia, Ayu, “Sinergi Minat Baca Al-Qur’an dan Kemampuan Bahasa Arab dalam Menggapai Prestasi Tahfidz Gemilang,” J. Educ. Pedagog. Stud., vol. 1, no. 1, pp. 32–37, 2025, doi: https://doi.org/xxxx This.
Muwafiquddin and N. Anwar, “Implementasi Metode Two Stay Two Stray Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Arab Siswa Kelas VII SMP eLKISI Mojokerto,” vol. 7, no. 1, pp. 1–8, 2023, doi: https://doi.org/10.21070/ups.3796.
N. Fatimatuzzahrah, L. Supriadi, and M. R. Ridho, “Pengaruh Kosakata Bahasa Arab dan Tahfiz Al-Qur’an Terhadap Motivasi Belajar Bahasa Arab Siswa di Madrasah Aliyah Syaikh Zainuddin NW Anjani Lombok Timur,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 9, no. 3, pp. 1943–1950, 2024, doi: 10.29303/jipp.v9i3.2639.
N. Dinda, Rahma, S. Aini, Nur, Hananti, and Dkk, “Pengaruh Kemampuan Bahasa Arab Terhadap Prestasi Menghafal Al-Qur’an pada Siswa SDIT Muhammadiyah AL -,” J. Penelit. Pendidik. Indones., vol. 3, no. 1, pp. 17–24, 2025.
N. Afifah, Susiawati, and Susiawati, “Hubungan Antara Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Santri Pondek Pesantren di Kota Makassar,” pinisi J. art, Humanit. Soc. Stud., vol. 4, no. 3, pp. 108–119, 2024, [Online]. Available: https://www.academia.edu/download/116115556/884_ARTIKEL_ILMIAH_NURUL_AFIFAH_108_119.pdf
R. Rosanda and N. Anwar, “Pengaruh Kegiatan Muhadatsah Usbu’Iyyah Terhadap Penguasaan Mufrodat Di Pondok Pesantren An-Nur Sidoarjo,” J. Bhs. Arab, vol. 3, no. 2, pp. 1–8, 2023, doi: https://doi.org/10.21070/ups.4189.
M. A. Nasrullah and N. M. Jamroh, Badriatul, “Peran Pembelajaran Nahwu dan Sharf dalam Memahami Struktur Gramatikal Ayat-ayat Musykilat dalam Al-Qur’an,” Tadris Al-Arabiyat J. Kaji. Ilmu Pendidik. Bhs. Arab, vol. 5, no. 2, pp. 216–231, 2025, [Online]. Available: https://ejournal.iaida.ac.id/index.php/arabiyat/article/view/4201/2048
Falah, “Faktor-Faktor Internal yang Berpengaruh terhadap Keberhasilan Menghafal Al-Qur’ân Siswa Madrasah Tsanawiyah,” Tarb. J. Ilm. Pendidik., vol. 5, no. 1, pp. 27–51, 2021, doi: 10.32332/tarbawiyah.v5i1.3020.
F. Jabnabillah and N. Margina, “Analisis Korelasi Pearson Dalam Menentukan Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Kemandirian Belajar Pada Pembelajaran Daring,” J. Sintak, vol. 1, no. 1, pp. 14–18, 2022, [Online]. Available: https://doi.org/
El Hasbi, Zahro, R. Damayanti, D. Hermina, and H. Mizani, “PENELITIAN KORELASIONAL (Metodologi Penelitian Pendidikan),” J. Agama, Sos. dan Budaya, vol. 2, no. 6, pp. 2830–7755, 2023.
Hamidah, Zahrotul, R. Puspitasari, Dwi, and F. Hardiyanti, “Implementasi Metode Tahsin, Talaqqi, dan Tasmi’ pada Hafalan Santriwati Markaz Quran Kepri,” J. Ilmu Pendidik., vol. 2, no. 4, pp. 43–53, 2026, doi: :2963-9324.
Aziz, R. Padang, and P. Lubis, “Hubungan Antara Kemampuan Hafalan Al-Qur’an dengan Prestasi Belajar Bahasa Arab Santri Tadris di Pondok Pesantren Tahfidz Sulaimaniyah Syarief Medan,” J. Pendidik. Agama Islam dan Ris., vol. 2, no. 1, pp. 18–27, 2021.
Y. Yudihartanti, “Analisa Korelasi Mata Kuliah Penelitian Dengan Tugas Akhir Menggunakan Model Product Moment,” pp. 1691–1696.