Latifah (1), Eko Asmanto (2)
General Background: Digital technology integration transforms modern educational paradigms and learning behavior globally. Specific Background: Generation Z students exhibit high device usage intensity centered on visual and entertainment platforms like Instagram and TikTok, whereas Arabic language acquisition remains constrained by limited digital exposure and linguistic complexity. Knowledge Gap: Existing literature lacks a comprehensive exploration of daily digital habits directly connected to Arabic learning interest through qualitative student perspectives in Islamic secondary schools. Aims: This study investigates the relationship between Generation Z digital habits and student interest in learning Arabic at Muhammadiyah high school Sidoarjo using an embedded mixed-methods design. Results: Findings demonstrate that high device usage and visual preferences do not automatically foster language interest due to entertainment distraction, yet structured multimedia exposure creates situational learning engagement. Novelty: The conceptual model reveals that digital habits act as a non-linear mediator shaped by content quality and pedagogical context rather than a direct determinant. Implications: Educators should harness digital consumption patterns by transforming recreational media into contextual pedagogical tools to sustainably cultivate Arabic language interest.
Key Findings Highlights
Student device usage focuses predominantly on visual entertainment platforms, creating recreational patterns that contrast with formal linguistic studies
Media exposure featuring contextual visual packaging generates situational curiosity toward complex linguistic rules
Pedagogical transformation of recreational tools fosters sustainable engagement within modern educational ecosystems
Keywords Digital Consumption, Student Engagement, Linguistic Complexity, Multimedia Integration, Secondary Education
Perkembangan teknologi digital saat ini telah membentuk pola baru dalam cara manusia berinteraksi dengan informasi dan lingkungan sekitarnya. Kondisi ini turut memengaruhi arah pembelajaran abad ke-21 yang tidak hanya dituntut menyiapkan generasi muda menghadapi globalisasi tetapi juga menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang serba cepat. Dampak perkembangan teknologi dan arus informasi yang masif tersebut semakin terasa dalam praktik pendidikan. Transformasi ini tampak melalui penguatan literasi digital, informasi, dan media sebagai keterampilan utama peserta didik[1]. Oleh karena itu, pembelajaran idealnya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menyesuaikan dengan karakteristik generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital[2].
Generasi Z yang lahir antara tahun 1997–2012, merupakan kelompok generasi yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pesatnya penggunaan internet, media sosial serta perangkat digital sejak usia dini (Digital Native). Mereka memiliki kecenderungan belajar yang cepat, interaktif, visual serta mengharapkan akses informasi yang fleksibel[3]. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga menghabiskan lebih banyak waktu dalam aktivitas digital dibandingkan interaksi langsung[4]. Dalam konteks ini, pembelajaran bahasa Arab perlu bertransformasi agar tetap relevan bagi peserta didik[5]. Selain itu, Dalam ekosistem digital global bahasa Inggris masih menjadi bahasa yang
Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This preprint is protected by copyright held by Universitas Muhammadiyah Sidoarjo and is distributed under the Creative Commons Attribution License (CC BY). Users may share, distribute, or reproduce the work as long as the original author(s) and copyright holder are credited, and the preprint server is cited per academic standards.
Authors retain the right to publish their work in academic journals where copyright remains with them. Any use, distribution, or reproduction that does not comply with these terms is not permitted.
paling dominan digunakan dalam berbagai konten daring. Kondisi ini sebagaimana dilaporkan oleh W3Techs (2024– 2025) berdampak pada terbatasnya paparan siswa terhadap bahasa Arab jika dibandingkan dengan bahasa Inggris[6]. Berbagai penelitian empiris di Indonesia mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa Inggris sangat dominan dalam ruang digital, baik pada media sosial, kolom komentar, maupun berbagai bentuk konten daring. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan digital masyarakat, termasuk generasi muda, lebih cenderung terarah pada penggunaan bahasa Inggris dibandingkan bahasa daerah ataupun bahasa Arab[7]. Karena itu, penguatan minat intrinsik siswa terhadap bahasa Arab perlu menjadi perhatian, terutama agar ketertarikan mereka tidak semakin menurun dalam lingkungan digital yang tidak mendukung bahasa Arab secara optimal.
