<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Teacher Strategies for Handling Slow Learners with Speech Delay: A Case Study of Students at PKK Tunas Bangsa Kindergarten</article-title>
        <subtitle>Strategi Guru Dalam Menangani Anak Slow learner Dengan Speech	delay: Studi Kasus Pada Siswa TK PKK Tunas Bangsa</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Riwayanti</surname>
            <given-names>Melti</given-names>
          </name>
          <email>luluk.iffatur@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Rocmah</surname>
            <given-names>Luluk Iffatur</given-names>
          </name>
          <email>luluk.iffatur@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-10-26">
          <day>26</day>
          <month>10</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>26</day><month>10</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-10">Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan fondasi penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Pada masa ini, anak berada pada fase perkembangan yang sangat pesat, baik dari aspek kognitif, bahasa, sosial-emosional, maupun motorik. Masa usia dini sering disebut sebagai masa emas (golden age). Anak usia dini merupakan individu yang berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung sangat cepat, bahkan sering disebut sebagai fase dengan lonjakan perkembangan yang signifikan. Pada masa ini, anak masih berada dalam tahap bermain sebagai bagian utama dari proses belajarnya. Mereka mulai mengenal dunia yang lebih luas di luar lingkungan keluarga. Selain itu, periode usia dini merupakan fase yang sangat berharga dibandingkan dengan tahap usia berikutnya, karena pada masa ini perkembangan kecerdasan anak berlangsung dengan sangat pesat dan optimal. Oleh karena itu, pendidikan yang tepat dan sesuai dengan karakteristik anak sangat diperlukan agar seluruh potensi yang dimiliki anak dapat berkembang secara optimal. [1]</p>
      <p id="_paragraph-11">Salah satu aspek perkembangan yang penting dalam pendidikan anak usia dini adalah kemampuan bahasa. Kemampuan bahasa menjadi dasar bagi anak untuk berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, serta memahami lingkungan sekitarnya. Perkembangan bahasa yang optimal akan mendukung keberhasilan anak dalam proses pembelajaran di jenjang pendidikan berikutnya. [2] Kemampuan berbahasa atau berkomunikasi menjadi faktor penting dalam perkembangan anak, karena melalui bahasa atau komunikasi anak dapat belajar banyak dari kosa kata baru, istilah istilah baru, dan mengerti makna yang ia ucapkan. Namun, masih ada anak yang terhambat dalam hal ini, sehingga kemampuan berbahasanya kurang bisa atau disebut <italic id="_italic-76">speech delay</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-12">Keterlambatan berbicara (<italic id="_italic-77">speech delay</italic>) pada anak merupakan kondisi dimana perkembangan kemampuan berbicara tidak mencapai tahap yang seharusnya sesuai dengan usia anak. Hal ini dapat diamati melalui ketidakjelasan artikulasi serta keterbatasan dalam pemilihan kata yang diucapkan. Anak yang mengalami gangguan bicara, khususnya keterlambatan berbicara, memerlukan pemberian stimulasi yang tepat, baik dari orang tua, guru, pengasuh, maupun lingkungan sekitarnya. [3] Kondisi ini dapat ditandai dengan keterbatasan kosakata, kesulitan mengucapkan kata, maupun kurangnya kemampuan dalam menyusun kalimat. Jika tidak ditangani dengan tepat, keterlambatan ini dapat berdampak pada perkembangan sosial dan akademik anak di masa mendatang.</p>
      <p id="_paragraph-13">Selain itu, terdapat pula anak dengan karakteristik <italic id="_italic-78">slow</italic><italic id="_italic-79">learner</italic>atau lamban belajar. Lambat belajar (<italic id="_italic-80">slow</italic><italic id="_italic-81">learner</italic>)</p>
