<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Self-Awareness and Bystander Response among University Students</article-title>
        <subtitle>Kesadaran Diri dan Respons Penonton di Kalangan Mahasiswa Universitas</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-9895c7b276e1bd54795bb332a8065c4e" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Restu</surname>
            <given-names>Firda Dini</given-names>
          </name>
          <email>firdadini@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib id="person-d2b054aecb1a73bb784dae421371cbd3" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>abidin</surname>
            <given-names>Fityan izza noor</given-names>
          </name>
          <email>fityan_umsida@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract/>
    <pub-date pub-type="epub"><day>08</day><month>05</month><year>2025</year><volume>13</volume></pub-date></article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>
        <bold id="bold-d8eca4fdf7806d50421cc15f932916ff">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-13">Hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan individu lain dalam kehidupannya. Hal ini melibatkan kepedulian yang lahir secara naluriah manusia sehingga saling memberikan empati dan simpatinya terhadap sesama manusia[1]. Sebagaimana karakteristik manusia sebagai makhluk hidup yang berakal dan membutuhkan interaksi dengan yang lainnya dalam upaya mencapai tujuan, baik individual maupun kolektif [2]. Memahami sifat manusia jadi sebuah kewajiban penting, terutama berkaitan dengan kompleksnya kehidupan modern [3].</p>
      <p id="_paragraph-14">Manusia mampu melakukan tindakan kekerasan antar individu dan menunjukkan belas kasihan dan kebaikan satu sama lain melalui tindakan seperti amal, saling membantu, dan tidak mementingkan diri sendiri. Prososial adalah tindakan seseorang dengan tujuan memberikan bantuan tanpa adanya harapan berbalas. Individu degan sifat ini akan cenderung memikirkan dan mendahulukan apa yang dibutuhkan orang lain ketimbang kebutuhannya sendiri [4]. Menolong orang lain merupakan bentuk sukarela yang disebut dengan perilaku prososial, yang dapat memberikan dampak positif bagi penerima bantuan meskipun si penolong tidak merasakan manfaat langsung dari bantuan tersebut[5]. Namun pada saat ini dikarenakan berubahnya era yang menekankan gaya hidup individualis, perilaku prososial perlahan mulai menurun dalam masyarakat, yang salah satunya tergambar dalam fenomena yang disebut <italic id="_italic-29">bystander effect</italic> [6].</p>
      <p id="_paragraph-15"><italic id="_italic-30">B</italic><italic id="_italic-31">ystander</italic><italic id="_italic-32">effect </italic>merupakan fenomena dalam psikologi sosial dimana pengamat yang hanya melihat suatu kejadian tanpa adanya upaya untuk menolong atau menghentikan suatu kejadian[6]. Individu tersebut beranggapan bahwa masih ada orang lain yang akan membantu orang yang sedang kesulitan tersebut dan orang-orang yang disekitarnya juga beranggapan demikian sehingga satu sama lain berasumsi bahwa akan ada orang lain yang menolongnya [7]. <italic id="_italic-33">Bystander effect </italic>secara implisit memiliki dampak dua arah, yaitu menurunkan maupun meningkatkan kecenderungan orang untuk berperilaku menolong. Hal ini dikenal dengan <italic id="_italic-34">boundary condition </italic>(batasan <italic id="_italic-35">bystander effect</italic>) yang dalam sisi tertentu terdapat situasi yang dibayangkan yang memancing perhatian publik [8].</p>
      <p id="_paragraph-16">Individu lebih mungkin untuk melangkah maju untuk memberikan bantuan ketika mereka memiliki identitas sosial dengan seorang pengamat . <italic id="_italic-36">Bystander Effect</italic> memberikan pengaruh negatif diberbagai situasi. Saat seseorang memilih menjadi bystander karena memilih tidak membantu dan beranggapan jika akan ikut campur dalam memperburuk keadaan sekitar. Salah satu alasan individu terkena <italic id="_italic-37">Bystander Effect</italic> karena takut ikut campur dalam masalah individu lainnya sehingga hal tersebut menurunkan tanggung jawabnya untuk memberikan bantuan.</p>
      <p id="_paragraph-17">Menurut Taylor, Peplau, dan Scars, <italic id="_italic-38">bystander effect</italic> terbagi menjadi 3 aspek yaitu <italic id="_italic-39">diffussions of responsbility, intepretation of ambiguity, </italic>dan <italic id="_italic-40">evaluation apprehesion</italic>. Aspek <italic id="_italic-41">diffussions of responsibility</italic> didefinisikan sebagai penyebaran tanggung jawab dimana individu akan cenderung untuk tanggap pada permasalahan ketika dia sendirian dan berbeda ketika dalam kelompok dimana dia akan cenderung untuk merasa kurang bertanggung jawab pada peristiwa tersebut. Selanjutnya aspek <italic id="_italic-42">intepretation of ambiguity</italic> yang didefinisikan sebagai ambiguitas dalam intepretasi situasi dimana individu akan menimbang terlebih dahulu apakah peristiwa yang terjadi benar-benar berbahaya atau tidak, dimana apabila orang disekitar menilai peristiwa tersebut tidak berbahaya, maka ada kecenderungan individu tersebut juga menilai peristiwa yang dilihat tidak berbahaya. Aspek terakhir yaitu <italic id="_italic-43">evaluation apprehesion</italic> atau pemahaman evaluasi dimana individu bagaimana individu mengevaluasi dirinya, menyebabkan individu tersebut bisa ragu untuk tanggap pada peristiwa karena ketakutan adanya penilaian negatif dari orang lain [13].</p>
      <p id="_paragraph-18">Berdasarkan survei awal mengenai perilaku <italic id="_italic-44">bystander effect</italic> dan kecenderungan untuk menolong didepan umum yang dilakukan oleh peneliti kepada 10 warga rusun X, maka ditemukan beberapa indikator perilaku <italic id="_italic-45">bystander effect</italic> pada kelompok tersebut. Hasil survei awal menunjukkan bahwa sebanyak 6 dari 10 orang merasa bahwa ketika dalam keramaian akan cenderung bersifat masa bodoh dan tidak menghiraukan bila ada individu yang kesulitan dalam keramaian dengan alasan biasanya pasti akan ada orang yang menolong. Selanjutnya 4 dari 10 orang menjelaskan bahwa mereka terkadang masih bingung menilai urgensi untuk memberikan pertolongan dikarekan menurut mereka hal tersebut tidak berbahaya dan juga tidak mau merepotkan diri sendiri apabila telah ada orang lain yang membantu. Selanjutnya sebanyak 7 dari 10 orang menjelaskan bahwa mereka terkadang tidak mengambil langkah untuk menolong dikarenakan takut melakukan kesalahan atau kurang paham situasi sehingga memutuskan untuk tidak menolong. Beberapa perilaku tersebut menggambarkan bahwa ada indikasi bahwa warga rusun x terindikasi memiliki perilaku <italic id="_italic-46">bystander effect </italic>sehingga populasi ini sesuai dengan tema penelitian yang diusung peneliti.</p>