Fenomena meningkatnya penggunaan teknologi oleh generasi Z melahirkan kebiasaan digital (Digital habit) yang kuat. Digital habit adalah pola penggunaan media digital yang terbentuk dari kebiasaan individu dalam berinteraksi dengan perangkat digital, yang memengaruhi cara mereka mengakses informasi dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari[8]. Sejumlah riset menunjukkan bahwa generasi muda menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk mengakses internet setiap harinya dengan sebagian besar aktivitas dilakukan melalui smartphone[9]. Survei Nielsen menunjukkan bahwa pengguna internet terbesar berasal dari generasi Z dan milenial[10]. Intensitas penggunaan perangkat digital juga tinggi, mencapai 4–18 jam per hari [4]. Namun, kebiasaan digital yang terbentuk tidak selalu sejalan dengan kebutuhan pembelajaran bahasa Arab. Generasi Z cenderung memiliki pola belajar instan serta menyukai informasi singkat dan cepat sementara Bahasa Arab dikenal memiliki karakteristik linguistik yang relatif kompleks baik dari sisi fonologi, morfologi berbasis akar kata maupun aturan sintaksis seperti i‘rab yang menuntut ketelitian dalam proses pembelajaran. Kompleksitas ini membuat bahasa Arab menuntut proses belajar yang lebih terstruktur dibandingkan beberapa bahasa asing lainnya[11]. Kontras antara pola belajar instan dan kompleksitas bahasa Arab ini perlu dianalisis secara mendalam karena dapat berkaitan dengan bagaimana siswa meminati bahasa Arab.
Bahasa Arab memiliki posisi penting sebagai bahasa komunikasi global[12] juga Bahasa penopang utama ajaran
Islam terlebih dua sumber pokok pedoman umat Muslim, yakni Al-Qur’an dan Hadis disampaikan menggunakan Bahasa itu[13]. Namun, sebagian besar siswa Indonesia menganggap bahasa Arab sulit dan membosankan. Pada jenjang Madrasah Aliyah, minat terhadap bahasa Arab cenderung menurun[14]. Salah satu penyebabnya adalah model pembelajaran yang masih monoton, berpusat pada guru[15] mengandalkan metode hafalan[16] serta minim pemanfaatan teknologi digital[17]. Padahal, penggunaan media digital interaktif terbukti mampu meningkatkan partisipasi, motivasi, dan semangat siswa[18]. Dalam konteks literasi digital, pembelajaran bahasa Arab sebenarnya memiliki peluang besar melalui akses sumber belajar yang luas, interaktif, dan multimodal. Namun demikian, generasi Z juga menghadapi tantangan berupa information overload dan distraksi media sosial[19]. Karena itu, analisis mengenai sejauh mana kebiasaan digital mendukung atau justru melemahkan minat mereka terhadap bahasa Arab sangat penting dilakukan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar bahasa Arab dipengaruhi oleh faktor internal siswa serta dukungan media pembelajaran yang digunakan[20]. Lathifah, Nabila, dan Sulesti menegaskan bahwa integrasi media digital yang kreatif dan relevan dengan karakter generasi Z mampu meningkatkan keterlibatan dan semangat belajar siswa[21]. Penelitian Sulisworo dan Hidayati dengan judul “Eksplorasi Pengalaman Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Media Sosial pada Generasi Z” menunjukkan bahwa generasi Z menyukai pembelajaran yang terintegrasi teknologi, fleksibel, dan dapat diakses kapan pun[22]. Penelitian mengenai digital skills generasi Z juga menunjukkan bahwa mereka memiliki kemahiran operasional dan adaptasi cepat terhadap teknologi, salah satunya pada penelitian yang berjudul “From Digital Natives To Agile Learners: Rethinking Digital Skills Among Generation Z”[23]. Hasil peneitian Faiz & Afrita menunjukkan bahwa generasi Z yang akrab dengan teknologi cenderung responsif terhadap platform digital seperti TikTok dan media interaktif bila digunakan dalam pembelajaran, dimana penelitian ini berfokus pada strategi pembelajaran dan peran guru/media dalam pembelajaran[24]. Penelitian kuantitatif korelasional yang dilakukan oleh Razida dan Abidin yang berjudul “Dampak Media Digital Terhadap Motivasi Belajar Bahasa Arab Siswa MadrasahAliyah” melalui penggunaan angket dan analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif antara penggunaan media digital dan motivasi belajar bahasa Arab pada siswa Madrasah Aliyah. Namun, kajian tersebut masih berfokus pada media digital dalam konteks pembelajaran[25]. Meskipun demikian kajian yang menempatkan kebiasaan digital generasi Z sebagai fenomena keseharian yang dikaitkan langsung dengan kecenderungan minat terhadap bahasa Arab di Madrasah Aliyah masih belum banyak ditemukan khususnya penelitian yang menggali pengalaman dan perspektif siswa secara mendalam melalui pendekatan kualitatif. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini diarahkan untuk melengkapi kajian sebelumnya dengan menelaah kebiasaan digital siswa secara lebih luas dalam kehidupan keseharian mereka, menggunakan pendekatan kualitatif sebagai fokus utama yang diperkuat oleh data kuantitatif pendukung.
Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara lebih mendalam keterkaitan antara kebiasaan digital generasi Z dengan kecenderungan serta pengalaman mereka dalam meminati pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah. Kajian ini tidak lepas dari konteks ekosistem digital yang saat ini didominasi oleh konten berbahasa Inggris, kecenderungan pola belajar instan yang melekat pada generasi Z serta kompleksitas linguistik bahasa Arab itu sendiri.
Selain itu penelitian ini juga mempertimbangkan peluang dan tantangan yang muncul dalam praktik literasi digital keislaman di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Fokus penelitian diarahkan pada pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan berbagai platform digital, pola media yang mereka gunakan, serta cara mereka memaknai posisi bahasa Arab di tengah lingkungan digital tersebut. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan praktis bagi pengembangan pembelajaran bahasa Arab berbasis digital, penguatan literasi digital keislaman dan perluasan bi’ah lughawiyyah virtual, sehingga kebiasaan digital generasi Z dapat diarahkan sebagai pendukung bukan penghambat dalam menumbuhkan minat mereka terhadap bahasa Arab.
Penelitian ini penting untuk dilakukan karena kebiasaan digital telah menjadi bagian dominan dalam kehidupan generasi Z dan berpotensi memengaruhi cara siswa memaknai proses belajar termasuk pembelajaran bahasa Arab. Selama ini kajian pembelajaran bahasa Arab cenderung menitikberatkan pada strategi pembelajaran, penggunaan media digital, dan peran guru di dalam kelas sementara pengalaman serta persepsi siswa dalam konteks kebiasaan digital keseharian masih relatif kurang mendapat perhatian. Berdasarkan kondisi tersebut penelitian yang berjudul “Analisis Relasi Digital Habit Generasi Z dengan Kecenderungan Minat Bahasa Arab Madrasah Aliyah” ini difokuskan pada upaya memahami kebiasaan digital generasi Z di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo serta mendeskripsikan kecenderungan minat siswa terhadap bahasa Arab dan relasinya dengan kebiasaan digital yang mereka miliki. Kebiasaan digital dalam penelitian ini dimaknai sebagai pola penggunaan perangkat dan platform digital dalam kehidupan sehari-hari siswa baik di dalam maupun di luar kelas dengan penekanan utama pada aktivitas digital di luar pembelajaran formal. Dengan demikian rumusan masalah penelitian ini meliputi: (1) bagaimana pola kebiasaan digital generasi Z dalam aktivitas pembelajaran dan kehidupan sehari-hari siswa SMA Muhammadiayah 2 Sidoarjo dan (2) bagaimana kecenderungan minat siswa terhadap bahasa Arab ditinjau dari kebiasaan digital yang mereka miliki.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain embedded yaitu desain metode campuran yang mengintegrasikan data kualitatif dan kuantitatif dalam satu kerangka penelitian dengan penetapan salah satu jenis data sebagai fokus utama dan data lainnya sebagai pendukung[26]. Data pendukung dikumpulkan dan dianalisis setelah data utama sehingga berfungsi memperkuat interpretasi temuan tanpa mengubah fokus utama penelitian. Desain embedded dipilih karena penelitian ini lebih menekankan pada upaya memahami fenomena yang diteliti secara mendalam melalui data kualitatif. Sementara itu, data kuantitatif digunakan secara terbatas sebagai pelengkap untuk membantu memperkuat dan memperjelas temuan yang dihasilkan dari proses kualitatif tersebut.
Populasi penelitian ini adalah siswa SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Pemilihan sekolah tersebut didasarkan pada tingginya intensitas penggunaan teknologi di kalangan siswa serta adanya komitmen institusi terhadap pembelajaran bahasa Arab. Berdasarkan temuan Renita Sari & Khizanatul Hikmah bahasa Arab di sekolah ini diintegrasikan secara terstruktur dalam kurikulum harian dan menjadi salah satu fokus pembinaan [27] sehingga relevan untuk meneliti keterkaitan digital habit dan kecenderungan mereka dalam meminati bahasa Arab.