      <p id="_paragraph-14">merupakan salah satu kondisi yang dapat diamati selama proses belajar mengajar di kelas. Secara sederhana, lambat belajar merujuk pada keadaan ketika peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami atau menafsirkan materi pembelajaran dengan tepat. Permasalahan ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mencapai kualitas pembelajaran yang optimal, serta menjadi tanggung jawab guru untuk menemukan solusi yang tepat. [4] Anak <italic id="_italic-82">slow learner</italic>pada umumnya mereka memiliki kemampuan berpikir yang berbeda gengan anak yang normal pada umumnya sehingga dalam proses menerima informasi atau materi yang disampaiakan oleh guru cenderung lambat dan di bawah rata-rata, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dalam memahami suatu materi pembelajaran yang diterima. Anak dengan kondisi ini cenderung mengalami kesulitan dan keterlambatan dalam menerima pemahaman, sehingga mereka lebih lambat untuk merespon dibandingkan teman sebayanya Kondisi <italic id="_italic-83">slow learner </italic>seringkali berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan, termasuk perkembangan bahasa. Siswa <italic id="_italic-84">slow learner </italic>umumnya memiliki kemampuan intelektual yang berada sedikit di bawah rata-rata. Kondisi ini membutuhkan perhatian dan penanganan khusus dalam proses pembelajaran, terutama di tingkat sekolah dasar yang menjadi dasar bagi perkembangan akademik pada tahap berikutnya. [5]</p>
      <p id="_paragraph-15">Secara umum, kondisi <italic id="_italic-85">slow</italic><italic id="_italic-86">learner</italic>berkaitan dengan kemampuan daya serap dan tingkat kecerdasan peserta didik yang berada di bawah rata-rata. Hal tersebut menyebabkan peserta didik membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru, khususnya dalam pembelajaran daring. Situasi ini menjadi semakin kompleks karena system pembelajaran daring menuntut tingkat kemandirian belajar yang tinggi dari peserta didik, sehingga anak dengan kondisi lambat belajar menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam mengikuti proses pembelajaran. Namun, lingkungan yang mendukung bisa membuat anak <italic id="_italic-87">slow</italic><italic id="_italic-88">learner</italic>lebih percaya diri dalam belajar. Lingkungan pembelajaran yang bersifat inklusif memberikan kesempatan bagi siswa <italic id="_italic-89">slow learner</italic>untuk merasa diterima sebagai bagian dari komunitas di kelas. Perasaan memiliki tersebut sangat berpengaruh dalam membentuk identitas diri mereka sebagai seorang pelajar. Selain itu, interaksi yang positif dengan teman sebaya dapat membantu meningkatkan kemampuan sosial siswa. Hubungan sosial yang baik juga dapat meminimalkan rasa terasing yang kerap dirasakan oleh siswa <italic id="_italic-90">slow learner </italic>. [6]</p>
      <p id="_paragraph-16">Permasalahan menjadi semakin kompleks ketika anak mengalami <italic id="_italic-91">slow</italic><italic id="_italic-92">learner</italic>yang disertai dengan <italic id="_italic-93">speech delay</italic>. Keterlambatan berbicara atau <italic id="_italic-94">speech delay</italic>merupakan salah satu gangguan perkembangan yang cukup sering dijumpai pada anak. Pada usia dini, khususnya rentang 3 hingga 5 tahun, setiap anak memiliki kemampuan berbahasa yang berbeda-beda. Sebagian anak mengalami keterlambatan dalam berbicara, yang ditandai dengan rentang perhatian yang singkat, lambat dalam merespons pertanyaan, atau bahkan belum mampu memahami instruksi dengan baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses tumbuh kembang anak berlangsung secara unik sesuai dengan pengalaman hidup masing-masing.</p>
      <p id="_paragraph-17"><italic id="_italic-95">Speech</italic><italic id="_italic-96">delay</italic>sendiri dapat diartikan sebagai kondisi ketika anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kata-kata secara jelas. Salah satu penyebab yang sering terjadi adalah kurangnya stimulasi komunikasi, misalnya akibat terlalu sering menonton, sehingga anak lebih banyak menerima informasi secara pasif tanpa terdorong untuk berbicara. Selain itu, terdapat berbagai faktor lain yang mempengaruhi keterlambatan bicara. Berdasarkan penelitian Yulianda (2019), faktor penyebab tersebut terbagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi aspek genetika, adanya gangguan fisik, disfungsi neurologis, kelahiran prematur, serta jenis kelamin. Sementara itu, faktor eksternal mencakup urutan atau jumlah anak dalam keluarga, tingkat pendidikan ibu, kondisi ekonomi, fungsi keluarga, serta penggunaan lebih dari satu bahasa (bilingual). [7]</p>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Febri Dwiyanto dan Nova Estu Harsiwi berjudul <italic id="_italic-97">Upaya Guru dalam Meningkatkan