      <p id="_paragraph-19">Bentuk nyata dari perilaku <italic id="_italic-47">bystander effect </italic>sendiri adalah tidak mengambil sikap atau memberikan tindakan pertolongan kepada korban pada situasi tertentu, dimana ketidak inginan untuk mengambil tindakann tersebut disebabkan oleh misintepretasi situasi yang dianggap tidak membahayakan, atau karena adanya kehadiran orang lain sehingga individu merasa ada orang lain yang bisa membantu korban tersebut [9]. Fenomena <italic id="_italic-48">bystander effect </italic>sering dijumpai dalam kehidupan sosial masyarakat saat ini. Berita yang dimuat oleh <italic id="_italic-49">kompas.com </italic>pada tanggal 15 Maret 2023 dimana kasus ini melibatkan anak pejabat pajak yaitu MD, bahwa ia melakukan penganiayaan terhadap salah satu remaja hingga korban mengalami koma. Kasus tersebut semakin miris ketika teman dekat pelaku melakukan dokumentasi penganiayaan tanpa melakukan pencegahan atau melindungi korban[10]. Selanjutnya, dalam penelitian yang dilakukan oleh Maharani &amp; Mahmudah, menunjukkan bahwa <italic id="_italic-50">bystander effect </italic>meningkatkan peluang seseorang dalam melakukan kecurangan laporan keuangan di salah satu instansi pemerintahan[11]. Zaedy et al., dalam penelitiannya menemukan berbahayanya <italic id="_italic-51">bystander effect</italic> dikarenakan dapat munculnya persepsi visual yang tidak benar. Fenomena ini menjadi sebuah peringatan untuk kelompok tentang kepedulian dan empati, mengenai apatisme dan rasa awas terkait situasi darurat yang terjadi ditengah keramaian [12].</p>
      <p id="_paragraph-20"><italic id="_italic-52">Bystander effect</italic> sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor yang pernah ditemukan pada penelitian sebelumnya. Bauman et al [14] dalam artikel penelitiannya mengatakan bahwa usia, jenis kelamin, dan juga empati yang dimiliki individu dapat mempengaruhi <italic id="_italic-53">bystander effect.</italic> Adapun faktor lain yang memberikan pengaruh kepada terjadinya <italic id="_italic-54">bystander effect</italic> adalah karena adanya <italic id="_italic-55">bystander </italic>lain dalam sebuah kelompok, yang menyebabkan terjadinya pemikiran bahwa individu lain dapat melakukan pertolongan dan bukan menjadi tanggung jawabnya lagi, adapun faktor lainnya adalah keinginan seseorang untuk menunjukkan perilaku yang sama dengan orang yang ada disekitarnya, sehingga ketika orang lain enggan untuk memberikan pertolongan, maka individu juga merasa dia tidak perlu untuk memberikan pertolongan [15]. Anggapan individu terhadap situasi yang dihadapi juga akan mempengaruhi bagaimana <italic id="_italic-56">bystander effect </italic>terjadi, dimana jika situasi yang dihadapi terbilang tidak serius atau tidak gawat, maka individu akan cenderung enggan untuk memberikan pertolongan [16]. Secara psikologis, beberapa penelitian juga mencoba untuk faktor psikologis yang mempengaruhi <italic id="_italic-57">bystander effect</italic>, salah satunya adalah <italic id="_italic-58">self awareness</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-21">Jika dikaitkan dengan teori <italic id="_italic-59">objective self awareness</italic>, maka <italic id="_italic-60">bystander effect</italic> berkaitan dengan <italic id="_italic-61">self awareness</italic> dimana ketika individu memfokuskan perhatiannya kepada diri sendiri dan selanjutnya Individu akan melakukan perbandingan antara perilaku diri dengan standar yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Individu akan merubah perilakunya ketika ada ketidak sesuaian antara perilaku diri dengan standar yang ditetapkan masyarakat, dan akhirnya akan menyesuaikan perilaku dengan standar yang ada . Bedasarkan pernyataan tersebut maka dapat diasumsikan bahwa <italic id="_italic-62">self awareness</italic> memiliki keterkaitan dengan terjadinya <italic id="_italic-63">bystander effect</italic> [17]. <italic id="_italic-64">Self awareness</italic> sendiri didefinisi sebagai kemampuan seseorang untuk dapat melihat diri sendiri secara jelas dan objektif, dimana <italic id="_italic-65">self awareness</italic> dapat dibagi menjadi dua yaitu <italic id="_italic-66">self awareness </italic>internal dan external,dimana <italic id="_italic-67">self awarenes</italic><italic id="_italic-68">s </italic>internal berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam melihat keadaan internal dirinya seperti minat, kognisi, kepribadian dan tujuan, sedangkan <italic id="_italic-69">self awareness</italic> external yaitu kemapuan seseorang untuk melihat external dirinya seperti penampilan dan juga perilaku diri [18]. <italic id="_italic-70">Self Awarness</italic> tinggi akan mengurangi <italic id="_italic-71">bystander effect</italic> dengan rasa sadar dan tanggung jawab pada tindakan mereka dalam kelompok, dan lebi aktif untuk memberikan bantuan [19].</p>
      <p id="_paragraph-22">Dalam konteks psikologi dan perkembangan pribadi, <italic id="_italic-72">self-awareness</italic> dianggap sebagai langkah awal penting dalam perkembangan diri yang sehat dan penuh kesadaran. <italic id="_italic-73">Self-awareness</italic> membantu individu dalam mengenali kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, tujuan, dan preferensi pribadi mereka, yang pada gilirannya dapat membantu mereka dalam membuat keputusan yang lebih baik, mengelola emosi dengan lebih baik, dan berinteraksi dengan orang lain secara lebih efektif.</p>
      <p id="_paragraph-23">Boyatniz [20] menjelaskan teori mengenai <italic id="_italic-74">self awareness</italic> yang terbagi menjadi 3 aspek. 3 aspek tersebut diantaranya adalah <italic id="_italic-75">emotional awareness, acurrate self,</italic> dan <italic id="_italic-76">self confidence</italic>.<italic id="_italic-77"> Emotional awareness</italic> dapat didefinisikana sebagai kemampuan individu untuk mengenali emosi yang ada didalam diri sekaligus mengetahui dampaknya kepada diri sendiri dan juga hal-hal yang ada diluar individu. <italic id="_italic-78">Accurate self</italic> didefinisikan sebagai adalah kemampuan untuk mengetahui kekuatan dan juga keterbatasan yang ada didalam diri. Sedangkan <italic id="_italic-79">self confidence</italic> didefinisikan sebagai perasaan kepercayaan yang dalam akan kemampuan dari diri sendiri.</p>