Figure 1.
Gambar 1. Desain Penelitian Mixed Methods Model Embedded
(Sumber: Adaptasi Creswell & Plano Clark 2011)
Pengumpulan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara berangkai.Pada tahap 1, kualitatif Subjek penelitian ditentukan secara purposive, yakni siswa yang memiliki variasi kebiasaan penggunaan media digital serta tingkat keterlibatan yang berbeda dalam pembelajaran bahasa Arab. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap siswa sebagai sumber data utama yang diarahkan untuk menggali pengalaman, persepsi, dan pandangan siswa terkait kebiasaan digital serta kaitannya dengan minat belajar bahasa Arab. Didukung oleh studi dokumentasi untuk memperoleh gambaran konteks pembelajaran digital di kelas, berupa catatan pembelajaran, arsip sekolah, atau bukti aktivitas yang relevan.
Temuan awal pada tahap kualitatif kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan angket yang berfungsi sebagai instrumen kuantitatif pendukung. Angket tersebut disebarkan kepada siswa pada hari berikutnya untuk memperoleh gambaran frekuensi dan kecenderungan kebiasaan digital serta minat terhadap Bahasa Arab secara lebih luas.
Data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis tematik. Proses analisis diawali dengan menelaah hasil wawancara secara mendalam, kemudian memberikan kode pada bagian-bagian data yang relevan. Kode-kode tersebut selanjutnya dikelompokkan ke dalam kategori yang memiliki kesamaan makna, hingga diperoleh tema-tema utama yang menggambarkan pola kebiasaan digital serta kecenderungan minat siswa terhadap bahasa Arab. Adapun data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dengan menyajikan frekuensi dan persentase jawaban responden. Hasil analisis kuantitatif ini digunakan sebagai pendukung untuk membantu memperjelas dan menguatkan pemaknaan terhadap temuan kualitatif.
A. Pola Kebiasaan Digital Generasi Z dalam Aktivitas Pembelajaran dan Kehidupan Sehari-hari
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan digital siswa generasi Z di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo ditandai oleh intensitas penggunaan perangkat digital yang tinggi dan telah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Data angket menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa (98%) menggunakan handphone setiap hari dengan durasi penggunaan mencapai 7–8 jam per hari.
Aktivitas digital siswa didominasi oleh penggunaan platform berbasis visual seperti Instagram, TikTok dan YouTube yang menyajikan konten singkat, menarik dan mudah dikonsumsi. Pola tersebut menunjukkan kecenderungan konsumsi informasi yang cepat dan instan sekaligus mencerminkan preferensi belajar siswa yang lebih visual dan berbasis teknologi[28]. Namun demikian penggunaan media digital masih lebih banyak diarahkan pada aktivitas hiburan seperti menonton short video, mengikuti tren dan bermain game sedangkan pemanfaatannya untuk kegiatan pembelajaran masih relatif terbatas. Untuk memperjelas hasil analisis tematik yang diperoleh dari proses pengkodean data wawancara, angket dan dokumentasi berikut disajikan ringkasan kategori dan tema utama yang merepresentasikan pola kebiasaan digital siswa serta keterkaitannya dengan kecenderungan minat belajar bahasa Arab:
Figure 2.
Gambar 2. Hasil Analisis Tematik Kebiasaan Digital dan Minat Belajar Bahasa Arab
Sumber: Hasil olahan Peneliti 2026
Berdasarkan pemetaan kategori dan tema pada tabel di atas terlihat bahwa kebiasaan digital siswa tidak hanya ditandai oleh tingginya intensitas penggunaan media digital tetapi juga oleh karakteristik lingkungan digital yang mereka akses. Lingkungan digital siswa didominasi oleh konten berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya dengan persentase mencapai 94%. Di sisi lain, sebanyak 62% siswa menyatakan bahwa konten berbahasa Arab jarang muncul dalam media digital yang mereka gunakan. Konten berbahasa Arab yang tersedia pun umumnya masih terbatas pada konteks keagamaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem digital siswa belum sepenuhnya mendukung penguatan literasi bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil dokumentasi tidak ditemukan program pendukung pembelajaran bahasa Arab di luar kelas seperti kegiatan ekstrakurikuler atau komunitas belajar berbasis digital. Pembelajaran bahasa Arab masih berfokus pada penggunaan buku ajar sebagai sumber utama tanpa integrasi media digital yang sistematis. Meskipun sekolah telah menyediakan fasilitas seperti smartboard di setiap kelas namun pemanfaatannya dalam pembelajaran bahasa Arab belum optimal.