Anak Slow learner</italic><italic id="_italic-98">dalam Pembelajaran di SDN Baddurih </italic>menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran anak <italic id="_italic-99">slow learner</italic>dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel, serta menjalin kerja sama dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada fokus pembahasan mengenai strategi guru dalam mendampingi anak <italic id="_italic-100">slow learner </italic>. Perbedaannya, penelitian Febri Dwiyanto dan Nova Estu Harsiwi hanya berfokus pada anak dengan kondisi <italic id="_italic-101">slow learner</italic>di jenjang sekolah dasar, sedangkan penelitian ini mengkaji strategi guru dalam menangani anak usia dini yang mengalami dua kondisi sekaligus, yaitu <italic id="_italic-102">slow</italic><italic id="_italic-103">learner</italic>dan <italic id="_italic-104">speech</italic><italic id="_italic-105">delay</italic>. Dengan demikian, penelitian ini memberikan pembahasan yang lebih spesifik mengenai penanganan anak dengan kebutuhan ganda pada jenjang pendidikan anak usia dini.</p>
      <p id="_paragraph-19">Sedangkan Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mauzifa<bold id="_bold-24">, </bold>Lulu Nur Lathiifah Jamiilah<bold id="_bold-25">, </bold>Subhi Amali<bold id="_bold-26">, </bold>Ahmad Shabri<bold id="_bold-27">, </bold>dan Uus Ruswandi berjudul <italic id="_italic-106">Memahami Perkembangan Siswa Slow learner : Implikasi Strategi dan Efektivitas Pembelajaran </italic>menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik siswa mampu meningkatkan perkembangan akademik maupun perilaku peserta didik <italic id="_italic-107">slow learner </italic>.</p>
      <p id="_paragraph-20">Kombinasi kedua kondisi ini menuntut perhatian khusus dari guru, karena anak tidak hanya mengalami keterlambatan dalam memahami pembelajaran, tetapi juga kesulitan dalam berkomunikasi. Hal ini dapat memengaruhi interaksi sosial anak di lingkungan sekolah serta menghambat proses pembelajaran secara keseluruhan. Dalam konteks pendidikan di taman kanak-kanak, guru memiliki peran yang sangat penting dalam mengidentifikasi serta menangani permasalahan perkembangan anak. Guru berfungsi sebagai fasilitator yang menyediakan rangsangan bahasa melalui suasana belajar yang menarik, memberikan arahan, umpan balik yang sesuai, serta menyusun tugas yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. [8]</p>
      <p id="_paragraph-21">Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan pembimbing yang mampu menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus yang tepat dan efektif dalam menangani anak <italic id="_italic-108">slow learner</italic>dengan <italic id="_italic-109">speech delay</italic>agar mereka tetap dapat berkembang secara optimal. Strategi guru yang digunakan harus benar benar efektif untuk menangani anak <italic id="_italic-110">slow learner</italic>dengan <italic id="_italic-111">speech delay</italic>. Strategi guru dalam menangani siswa <italic id="_italic-112">slow learner</italic>meliputi beberapa aspek penting. Pertama, pada pengelolaan kelas, guru menerapkan penataan tempat duduk dengan menempatkan siswa <italic id="_italic-113">slow learner</italic>di bagian depan agar lebih mudah memperoleh perhatian dan bimbingan. Selain itu, guru menggunakan metode serta media pembelajaran yang beragam untuk menciptakan suasana belajar yang menarik, menyenangkan, dan mampu meningkatkan minat belajar, baik bagi siswa <italic id="_italic-114">slow</italic><italic id="_italic-115">learner</italic>maupun siswa reguler. Kedua, dalam memberikan motivasi, guru berupaya membangun kepercayaan diri siswa <italic id="_italic-116">slow learner</italic>melalui berbagai bentuk penguatan positif, seperti memberikan pujian, tepuk tangan, maupun afirmasi yang dapat mendorong semangat belajar mereka. Ketiga, dalam proses pembelajaran, guru memberikan perlakuan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa <italic id="_italic-117">slow learner </italic>. Hal ini dilakukan oleh TK PKK Tunas Bangsa berdasarkan wawancara kepada guru kelas dan observasi secara langsung di lokasi, TK tersebut melakukan strategi melalui pengulangan materi menggunakan bahasa yang lebih sederhana agar lebih mudah dipahami, pendampingan secara intensif saat istirahat dengan mengajaknya berkomunikasi, memperhatikannya dengan bertanya terkait materi kelas, serta pemberian waktu tambahan sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mempelajari kembali materi pembelajaran secara lebih optimal, baik di sekolah maupun di rumah.</p>