      <p id="_paragraph-24">Faktor lain yang diasumsikan dapat mempengaruhi <italic id="_italic-80">bystander effect</italic> adalah religiusitas. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang membahas religiusitas dan <italic id="_italic-81">bystander effect</italic>. Religiusitas sendiri adalah sebuah konstruk yang penting yang dapat mempengaruhi perilaku sehari-hari seseorang dan juga reaksi yang diberikan ketika dihadapkan kepada beberapa situasi tertentu sekaligus pula dianggap sebagai bagian dari kepribadian seseorang yang dapat berpengaruh kepada pengorbanan dan membantu orang lain [21]. Religiusitas dapat didefinisikan sebagai konstruk yang berkaitan dengan sistem kepercayaan, <italic id="_italic-82">values,</italic> dan beberapa praktik agama dalam kehidupan individu sekaligus sebagai indikator seberapa erat individu mengasosiasikan dirinya dengan agama dan kepercayaan yang dia pilih [22]. Beberapa ajaran-ajaran agama besar di dunia secara keseluruhan mendorong dan menganjurkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagai bentuk amal baik yang nantinya akan mendapatkan balasan yang baik oleh entitas yang dipercayai individu tersebut sebagi Tuhan [23]. <italic id="_italic-83">Bystander effect </italic>dipengaruhi oleh religiusitas seseorang, dimana penghayatan nilai-nilai agama dan moral mempengaruhi keinginan seseorang menolong dan selanjutnya memberikan bantuan [24]. Bedasarkan <italic id="_italic-84">self report </italic>dalam penelitian Tsang et al, [25] maka ditemukan bahwa individu yang menganggap dirinya religius memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melakukan perilaku prosial, dimana beberapa aspek religiusitas seperti afiliasi agama, frekuensi kehadiran pada praktik agama, dan komitmen agama ditemukan berkorelasi dengan pemberian donasi, kebaikan, dan kedermawanan. Bedasarkan hal tersebut maka diapat diasumsikan bahwa religiusitas akan berpengasuh kepada perilaku <italic id="_italic-85">bystander effect </italic>dimana individu akan cenderung memberikan pertolongan pada peristiwa tertentu bedasarkan kepercayaan agama yang dia percaya.</p>
      <p id="_paragraph-25">Glock dan Stark [26] mengajukan model religiusitas yang terdiri dari beberapa aspek diantaranya adalah <italic id="_italic-86">beliefs, practices, knowledges, feelings, </italic>dan <italic id="_italic-87">consequences</italic>. Aspek <italic id="_italic-88">beliefs </italic>dapat didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang yang berkaitan dengan hal dogmatik dalam sebuah agama yang dianut. Selanjutnya aspek <italic id="_italic-89">practice</italic> dapat didefinisikan sebagai frekuensi atau seberapa sering seseorang melakukan beberapa kewajiban yang dianjurkan didalam agamanya, selanjutnya aspek <italic id="_italic-90">knowledges</italic> merupakan aspek yang berkaitan dengan pengatuhan dan pemahaman seseorang dalam terkait agama yang dianut yang dapat berasal dari kitab suci atau sumber teks lainnya. Aspek <italic id="_italic-91">feelings</italic> berkaitan dengan perasaan yang dirasakan individu yang berhubungan dengan agamanya, terutama perasaan dekat dengan Tuhan, Aspek <italic id="_italic-92">consequenses/effect</italic> merupakan aspek yang mengukur sejauh mana agama dan kepercayaan yang dia anut telah mempengaruhi kehidupannya terutama dalam berperilaku dan bersosial. Beberapa penelitian mencobha untuk menentukan beberapa faktor yang mempengaruhi religiusitas dimana faktor tersebut diantaranya adalah <italic id="_italic-93">locus of control</italic> dan kepercayaan diri [27]. Faktor lain yang ditemukan dapat mempengaruhi religiusitas individu adalah lingkungan keluarga, dimana orang tua memiliki peranan besar dalam mengenalkan sekaligus mendampingi individu untuk memahami ajaran agama sehingga individu menjadi pribadi yang religius [28].</p>
      <p id="_paragraph-26">Beberapa penelitian terdahulu yang membahas keterkaitan antara <italic id="_italic-94">bystander effect</italic> dengan religiusitas dan <italic id="_italic-95">self awareness</italic> sendiri masih jarang untuk ditemukan. Penelitian yang dilakukan Rahmadhani dan Taufik menemukan bahwa <italic id="_italic-96">self awareness</italic> memiliki hubungan negatif dengan <italic id="_italic-97">bystander effect</italic> <italic id="_italic-98">(r=-416, p-value&lt;0,001)</italic>. Adapun penelitian yang membahas keterkaitan antara religiusitas dengan <italic id="_italic-99">bystander effect</italic> dapat merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Muralidharan dan Pookulangara yang menemukan bahwa religiusitas dapat berpengaruh kepada <italic id="_italic-100">bystander effect</italic> yaitu intensi untuk melakukan intervensi secara langsung [29]. Pencarian literatur yang dilakukan peneliti menemukan bahwa penelitian yang membahas terkait pengaruh antara model religiusitas dan <italic id="_italic-101">self awareness</italic> dan pengaruhnya terhadap <italic id="_italic-102">bystander effect</italic> masih jarang ditemukan terutama dalam kajian ilmu psikologi di Indonesia. Oleh sebab tersebut berdasarkan hal tersebut, artikel penelitian ini bertujuan untuk mengisi <italic id="_italic-103">gap </italic>tersebut sekaligus menambahkan kajian <italic id="_italic-104">bystander effect</italic> yang ditinjau dari aspek religiusitas dan <italic id="_italic-105">self awareness</italic>. Hal tersebut juga menjadi nilai kebaruan yaitu penggabungan dua konsep utama yaitu religiusitas dan <italic id="_italic-106">self </italic>awareness untuk menjelaskan fenomena <italic id="_italic-107">bystanter effect </italic>sehingga menambahkan bidang kajian faktor mengenai <italic id="_italic-108">bystander effect</italic><italic id="_italic-109">.</italic></p>
      <p id="_paragraph-27">Bedasarkan pemaparan dari fenomena dan juga kajian literatur yang dilakukan oleh peneliti. Maka peneliti bermaksud untuk meneliti pengaruh antara religiustas dan <italic id="_italic-110">self awareness</italic> dengan <italic id="_italic-111">bystander effect</italic>. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang diberikan religiusitas dan <italic id="_italic-112">self awareness</italic> terhadap <italic id="_italic-113">bystander effect</italic> pada warga rusun X. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu secara simultan, terdapat pengaruh yang signifikan antara religiusitas dan <italic id="_italic-114">self awareness</italic> terhadap <italic id="_italic-115">bystander effect</italic> pada warga rusun X. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena dari sisi keilmuwan dapat menambahkan referensi mengenai subjek permasalahan penelitian ini, ataupun dari sisi praktis dapat membantu pihak pihak terkait untuk menemukan solusi untuk permasalahan <italic id="_italic-116">bystander</italic><italic id="_italic-117">effect.</italic> Keunikan dari penelitian ini terdapat kelompok populasi penelitian yang berada pada lingkungan rusun dan memiliki rentangan usia dewasa awal hingga dewasa menengah.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>
        <bold id="bold-5cc675f17f51a2bd7037acebb673f01c">Metode</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-28">Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasi yaitu untuk mengukur keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya dalam satu waktu tertentu. Adapun variabel independen dalam penelitian ini adalah variabel religiusitas dan <italic id="_italic-118">self-awareness</italic> sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah variabel <italic id="_italic-119">bystander effect</italic>. Selanjutny populasi dalam penelitian ini adalah Individu yang bertempat tinggal di Rusun X dengan jurnal sebanyak 600 orang. Selanjutnya jumlah sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan tabel <italic id="_italic-120">Krejcie Morgan</italic> dengan taraf kesalahan 5% sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 242 Tehnik sampling data dalam penelitian ini menggunakan metode sampling <italic id="_italic-121">accidental sampling</italic>. Sampel memiliki karakteristik jenis kelamin laki-laki dan wanita dengan rentangan usia yaitu 18-30 tahun, 30 sampai 40 tahun, dan lebih dari 40 tahun.</p>