Dominasi penggunaan media digital untuk aktivitas hiburan menunjukkan bahwa lingkungan digital siswa tidak hanya memengaruhi pola konsumsi informasi tetapi juga membentuk cara mereka belajar dan berinteraksi dengan pengetahuan. Kedekatan generasi Z dengan media digital membentuk pola konsumsi informasi yang cepat, visual dan interaktif sehingga siswa cenderung lebih tertarik pada pembelajaran yang singkat, praktis dan mampu memberikan umpan balik secara langsung[29] dibandingkan penjelasan yang panjang dan abstrak. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab kondisi ini menjadi tantangan karena proses pembelajaran bahasa memerlukan ketekunan, pemahaman bertahap serta latihan penggunaan bahasa secara berulang. Di sisi lain kondisi tersebut juga menunjukkan adanya peluang pedagogis yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Kebiasaan siswa dalam mengakses konten visual dapat diarahkan menjadi media pembelajaran yang lebih konkret dan kontekstual[30] serta dekat dengan kehidupan mereka. Dengan demikian persoalan utama bukan terletak pada tingginya penggunaan media digital melainkan pada bagaimana media tersebut dimanfaatkan secara lebih adaptif dan relevan untuk mendukung pembelajaran bahasa Arab sesuai dengan karakteristik generasi Z.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan digital siswa tidak hanya merefleksikan intensitas penggunaan teknologi tetapi juga membentuk pola interaksi dan preferensi belajar yang cenderung instan, visual dan berorientasi hiburan. Pola tersebut belum terintegrasi secara optimal dalam mendukung pembelajaran bahasa Arab maupun dalam membangun lingkungan bahasa (bi’ah lughawiyyah) berbasis digital sehingga memengaruhi kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran yang menuntut pemahaman mendalam.
B. Kecenderungan Minat Siswa terhadap Bahasa Arab Ditinjau dari Kebiasaan Digital
Kecenderungan minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Arab menunjukkan variasi yang cukup beragam. Sebagian siswa memiliki ketertarikan terhadap bahasa Arab namun sebagian lainnya memandang bahasa tersebut sebagai mata pelajaran yang sulit dan kurang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Data angket menunjukkan bahwa mayoritas siswa (85%) menganggap bahasa Arab memiliki tingkat kesulitan yang tinggi terutama pada aspek mufrodat dan kaidah kebahasaan. Selain itu, penggunaan bahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari siswa masih relatif terbatas sehingga kedekatan mereka terhadap bahasa tersebut belum terbentuk secara optimal. Dalam konteks lingkungan digital siswa cenderung lebih familiar dengan bahasa asing lain yang lebih dominan muncul di media sosial dibandingkan bahasa Arab. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara karakteristik pembelajaran bahasa Arab yang membutuhkan proses pemahaman bertahap dengan pola konsumsi informasi siswa yang cenderung cepat, visual dan instan. Akibatnya bahasa Arab sering dipersepsikan sebagai bahasa akademik yang terbatas pada ruang kelas dan konteks keagamaan sehingga kurang terhubung dengan realitas digital yang mereka alami sehari-hari.
Ditinjau dari kebiasaan digital temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bersifat potensial antara paparan media digital dan minat belajar bahasa Arab. Siswa yang terpapar konten berbahasa Arab yang dikemas secara visual dan menarik cenderung menunjukkan peningkatan pemahaman serta ketertarikan terhadap materi pembelajaran. Namun demikian ketertarikan tersebut umumnya masih bersifat situasional karena perhatian siswa mudah terdistraksi oleh dominasi konten hiburan yang lebih variatif dan menarik.