      <p id="_paragraph-22">Di lingkungan pendidikan anak usia dini, keberadaan anak dengan karakteristik <italic id="_italic-118">slow learner</italic>yang disertai dengan <italic id="_italic-119">speech delay</italic>menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran secara efektif. Salah satu lembaga yang menghadapi kondisi tersebut adalah TK PKK Tunas Bangsa. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan adanya beberapa permasalahan yang mengindikasikan keberadaan serta dampak dari anak dengan kondisi tersebut. Ada beberapa karakteristik yang terdapat pada anak yang <italic id="_italic-120">slow learner</italic>dengan <italic id="_italic-121">speech delay</italic>. Pertama, terdapat anak yang menunjukkan karakteristik <italic id="_italic-122">slow learner</italic>sekaligus mengalami keterlambatan berbicara (<italic id="_italic-123">speech delay</italic>), sehingga anak mengalami kesulitan dalam memahami instruksi sederhana serta membutuhkan waktu yang lebih lama dalam merespon pembelajaran dibandingkan teman sebayanya. Kedua, kemampuan komunikasi anak yang masih terbatas menyebabkan anak kurang mampu mengekspresikan keinginan maupun pemahamannya secara verbal, sehingga interaksi dengan guru maupun teman menjadi kurang optimal. Ketiga, strategi pembelajaran yang diterapkan guru masih bersifat umum dan belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan khusus anak, sehingga proses pembelajaran kurang maksimal bagi anak dengan kondisi tersebut. Keterbatasan stimulasi yang diberikan oleh lingkungan keluarga turut menjadi faktor penghambat, karena minimnya pendampingan serta kesempatan berlatih komunikasi di rumah dapat memperlambat perkembangan bahasa anak. Di samping itu, kegiatan pembelajaran tambahan maupun penguatan yang dilaksanakan di sekolah belum sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, sehingga upaya untuk mengoptimalkan perkembangan mereka belum dapat tercapai secara maksimal.</p>
      <p id="_paragraph-23">Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Qurotul Aini dan Putri Alifia berjudul <italic id="_italic-124">Gangguan Keterlambatan Berbicara (Speech delay) pada Anak Usia 6 Tahun di RA An-Nuur Subang </italic>menunjukkan bahwa lingkungan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbicara anak. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas anak yang mengalami <italic id="_italic-125">speech delay</italic>. Namun, penelitian Qurotul Aini dan Putri Alifia lebih menitikberatkan pada faktor penyebab keterlambatan berbicara, sedangkan penelitian ini berfokus pada strategi yang diterapkan guru dalam memberikan layanan pembelajaran kepada anak yang mengalami <italic id="_italic-126">speech</italic><italic id="_italic-127">delay </italic>sekaligus <italic id="_italic-128">slow</italic><italic id="_italic-129">learner</italic>. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi kondisi anak, tetapi juga mengkaji bentuk penanganan yang dilakukan di lingkungan sekolah. Adapun Penelitian yang dilakukan oleh Sri Ayu Laali<bold id="_bold-28">, </bold>Hasna Kobaa, dan Windi I. Kile berjudul <italic id="_italic-130">Bimbingan Belajar terhadap Anak Speech delay </italic>menunjukkan bahwa pemberian bimbingan belajar secara terarah mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, keberanian berbicara, dan interaksi sosial anak yang mengalami <italic id="_italic-131">speech delay</italic>. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada upaya pemberian layanan kepada anak yang mengalami keterlambatan berbicara. Perbedaannya, penelitian Sri Ayu Laali dan rekan-rekan berfokus pada pelaksanaan bimbingan belajar sebagai bentuk intervensi, sedangkan penelitian ini mengkaji strategi guru yang diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari pada anak yang mengalami <italic id="_italic-132">speech</italic><italic id="_italic-133">delay</italic>sekaligus <italic id="_italic-134">slow</italic><italic id="_italic-135">learner</italic>. Dengan demikian, penelitian ini memiliki ruang lingkup yang lebih luas karena tidak hanya membahas peningkatan kemampuan berbicara, tetapi juga strategi pembelajaran untuk mengembangkan aspek kognitif, bahasa, dan sosial anak.</p>