      <p id="_paragraph-29">Instrumen penelitian menggunakan skala psikologi. Pada variabel religiusitas, peneliti mengadopsi alat ukur skala religiusitas yang disusun oleh Mariyati dan Hazim [26] yang mengacu pada teori religiusitas oleh Glock dan Starks (1965). Skala ini mewakili 5 aspek yaitu <italic id="_italic-122">beliefs, practice/rituals, knowlegde, feelings, </italic>dan <italic id="_italic-123">ethics </italic>dan <italic id="_italic-124">m</italic><italic id="_italic-125">oral</italic>. Skala ini telah diuji validitas dan reliabiliasnya sehingga didapatkan nilai reliabilitas sebesar 0,806. Selanjutnya skala <italic id="_italic-126">self awareness </italic>yang digunakan mengadopsi <italic id="_italic-127">social awareness inventory </italic>(SAI) yang dikemukakan oleh Sheldon pada 1990 dan diadaptasi dalam bahasa Indonesia oleh Farhana dalam Maisarah [30], terdiri atas dua dimensi yaitu <italic id="_italic-128">self experience </italic>dan <italic id="_italic-129">self appearance, </italic>telah melalui uji validitas dan uji reliabilitas dengan nilai koefisien realibilitas sebesar 0,827. Selanjutnya skala <italic id="_italic-130">bystander effect</italic>mengadopsi dari penelitian Maisarah [30] dengan teori <italic id="_italic-131">bystander effect</italic><italic id="_italic-132"> oleh </italic>Latane dan Lida memiliki tiga dimensi yaitu <italic id="_italic-133">diffusion of responsibility, interpretation of ambiguity, </italic>dan <italic id="_italic-134">evaluation apprehension. </italic>Kuesioner <italic id="_italic-135">bystander effect </italic>telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas dengan nilai koefisien realibilitas sebesar 0,854. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan skala likert dengan lima pilihan jawaban yaitu SS (Sangat Sesuai), Sesuai (S), Agak Sesuai (AS), TS (Tidak Sesuai), dan STS (Sangat Tidak Sesuai)</p>
      <p id="_paragraph-30">Setelah data terkumpul nantinya, peneliti akan melakukan analisa regresi linear berganda dengan menggunakan software analsisi JASP versi 0.19.0 .</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>
        <bold id="bold-3b1edfe911b3296de130ce6b35af3704">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <sec id="heading-074c738da6e6133a65f28843f822f315">
        <title>A. <bold id="_bold-20">Hasil</bold></title>
        <p id="_paragraph-32">
          <bold id="_bold-21">Demografi</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-33">Berdasarkan data penelitian yang didapatkan maka dapat ditemukan bahwa sampel penelitian terdiri dari sampel perempuan sebanyak 64 (26,40%) dan laki laki sebanyak 178 (73,60%). Berikut tabel data demografi dari data penelitian</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>
              <bold id="bold-0f5f9179ccdb458d3cb74bb2eb36380b">Tabel 1. Data demografi sampel penelitian</bold>
            </title>
            <p id="_paragraph-35"/>
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-9df40ba1d01317f66441cc798ab773f4">
                <th id="table-cell-65c193768f3c4c9914f6cdea629668a5">Jenis Kelamin</th>
                <th id="table-cell-d26c7f8fe257214a60cc02a484bea98d">Jumlah Sampel</th>
                <th id="table-cell-9ae1aa3f465945152dcb3136cf3ea3a8">Persentase</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-b778be193f0cc7092f0d9d0f2ca310a2">
                <td id="table-cell-94e666170bde63ec3dde2f6c9c39b866">Perempuan</td>
                <td id="table-cell-9f3d300530e356b77ec22ec260f34537">64</td>
                <td id="table-cell-2def2d8e715800d77c6c4a60b73f670a">26,40%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-b4cc6d5ba4b9dbf4bdd642934fb773dd">
                <td id="table-cell-f0572d4e53471acaccd24212f962ae7a">Laki-laki</td>
                <td id="table-cell-33e8c91304f0a62f8c3767e49567d367">178</td>
                <td id="table-cell-619b47222f081c1b088093246dcc78ba">73,60%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-363c1e540faf7ea663525684d2561b25">
                <td id="table-cell-8a6999594985bb88876b1927559f8792">Usia</td>
                <td id="table-cell-1d75b9115d2933827e96914a00e4bcb1">Jumlah Sampel</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-1adb957a5a5886b118d2eae6f3518605">
                <td id="table-cell-0efbf31b49a1673d62a61beb81046714">18-30 Tahun</td>
                <td id="table-cell-4b5543dc3cb9ae1554bff42f89603511">121</td>
                <td id="table-cell-f00145d5473fcc81864e59ddcdb0f611">50%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0ac5561b743314ab939df511c52d3e8f">
                <td id="table-cell-da90b2bc2820b33e628d75026f13a350">30-40 Tahun</td>
                <td id="table-cell-baee6689bc798a8acf230731bcd42220">81</td>
                <td id="table-cell-e237929ad48ae0df1538be675015083e">33,5%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-2ae03b9ab4c480d8d1ec65373665a9d1">
                <td id="table-cell-3f6b7947740a5ab30019d59763dd3d81">&gt;40 Tahun</td>
                <td id="table-cell-67a1f6c52793d40bd4488c9b85add342">40</td>
                <td id="table-cell-27b6862c066e045db442a1c3f41cac37">16,5%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8cd6f335861f45070840bb7def2e83c2">
                <td id="table-cell-ae4e5fbe52b421f303f77f0289749092">Total</td>
                <td id="table-cell-bbd179612bb496e794875e6f0b5a9523">242</td>
                <td id="table-cell-450247047bd6d031bb76e976e0cd92f6">100%</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-36">
          <bold id="_bold-22">Uji Normalitas</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-37">Berdasarkan hasil uji normalitas dengan menggunakan metode grafik, maka dapat ditentukan bahwa data penelitian telah terdistribusi scara normal. Hal ini tersebut berdasarkan grafik berikut. Maka berdasarkan hasil uji normalitas yang dilakukan maka asumsi normalitas telah terpenuhi.</p>
        <fig id="figure-panel-5e3793885b48dc9878bef6c38d0c7c85">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title>Grafik 1.<italic id="_italic-136"> Uji Normalitas</italic></title>
            <p id="paragraph-7b240a3e71e7c5afbe5b875b5ef17f9a"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-9dc57421797e2f53cc7c0ebb674f90fd" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12654-01.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-39">