Keterbatasan kemunculan konten berbahasa Arab dalam algoritma media sosial juga menyebabkan rendahnya frekuensi paparan terhadap bahasa tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat belajar bahasa Arab tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal siswa tetapi juga oleh intensitas interaksi mereka dengan bahasa tersebut dalam lingkungan digital sehari-hari. Semakin rendah paparan terhadap bahasa Arab semakin terbatas pula kesempatan siswa untuk berinteraksi dan membangun kedekatan dengan bahasa tersebut di luar pembelajaran formal. Di sisi lain munculnya ketertarikan siswa terhadap konten berbahasa Arab yang dikemas secara visual menunjukkan bahwa karakteristik generasi Z yang akrab dengan media digital tidak selalu menjadi hambatan dalam pembelajaran bahasa Arab. Pengembangan strategi pembelajaran yang relevan dengan kebiasaan digital siswa melalui pendekatan multimedia, pemanfaatan aplikasi pembelajaran bahasa serta pengintegrasian konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi upaya untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mempelajari bahasa Arab. Dengan demikian pola konsumsi konten yang awalnya lebih berorientasi pada hiburan dapat diarahkan menjadi peluang pedagogis melalui pembelajaran yang lebih kontekstual, komunikatif dan adaptif terhadap karakteristik dan pengalaman digital generasi Z[24].
Secara konseptual temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara kebiasaan digital dan minat belajar bahasa Arab tidak bersifat linear. Intensitas penggunaan media digital yang tinggi tidak secara otomatis meningkatkan minat belajar melainkan dipengaruhi oleh kualitas konten, bentuk penyajian serta konteks pembelajaran yang digunakan. Oleh karena itu kebiasaan digital siswa tidak dapat dipandang sebagai faktor determinan tetapi sebagai potensi yang memerlukan pengelolaan pedagogis secara terarah agar dapat berkontribusi dalam meningkatkan minat dan kualitas pembelajaran bahasa Arab secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil penelitian kebiasaan digital siswa generasi Z di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo ditandai oleh intensitas penggunaan perangkat digital yang tinggi dengan dominasi aktivitas berbasis media sosial visual seperti Instagram, TikTok dan YouTube. Pola penggunaan tersebut menunjukkan kecenderungan konsumsi informasi yang cepat, visual dan berorientasi pada hiburan sedangkan pemanfaatan media digital untuk kegiatan pembelajaran masih relatif terbatas. Selain itu lingkungan digital siswa lebih banyak didominasi oleh konten berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya sementara paparan konten berbahasa Arab masih rendah dan umumnya terbatas pada konteks keagamaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem digital siswa belum sepenuhnya mendukung penguatan literasi bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.
Kecenderungan minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Arab menunjukkan variasi yang cukup beragam. Sebagian siswa memiliki ketertarikan terhadap bahasa Arab namun mayoritas masih memandang bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang relatif sulit terutama pada aspek mufrodat dan kaidah kebahasaan. Rendahnya intensitas penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari serta minimnya paparan konten berbahasa Arab di media digital menyebabkan bahasa Arab cenderung dipersepsikan sebagai bahasa akademik yang terbatas pada ruang kelas. Meskipun demikian paparan terhadap konten berbahasa Arab yang dikemas secara visual dan menarik terbukti mampu meningkatkan pemahaman serta memunculkan ketertarikan belajar siswa meskipun masih bersifat situasional.
Secara konseptual penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara kebiasaan digital dan minat belajar bahasa Arab tidak bersifat linear. Intensitas penggunaan media digital yang tinggi tidak secara otomatis meningkatkan minat belajar melainkan dipengaruhi oleh kualitas konten, bentuk penyajian serta konteks pembelajaran yang digunakan. Oleh karena itu kebiasaan digital siswa tidak dapat dipandang semata-mata sebagai hambatan tetapi sebagai potensi yang dapat diarahkan melalui pengelolaan pedagogis yang adaptif dan kontekstual. Dengan pemanfaatan media digital yang lebih terarah kebiasaan digital generasi Z berpotensi menjadi sarana yang mendukung peningkatan minat serta kualitas pembelajaran bahasa Arab secara lebih efektif dan berkelanjutan.
\Berdasarkan temuan penelitian yang menunjukkan dominasi pola konsumsi konten hiburan dalam kebiasaan digital siswa dirumuskan suatu model transformasi kebiasaan digital dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai upaya mengarahkan pola tersebut menjadi strategi pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna sebagai bentuk rekomendasi implementatif:
Figure 3.
Gambar 3. Model Transformasi Kebiasaan Digital dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Model transformasi kebiasaan digital dalam pembelajaran bahasa Arab dikembangkan sebagai upaya untuk mengarahkan pola konsumsi digital siswa yang dominan pada konten hiburan menjadi strategi pembelajaran yang lebih bermakna. Tahap awal dimulai dari identifikasi pola kebiasaan digital siswa yang menunjukkan intensitas penggunaan media digital yang tinggi serta dominasi konten visual yang bersifat instan.
Berdasarkan temuan tersebut, dilakukan transformasi desain pembelajaran dengan mengadaptasi pola konten digital ke dalam pembelajaran bahasa Arab sehingga siswa tidak hanya mengonsumsi tetapi juga memproduksi konten berbahasa Arab secara aktif. Model ini kemudian diuji coba melalui aktivitas pembelajaran berbasis digital yang melibatkan analisis, respons dan produksi bahasa oleh siswa.
Hasil uji coba menjadi dasar dalam tahap evaluasi dan penyempurnaan sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa. Pada tahap implementasi, model ini berpotensi meningkatkan minat belajar, keterlibatan serta kemampuan berbahasa Arab siswa sekaligus membentuk ekosistem pembelajaran digital[31] yang lebih adaptif dan kontekstual[32].
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Dengan penuh rasa syukur, terima kasih dihaturkan kepada kedua orang tua dan keluarga atas doa dan dukungan yang tidak pernah terputus. Terima kasih juga disampaikan kepada SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo atas izin dan fasilitasi selama penelitian khususnya kepada guru bahasa Arab, staf, dan siswa yang telah berpartisipasi secara aktif. Apresiasi turut diberikan kepada pihak kampus terutama seluruh dosen yang telah memberikan arahan dan dukungan akademik. Dan tak lupa pula terimakasih kepada teman-teman yang telah membersamai proses ini melalui dukungan, bantuan dan semangat yang diberikan. Serta kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian penelitian ini.
F. Cahyani, et al., "Teacher Perceptions in Implementing Digital Literacy Media in the Twenty-First Century Era," Journal of Educational Media, vol. 12, no. 1, pp. 1–8, 2024.
F. Teknik and U. Widyatama, "Digital Pada Generasi Z," Journal of Technology and Society, vol. 3, no. 1, pp. 10–15, 2025.
Alruthaya, T. T. Nguyen, and S. Lokuge, "A Comprehensive Framework for Understanding the Role of Digital Technologies on Learning," in ACIS 2021 - Australasian Conference on Information Systems Proceedings, 2021, pp. 1–7.
S. F. Zis, N. Effendi, and E. R. Roem, "Perubahan Perilaku Komunikasi Generasi Milenial dan Generasi Z di Era Digital," Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, vol. 5, no. 1, pp. 69–87, 2021, doi: 10.22219/satwika.v5i1.15550.
S. Ritonga, K. Fuadi, and M. Ritonga, "Technology and Social Media Integration in Arabic Language Education: Critical Implementation Analysis and Policy Frameworks for Indonesia," Lughawiyah, vol. 7, no. 1, pp. 52–65, 2024.
W3Techs, "Usage Statistics of Content Languages for Websites," 2025. [Online]. Available: https://w3techs.com/technologies/overview/content_language
R. Aditya and S. Aminah, "The Phenomenon of English Usage in Indonesian," Journal of Linguistics, vol. 6, no. 1, pp. 94–103, 2025.
H. Digital, I. Sosial, S. Kasus, S. Man, and M. Mataram, "Digital Habitus and the Transformation of Social Interaction: A Case Study of Smartphone Use Among Students at MAN 2 Model Mataram," Journal of Social Studies, vol. 11, no. 1, pp. 55–65, 2025.
V. Cahyani and N. Mutiah, "Analisis Tingkat Literasi Digital pada Generasi Z dengan Studi Kasus Mahasiswa FMIPA Untan," Jurnal Pendidikan dan Teknologi, vol. 9, no. 1, pp. 1–10, 2021.
D. I. Jakarta and R. G. Pratikto, "Literasi Media Digital Generasi Z: Studi Kasus pada Remaja Social Networking Addiction di Jakarta," Jurnal Media dan Komunikasi, vol. 4, no. 2, pp. 1–28, 2022.
M. D. H. Al-Ghozali, I. K. Putra, K. A. Ilmi, N. L. Isnaini, and C. D. Nurlaili, "Problematika Pembelajaran Bahasa Arab Siswa di MAN 6 Jombang," Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, vol. 4, no. 2, pp. 473–485, 2025.
R. Haniifah, Z. Moch, B. Udin, and B. Arifin, "The Development of Digital-Based Arabic Language Learning Evaluation in Junior High Schools Muhammadiyah 10 Sidoarjo," Journal of Arabic Learning, vol. 3, no. 1, pp. 1–11, 2024.
Husein, A. Munawar, M. Ali, and Y. Nurbayan, "Pengaruh Globalisasi Terhadap Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia," Jurnal Studi Islam, vol. 9, no. 1, pp. 56–72, 2025.