          <bold id="_bold-23">Uji Linearitas</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-40">Selanjutnya hasil uji linearitas menunjukkan bahwa terdapat hubungan linear anatara variabel <italic id="_italic-137">bystander effect</italic> dengan religiusitas dan <italic id="_italic-138">self awareness</italic>. Hasil ini berdasarkan hasil uji dengan grafik yang berada pada grafik 1 dan grafik 2. Maka, dapat dikatakan bahwa asumsi linearitas telah terpenuhi. Berikut hasil uji yang telah dilakukan.</p>
        <fig id="figure-panel-603869e20f018f74e2ff2f5b28d86165">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title>Grafik 2 Uji Linearitas Religiusitas dan Bystander Effect</title>
            <p id="paragraph-6faea5fe4ac2ea0994798c05eee22656"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-d3fc3bc8c384372aa9025d0d1c955692" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12654-02.png"/>
        </fig>
        <fig id="figure-panel-a332e2cf58a5ff47ac88a2717ef3315f">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>Grafik 3 Uji Linearitas Self Awareness dan Bystander Effect</title>
            <p id="paragraph-4b9cf921cecda131be97dfa2c7501473"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-c058c93b45dafda10b710f664916535c" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="12654-03.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-43">
          <bold id="_bold-24">Uji Multikolinearitas</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-44">Selanjutnya berdasarkan hasil uji multikolinearitas yang dilakukan, maka dapat ditentukan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara kedua variabel. Hal ini berdasarkan tabel berikut. Maka, berdasarkan hasil uji maka dapat disimpulkan bahwa asumsi multikolinearitas telah terpenuhi.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>Tabel 2 Uji Multikolinearitas</title>
            <p id="_paragraph-46"/>
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-a2affced8d525d9aaf7fb6331437fcf1">
                <th id="table-cell-615672eab5bd65ba9ed8df8663c8406e">Variabel</th>
                <th id="table-cell-9ec09b5d22328aafd3a726813a49dbc6">Tolerance</th>
                <th id="table-cell-ec8ea78d9755ee3b6f710d8b28026da5">VIF</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-2f338dd256e79044776aff61d08e867d">
                <td id="table-cell-31987cfca8cca2b5acc7df6175f52081">Religiusitas</td>
                <td id="table-cell-385e11de06b6701d2435a58a96a988d9">0.832</td>
                <td id="table-cell-c5e2c36e4e3ee619565959976e71b3f1">1.202</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-180fdcdc041df6dbcb69a3027ec02f4e">
                <td id="table-cell-0dedcf763274f9804f82395b89ef5d26">Self Awareness</td>
                <td id="table-cell-52f11009e9e8e811ab26244599702006">0.832</td>
                <td id="table-cell-ce9e28269de3d8cdacdedd65e1374a19">1.202</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-47">
          <bold id="_bold-25">Uji Korelasi</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-48">Berdasarkan hasil uji korelasi <italic id="_italic-139">pearson</italic> yang dilakukan, maka dapat ditemukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara religiusitas dan <italic id="_italic-140">self awareness</italic> dengan <italic id="_italic-141">bystander effect</italic>. Nilai korelasi dari religiusitas dan <italic id="_italic-142">bystander effect</italic> yaitu <italic id="_italic-143">r = </italic>-0.383 dan <italic id="_italic-144">p-value </italic>&lt; .001. Selanjutnya nilai korelasi antara <italic id="_italic-145">self awareness</italic> dengan <italic id="_italic-146">bystander effect</italic> yaitu <italic id="_italic-147">r = </italic>-0.443 dan <italic id="_italic-148">p-value </italic>&lt; .001. Berikut hasil uji korelasi yang dilakukan.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-3">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>Tabel 3. Uji Korelasi</title>
            <p id="_paragraph-50"/>
          </caption>
          <table id="_table-3">
            <tbody>
              <tr id="table-row-dae488a03420217ea0a7e4fc0ad9a733">
                <th id="table-cell-a6e186511c94e76d6f326cab9052f338">Variabel</th>
                <th id="table-cell-1afdd189b55356a6f47d902223c5c415">Pearson's r</th>
                <th id="table-cell-ca499c0131b0100729d4f84025d401fe">p-value</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-f1e4d688d77b669575e542762fd82edf">
                <td id="table-cell-ca891d06fe77b77908fb1bd0f7be1d2b">Religiusitas - Bystander Effect</td>
                <td id="table-cell-dc757ff587823baa51f068e94485e5c1">-0.383</td>
                <td id="table-cell-4fbab9215d65fbb3f98f1dc5e2fdc612">&lt; .001</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-1673075cff6730364707362719408d66">
                <td id="table-cell-6d7fe4c6b837bb48c7c32ade3ee6d308">Self Awareness - Bystander Effect</td>
                <td id="table-cell-b7a2f8c70afdf9ef4a344ce2b9fecb1b">-0.443</td>
                <td id="table-cell-576c1ccb5a044b64490058f4cc509222">&lt; .001</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-51">
          <bold id="_bold-26">Uji Regresi Linear</bold>
          <bold id="_bold-27">Berganda</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-52">Berdasarkan uji regresi linear yang telah dilakukan, maka dapat ditentukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan yang diberikan oleh religiustias dan <italic id="_italic-149">self awareness</italic> terhadap <italic id="_italic-150">bystander effect</italic> pada sampel penelitian (<italic id="_italic-151">F = 36,68, p&lt;.001)</italic>. Berikut hasil uji yang telah dilakukan.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-4">
          <label>Table 4</label>
          <caption>
            <title>Tabel 4 Uji F</title>
            <p id="_paragraph-54"/>
          </caption>
          <table id="_table-4">
            <tbody>
              <tr id="table-row-fb689711dd02d61f8c0cd091ade31002">
                <th id="table-cell-c00fce8bef37ceb7c3127d638131e864">Model</th>
                <th id="table-cell-cbd4b42d7a164002ec2826871755207b"/>
                <th id="table-cell-556410bd91a628e61c57451ab1cd5063">Sum of Squares</th>
                <th id="table-cell-19c3f441f248bdb06acfae1725f88dde">df</th>
                <th id="table-cell-88d405e066185f9236e90076337574f7">Mean Square</th>
                <th id="table-cell-5acfe0a1778f153aea576e8e88f2b5a9">F</th>
                <th id="table-cell-bcfabcc2a15750620bf62b7ed9464909">p</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-9affca7c29b54cbc438172c1e4dd2fe5">
                <td id="table-cell-1b815864cfce8a87af40dd56cb9af77e">M₁</td>
                <td id="table-cell-48c2e54790d07d4773634f6d2160ba4a">Regression</td>
                <td id="table-cell-45f50cc4a24f55d83e36cccd33943b97">639.1</td>