R. Ramli, "Reorientasi Pengajaran Bahasa Arab," Jurnal Naskhi: Jurnal Kajian Pendidikan dan Bahasa Arab, vol. 2, no. 1, pp. 1–7, 2020, doi: 10.47435/naskhi.v2i1.250.
J. Juryatina and A. Amrin, "Students' Interest in Arabic Language Learning: The Roles of Teacher," Journal of Education Management and Instruction, vol. 1, no. 1, pp. 40–49, 2021, doi: 10.22515/jemin.v1i1.3459.
Z. Ahmad, S. Nur, and K. Hikmah, "Interest in Learning Arabic for Turjuman Al-Qur'an Program Students: Case Study at SD Muhammadiyah 6 Surabaya," Journal of Islamic Education, vol. 5, no. 2, pp. 1–10, 2023.
H. Jamil and N. Agung, "Tantangan Pembelajaran Bahasa Arab di Era Society 5.0: Analisis Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Aplikasi Interaktif," Alibbaa': Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, vol. 3, no. 1, pp. 38–51, 2022, doi: 10.19105/ajpba.v3i1.5536.
Wahyuni, Zulaeha, Budiarti, and L. A. Nasiru, "Digital Innovation in Arabic Language Learning Models for Islamic Higher Education," Jurnal Penelitian, vol. 21, no. 2, pp. 137–151, 2024, doi: 10.28918/jupe.v21i2.2279.
S. T. Wahyuni, et al., "Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Manajemen Strategi bagi Gen Z," Jurnal Manajemen dan Bisnis, vol. 6, no. 1, pp. 1–8, 2025.
R. Maulana, A. Darmiyanti, U. S. Karawang, and H. Belajar, "Penerapan Media Pembelajaran Quizizz dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kelas IV B di SDN Duren III Klari Karawang," Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 2, pp. 517–526, 2023.
U. Lathifah, P. F. Nabila, and D. Sulesti, "Peran Media Digital dalam Meningkatkan Minat Pembelajaran Bahasa Arab: Dampak Literasi Digital terhadap Keterampilan Bahasa Arab," Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, vol. 7, no. 3, pp. 11414–11423, 2025.
D. Sulisworo, D. Hidayati, E. Management, and U. Ahmad, "Digital Literacy of Generation Z: Challenges for Teachers in the Era of Demographic Bonus," Journal of Education Technology, vol. 6, no. 2, pp. 500–517, 2025, doi: 10.51454/jet.v6i2.517.
Hendrawan, "From Digital Natives to Agile Learners: Rethinking Digital Skills," Journal of Learning Studies, vol. 8, no. 2, pp. 88–102, 2024.
M. Faiz, "Tantangan dan Strategi Pemahaman Bahasa Arab untuk Pendidikan Generasi Z: Analisis dan Prospek Masa Depan," Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 5, no. 4, pp. 156–164, 2024.
M. Razida, "Dampak Media Digital Terhadap Motivasi Belajar Bahasa Arab Siswa Madrasah Aliyah," Jurnal Studi Islam dan Pendidikan, vol. 4, no. 3, pp. 1582–1589, 2025.
J. W. Creswell and V. L. Plano Clark, Mendesain dan Melaksanakan Mixed Methods Research, 2nd ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
R. R. Sari and K. Hikmah, "Implementasi Kegiatan Pembelajaran Bahasa Arab Pada Boarding School SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo," Al Mi'yar: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa Arab dan Kebahasaaraban, vol. 7, no. 2, pp. 717–725, 2024.
D. C. Uluum, "Pendidikan Bahasa Arab untuk Generasi Z: Strategi Adaptasi Pengajaran di Era Digital," Jurnal Pendidikan Nusantara, vol. 8, no. 2, pp. 3768–3774, 2025.
N. Suandi, "Mendidik Generasi Z dan A: Strategi Pembelajaran Bahasa yang Efektif," Jurnal Bahasa dan Sastra, vol. 15, no. 1, pp. 274–282, 2025.
Ulfa, "Peran Media Audio Visual dalam Pembelajaran Bahasa Arab," Jurnal Seumubeuet: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 2, no. 1, pp. 16–23, 2023.
S. Bella, et al., "Penggunaan Media Sosial dalam Pembelajaran Bahasa Arab: Peluang dan Tantangan," Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 4, no. 1, pp. 45–52, 2025.