                <td id="table-cell-af9546a560044a18b32c1ade3fa82968">2</td>
                <td id="table-cell-daf0ff9dc03a7bbb306499cc436cedb3">319.556</td>
                <td id="table-cell-6511fa5d7ea47175fff4c458af6f4bb0">38.68</td>
                <td id="table-cell-77a111bb42078113ef13180e2b9fe044">&lt; .001</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-8cdea4932a984c229258cf6912856244">
                <td id="table-cell-4d8178a9714e0d16624008decd7d3dcd"/>
                <td id="table-cell-768a2d970fac7e78238c4dbbc0d623e9">Residual</td>
                <td id="table-cell-4add949f1e5bf959a1c9cd6927692326">1,974.4</td>
                <td id="table-cell-5d6bfd5650ff396a13d86d66b2efdf12">239</td>
                <td id="table-cell-67f0123d7c35a0bc70d84c4b31fc99ea">8.261</td>
                <td id="table-cell-42d59b3d3e9e939d1631d903a4dc7135"/>
                <td id="table-cell-a64ed034663834704c4ffd6a9ae6b4cf"/>
              </tr>
              <tr id="table-row-092bc83aad3ee73251dfa022b1dbd5fd">
                <td id="table-cell-4c30900a22ad7280d79bfa25a7809b5c"/>
                <td id="table-cell-46c7211e7c1a4b27299070ee9a18c558">Total</td>
                <td id="table-cell-53b2b166c31e38d50edc1da98271f876">2,613.5</td>
                <td id="table-cell-a412cf3109ae22254fe168c34cc4459e">241</td>
                <td id="table-cell-be541a1d289e3f063b9819f1ccb9ecf5"/>
                <td id="table-cell-7e0eef46228861e89c906cc8e22da55c"/>
                <td id="table-cell-11696f5afc37e6245866a330b917c27e"/>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-55">Selanjutnya berdasarkan hasil uji T dengan menggunakan tabel <italic id="_italic-152">Anova</italic> menunjukkan bahwa secara independent, masing masing variabel religiusitas (<italic id="_italic-153">t = - 3.923, P&lt;.001)</italic> dan <italic id="_italic-154">self awareness</italic> (<italic id="_italic-155">t = - 5.572, P&lt;.001)</italic> memberikan pengaruh yang signifikan dengan arah negatif kepada <italic id="_italic-156">bystander effect</italic>. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat ditentukan bahwa variabel religiusitas dan <italic id="_italic-157">self awareness</italic> dapat memiliki arah hubungan negatif dan berpengaruh secara signifikan kepada perilaku <italic id="_italic-158">bystander effect</italic> dari sampel penelitian.</p>
        <table-wrap id="table-figure-e30acf513c588a75607eb4014471cb50">
          <label>Table 5</label>
          <caption>
            <title>Tabel 5 Uji T</title>
            <p id="paragraph-047c6e5342db33ba97459a97a02524ce"/>
          </caption>
          <table id="table-e063235f87906d49d4f5d451f2c674d7">
            <tbody>
              <tr id="table-row-8cd777423ba39ba51fa78f442a875b2e">
                <td id="table-cell-c0d398246b01cbe853dfa2b3f374f4de" colspan="2">Model</td>
                <td id="table-cell-1fe170d32599838eded64c71f85aeba6">Unstandardized</td>
                <td id="table-cell-f4242450f38e275a07449b7f37f3d88f">Standard Error</td>
                <td id="table-cell-e55ba48d2627d06777e18a15bbd189bc">Standardized</td>
                <td id="table-cell-b34188486a93a8cf79af7ada7bb7c450">t</td>
                <td id="table-cell-0e509df06f61f4738b8b8b18e8d56d6f">p</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-25bfd1f0ddbdd48dc32871623a7d97ae">
                <td id="table-cell-e32b26dc2f46901448ce372fc8eb85bd">M₀</td>
                <td id="table-cell-44359094d72a667c9363f04c189c153e">(Intercept)</td>
                <td id="table-cell-0233e5908d7eaaa3dc0656015d5b7af4">48.079</td>
                <td id="table-cell-8bfcf9d1225facbb37ea58df46df6f52">0.212</td>
                <td id="table-cell-26ca7bf0954aebfbe0918c17dfceb445"/>
                <td id="table-cell-d1c449aa70bf7e85aec2739e18b04629">227.120</td>
                <td id="table-cell-c7748bc63c830f336595413eeba6aa46">&lt; .001</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-622f239e98dfedb929d18d6db1451813">
                <td id="table-cell-7eade33735c8bff35d6823d380ecc898">M₁</td>
                <td id="table-cell-082a7044858c551a928a93cebf29b40f">(Intercept)</td>
                <td id="table-cell-2c01724af6af8cc3bf9d64816cfb6cb9">80.144</td>
                <td id="table-cell-88329ac5751dcae6ad4e8a2608270fdd">4.117</td>
                <td id="table-cell-8495f3f6cb12b0770bb29454014b1104"/>
                <td id="table-cell-4600ee511c016ceb79fc1755b47592d0">19.467</td>
                <td id="table-cell-6ef09eb7477a1077b0977a5175ebbd12">&lt; .001</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-27c5e5008b7bacc7d34f77e4462d65ed">
                <td id="table-cell-7b497636244d3f105a6d0fec8ff4a578"/>
                <td id="table-cell-c96237675c7532059ba007509471d7c3">Religiusitas</td>
                <td id="table-cell-54b432174bd2e3b99eaffed890723a98">-0.149</td>
                <td id="table-cell-b086dadd272bd6ce76d3545809aac0d0">0.038</td>
                <td id="table-cell-d296874d365c57da9a970fa2826fe16d">-0.242</td>
                <td id="table-cell-65b793b670fb9a418df76c355c3b290b">-3.923</td>
                <td id="table-cell-1f4624eb679b8bb7ed8ad25f3cd448fa">&lt; .001</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-568aaf52a76d12b8e775c13df080be6f">
                <td id="table-cell-61ce06ae6ab996cf61cfc17feb79a99e"/>
                <td id="table-cell-7cb21802fa3fadc2a272bb573f090def">Self Awareness</td>
                <td id="table-cell-b0c9ebb0481b01ddc277dfb220777415">-0.327</td>
                <td id="table-cell-612da69562ce046c01b863689bde505e">0.059</td>
                <td id="table-cell-c894ab8712398548597358ad97c9fb28">-0.343</td>
                <td id="table-cell-fbf7981d92fe2d4084cec3463db96dc4">-5.572</td>
                <td id="table-cell-39df0c6e5a5e47e12e497bf4f6b0667c">&lt; .001</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-58">
          <bold id="_bold-28">Sumbangan Efektif</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-59">Hasil Uji Sumbangan Efektif yang dilakukan menemukan bahwa religiusitas dan <italic id="_italic-161">self awareness</italic> memberikan pengaruh secara signifikan kepada <italic id="_italic-162">bystander effect</italic> sebesar 24,5% (<italic id="_italic-163">R² = </italic>0.245). berikut hasil uji sumbangan efektif yang telah dilakukan.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-6">
          <label>Table 6</label>
          <caption>
            <title>Tabel 6 Uji Sumbangan Efektif</title>
            <p id="_paragraph-61"/>
          </caption>
          <table id="_table-6">
            <tbody>
              <tr id="table-row-03ee2a30e4877a99160caa2464c0f811">
                <th id="table-cell-4ba92da25eafade6fe11e728e480aa86">Model</th>
                <th id="table-cell-54faa2f42550debe2affd7f1a7efeffb">R</th>
                <th id="table-cell-ac3d19cf9576ec853fe652ce7d32bbc6">R²</th>
                <th id="table-cell-350dba77a0c33b52a48555dd85ed8536">Adjusted R²</th>
                <th id="table-cell-20de3702360fd0cadd7d4ae69fdb745c">RMSE</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-2c9c57b9fd2f2b9a5451427fb966ecba">
                <td id="table-cell-8c9f0db69d7d64ac02ecaacc6b5dc5a1">M₀</td>
                <td id="table-cell-1c3bc6ab48f97a351509fde9c992cef9">0.000</td>
                <td id="table-cell-926360b80e6f33aca4b0ab1db5579de0">0.000</td>
                <td id="table-cell-20d0b017148951b75d5d474fdc7b83e3">0.000</td>
                <td id="table-cell-78f655effb00c618af70e46606eee2ef">3.293</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-067d4a6e9e92acd6f21c651a57f05dd5">
                <td id="table-cell-efd06789eaeaebab5db74e3dd7da38f3">M₁</td>
                <td id="table-cell-ccd67078d49503632725403bbb532a09">0.495</td>
                <td id="table-cell-f3e9680f1be141eb5127d4f4f68153cd">0.245</td>
                <td id="table-cell-55820a971631e33a83ac177808d97b08">0.238</td>
                <td id="table-cell-58db47cc4bbabf4a697addf489842503">2.874</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-62">
          <bold id="_bold-29">Kategorisasi</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-63">Hasil uji kategorisasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa fenomena <italic id="_italic-164">bystander effect</italic> masih dapat ditemukan pada sampel penelitian. Sebanyak 42 sampel penelitian memiliki tingkat <italic id="_italic-165">bystander effect</italic> yang tinggi (17,4%). Hasil ini bisa menjadi dasar untuk meneliti permasalahan ini lebih lanjut pada penelitian selanjutnya. Berikut kategorisasi penelitian yang telah dilakukan.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-7">
          <label>Table 7</label>
          <caption>
            <title>Tabel 7 Kategorisasi Bystander Effect</title>
            <p id="_paragraph-65"/>
          </caption>
          <table id="_table-7">
            <tbody>
              <tr id="table-row-23c23e1f17c541c02542bfb1833e63f1">
                <th id="table-cell-dd09e153bdb511a31a05042833ee3ecd">Kategori</th>
                <th id="table-cell-cbc7236453647b50e398806281089df9">Frequency</th>
                <th id="table-cell-b4b34aba27a8048899960ccf9779e6dc">Percent</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-79523255cc7758267de6b10cf2f37d39">
                <td id="table-cell-9c5b85084fb5ace9c3fa16a8b5f3a7d5">Rendah</td>
                <td id="table-cell-57c33729f26efadd7c7e7b00c83101e1">32</td>
                <td id="table-cell-c67257d9527810c9d69c4f5814ce4a92">13,2%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ac58caa713c2384549f35a5139ad0c7c">
                <td id="table-cell-e4c9fb2c96690bd108f3e56d9aa0fbe9">Menengah</td>
                <td id="table-cell-9916849d1e919a7cb331c7887b286984">168</td>
                <td id="table-cell-c653a9b9a916dde86c5b7da209458f60">69,4%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f605e13c32b6e27a49cf02d6054d21de">
                <td id="table-cell-176f55a8b9519ab73a1531df32062922">Tinggi</td>
                <td id="table-cell-bddd401d3998a6854fafeb174ee8e5f4">42</td>
                <td id="table-cell-acb146de0c55fd0559f8e52ca5b15247">17,4%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4a29ae11e3fa0254b519c54eaf1c2b27">
                <td id="table-cell-41a12b446232abd2e2b5194a429a3988">Total</td>
                <td id="table-cell-f2ff3b205f2a28ea4464295c0faa8cd4">242</td>
                <td id="table-cell-82e9647e47baee6a574c41dcbad75f38">100%</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
      </sec>
      <sec id="heading-7730004d4d15e4d1492ad6f2483c27ee">
        <title>
          <bold id="bold-c033e52bca1126e1f4d2612c1e29724d">B. Pembahasan</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-67">Bedasarkan hasil uji yang telah dilakukan, maka ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan yang diberikan oleh variabel religiusitas dan <italic id="_italic-166">self awareness</italic> dengan <italic id="_italic-167">bystander effect </italic>(<italic id="_italic-168">F = 36,68, p&lt;.001).</italic> Selain itu juga ditemukan bahwa secara independent, kedua variabel dapat berpengaruh secara negatif dan signifikan kepada variabel <italic id="_italic-169">bystander effect</italic> (<italic id="_italic-170">t = - 3.923, t = - 5.572, P&lt;.001)</italic> . Hasil ini menunjukkan kebenaran hipotesis penelitian yang diajukan oleh peneliti, sehingga hipotesis penelitian dapat diterima.</p>
        <p id="_paragraph-68">Hasil penelitian ini juga sejalan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmadhani [19] yang menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara <italic id="_italic-171">self awareness</italic> dan <italic id="_italic-172">bystander effect</italic><italic id="_italic-173"> (r=-416, p&lt;0,001)</italic>. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh La Ferle dan Muralidharan yang menyatakan bahwa kepercayaan dan simbol agama yang dipercayai oleh individu dapat mendorong individu untuk melakukan tindakan ketika melihat ada kekerasan yang terjadi (<italic id="_italic-174">t=-4.183,p&lt;0.001)</italic>. Selanjutnya analisis meta yang dilakukan oleh Kelly et al menunjukkan bahwa religiusitas berkorelasi secara signifikan kepada perilaku prososial (<italic id="_italic-175">r = 0,13) </italic>sehingga akan memperbesar kemungkinan seseorang memberikan bantuan kepada orang lain dan tidak mengalami <italic id="_italic-176">bystander effect</italic>[23].</p>
        <p id="_paragraph-69"><italic id="_italic-177">Bystander effect</italic> merupakan sebuah fenomena individu memiliki pilihan untuk memberikan kepada orang asing di tempat umum, dimana individu akan mempertimbangkan pro dan kontra yang akan terjadi apabila mereka memutuskan untuk terlibat dan memberikan pertolongan [31]. <italic id="_italic-178">Self-Awareness</italic> merupakan sebuah keadaan dimana individu dapat memahamahi keadaan dirinya dan beradaptasi dengan apa yang terjadi dengan lingkungan, dimana individu yang <italic id="_italic-179">aware</italic> kepada diri memiliki potensi untuk memahami keadaan sosial yang dihadapi individu lain [32].</p>
        <p id="_paragraph-70">Adanya peningkatan <italic id="_italic-180">awareness</italic> pada diri individu dapat lebih <italic id="_italic-181">aware</italic> terkait apa yang terjadi disekitarnya, sehingga dia dapat mengambil beberapa langkah yang tepat sesuai dengan situasi yang dia rasakan [33]. Sehingga adanya <italic id="_italic-182">self awareness</italic> pada diri individu akan meningkatkan kemungkinan individu untuk tidak terjebak kedalam <italic id="_italic-183">bystander effect</italic> karena dia dapat memahami kondisi orang lain yang memerlukan bantuan disekitarnya.</p>
        <p id="_paragraph-71">Glenn menjelaskan bahwa salah satu ciri <italic id="_italic-184">self awareness</italic> pada seseorang adalah adanya pengembangan kontrol diri terhadap stimulus yang tepat [34]. Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa individu akan cenderung memberikan pertimbangan ketika akan memberikan pertolongan kepada seseorang di tempat umum. <italic id="_italic-185">Bystander effect</italic> sendiri memiliki beberapa tahapan, diantaranya adalah terjadinya kondisi mendesak disekitar individu, selanjutnya kondisi mendesak tersebut akan menarik perhatian orang lain, lalu individu akan mulai mengukur kemampuan yang dia miliki untuk memberikan pertolongan sekaligus berapa jumlah orang yang ada disekitar, dan akhirnya individu akan memutuskan apakah akan memberikan pertolongan atau tidak [35]. Maka, dapat dikatakan bahwa apabila individu memiliki persepsi yang baik akan kemampuan yang dimiliki sekaligus memiliki <italic id="_italic-186">self awareness</italic> yang baik, dia akan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memberikan pertolongan kepada individu yang terdesak.</p>
        <p id="_paragraph-72">Religiusitas berkaitan dengan spiritualitas yang dimiliki seseorang dimana yang menggambarkan kekuatan diri yang terdiri dari kepercayaan dan praktik yang dipercayai, dimana individu tersebut mempercayai kekuatan yang lebih tinggi dan bersifat transendental. <italic id="_italic-187">Religiusitas</italic> memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan perilaku prososial karena beberapa ajaran dalam agama sangat menekankan perilaku menolong orang yang membutuhkan [36]. Adapun alasan sosial juga dapat menjelaskan mengapa religiusitas dapat terkait dengan <italic id="_italic-188">bystander effect</italic> karena agama sangat menekankan perilaku sosial yang positif seperti membantu orang lain dan akan ada balasan yang didapatkan ketika individu membantu orang yang kesusahan [37]. Ajaran menolong orang lain pada agama dapat mendorong individu untuk memberikan bantuan kepada orang lain daripada terjebak dalam <italic id="_italic-189">bystander effect</italic>. Individu dengan religiusitas yang tinggi memiliki kecenderungan untuk membantu yang lebih tinggi, namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecenderungan tersebut seperti <italic id="_italic-190">emotional expresiveness</italic> atau seberapa jauh seseorang dapat mengekpresikan atau merasakan emosi yang dia rasakan [38].</p>
        <p id="_paragraph-73">Hasil sumbangan efektif menunjukkan bahwa religiusitas dan <italic id="_italic-191">self awareness</italic> berpengaruh kepada <italic id="_italic-192">bystander effect </italic>dari sampel penelitian sebesar 24,5%. Maka, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 75,5% fenomena <italic id="_italic-193">bystander effect</italic> pada sampel penelitian dipengaruhi oleh variabel lain selain religiusitas dan <italic id="_italic-194">self awareness</italic>. Beberapa referensi menunjukkan faktor lain yang dapat memberikan pengaruh kepada <italic id="_italic-195">bystander effect</italic> diantaranya adalah faktor situasional, faktor personal, dan faktor sosial [39]. Faktor seperti jumlah orang dalam sebuah kelompok juga dapat mempengaruhi tingkat <italic id="_italic-196">bystander effect</italic> dari orang-orang pada kelompok tersebut [40].</p>
        <p id="_paragraph-74">Lebih lanjut, ditemukan pula bahwa pada kategorisasi data <italic id="_italic-197">bystaner effect</italic> yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat 42 sampel (17,4%) memiliki tingkat <italic id="_italic-198">bystander effect</italic> yang tinggi. Dara tersebut menunjukkan bahwa masih ada beberapa individu yang tingkatan <italic id="_italic-199">bystander effect</italic> yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sampel lainnya. Mayoritas sampel berjenis kelamin laki-laki, dimana berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yule et al [41], kepercayaan berbasis gender <italic id="_italic-200">(gender based belief)</italic> bersama dengan empati dapat mempengaruhi perilaku <italic id="_italic-201">bystander effect</italic> dari seseorang. Hasil penelitian ini mungkin relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yule et al [41], dimana jenis kelamin dan juga persepsi gender berpengaruh pada <italic id="_italic-202">bystander effect</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-75">Hasil Penelitian dapat menjadi referensi ilmiah untuk penelitian selanjutnya dalam bidang psikologi, khususnya yang berkaitan dengan <italic id="_italic-203">bystander effect</italic> atau yang membahas mengenai subjek dengan yang tinggal dan memiliki ciri <italic id="_italic-204">suburban</italic>.. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan refensi ilmiah dalam pelaksanaan konseling, edukasi, dan intervensi psikologi sosial atau bidang terkait.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>
        <bold id="bold-93d6653faca1fb208725574145efaf75">Simpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-76">Temuan dalam penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan yang diberikan oleh religiusitas terhadap <italic id="_italic-205">bystander effect</italic> pada populasi warga Rusunawa X Sidoarjo. Artinya hipotesa dalam penelitian ini dapat diterima. Keterkaitan hasil penelitian ini adalah untuk meningkatkan <italic id="_italic-206">self awareness</italic> dan religiusitas pada warga rusun, yang dapat dilakukan salah satunya dengan memberikan psikoedukasi dalambentuk poster atau spanduk serta kegiatan pengajian bersama yang diselenggarakan oleh pengelolah rusun/pemerintah. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga terkait <italic id="_italic-207">self awareness</italic> dan religiusitas dan pentingnya bertindak ketika berada dalam situasi yang memungkinkan munculnya <italic id="_italic-208">bystander effect</italic>. Penelitian ini juga dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya di bidang psikologi sosial yang berkaitan dengan <italic id="_italic-209">bystander effect</italic>. BelYakni melibatkan variabel lainnya dengan variabel <italic id="_italic-210">bystander effect</italic> untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam dan kompleks, memperluas subyek penelitan seperti di daerah lain yang memiliki karakter berbedah dengan subyek penelitian saat ini, seperti kelompok warga pada desa atau penelitian yang bersifat eksperimen yang dapat meningkatkan <italic id="_italic-211">bystander effect</italic>.</p>
      <p id="paragraph-2f99c46e2e36ce9447d5541772ff777b">
        <bold id="bold-f03ca025fe00ef00b67ea946432a7249">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-77">Peneliti mengucapkan terima kasih kepada kepada warga rusunawa X Sidoarjo yang telah bersedia untuk menjadi partisipan dan bersedia mengisi data penelitian yang telah diberikan sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.</p>
    </sec>
  </body>
  <back/>
</article>