      <p id="_paragraph-24">Setiap peserta didik memiliki kecepatan belajar yang berbeda, sehingga proses pembelajaran perlu dirancang secara fleksibel agar dapat mengakomodasi kebutuhan mereka. Pada peserta didik yang mengalami lamban belajar, guru dituntut untuk memberikan kesempatan belajar yang lebih banyak melalui pendekatan yang adaptif dan berpusat pada siswa. Penyesuaian metode, materi, maupun bentuk evaluasi menjadi penting untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, peran guru tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu peserta didik mengembangkan potensinya secara bertahap dan berkelanjutan.[9]</p>
      <p id="_paragraph-25">Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami secara mendalam strategi yang diterapkan guru dalam menangani anak <italic id="_italic-136">slow</italic><italic id="_italic-137">learner</italic>dengan <italic id="_italic-138">speech</italic><italic id="_italic-139">delay</italic>melalui pendekatan studi kasus. Penelitian ini berfokus pada berbagai strategi yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, meliputi</p>
      <p id="_paragraph-26">pengelolaan kelas, pemilihan metode dan media pembelajaran, pemberian motivasi, serta bentuk pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik sehingga dapat mendukung perkembangan kemampuan belajar dan komunikasi mereka. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa kasus anak yang mengalami <italic id="_italic-140">slow learner</italic>disertai <italic id="_italic-141">speech delay </italic>secara bersamaan belum ditemukan di taman kanak-kanak lain yang menjadi lokasi pengamatan awal peneliti. Kondisi tersebut menjadikan sekolah yang menjadi lokasi penelitian memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga menarik untuk dikaji lebih mendalam melalui pendekatan studi kasus guna memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai strategi guru dalam menangani peserta didik dengan kedua kondisi tersebut. Sedangkan, di TK PKK Tunas Bangsa, ditemukan adanya peserta didik yang menunjukkan karakteristik <italic id="_italic-142">slow</italic><italic id="_italic-143">learner</italic>disertai dengan keterlambatan berbicara. Anak cenderung mengalami kesulitan dalam memahami instruksi yang diberikan guru serta kurang mampu mengekspresikan keinginannya secara verbal. Selain itu, metode pembelajaran yang masih bersifat umum dan belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan anak menyebabkan proses pembelajaran kurang maksimal bagi anak dengan kondisi tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan kajian lebih mendalam mengenai upaya-upaya yang lebih khusus dalam menangani anak yang memiliki permasalahan <italic id="_italic-144">slow learner</italic>dengan <italic id="_italic-145">speech delay</italic>pada Siswa TK PKK Tunas Bangsa” dengan harapan dapat memberikan gambaran serta kontribusi dalam pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan anak.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-27">Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan tujuan untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi pada anak <italic id="_italic-146">slow</italic><italic id="_italic-147">learner</italic>dengan <italic id="_italic-148">speech</italic><italic id="_italic-149">delay</italic>dalam konteks alami, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Studi kasus (<italic id="_italic-150">case study </italic>atau <italic id="_italic-151">case studies</italic>) merupakan salah satu pendekatan penelitian yang berfokus pada pengkajian mendalam terhadap suatu kasus tertentu. Istilah “kasus” berasal dari kata case yang memiliki makna peristiwa, fenomena, atau objek kajian yang bersifat spesifik dan memiliki cakupan yang luas. Dalam penelitian studi kasus, objek yang diteliti dipahami sebagai suatu “sistem yang terikat”, yaitu fenomena yang dibatasi oleh waktu dan tempat tertentu.</p>
      <p id="_paragraph-28">Studi kasus merupakan suatu bentuk eksplorasi terhadap satu atau beberapa kasus yang dikaji secara mendalam melalui pengumpulan data yang komprehensif dari berbagai sumber informasi. Kasus yang diteliti dapat berupa program, peristiwa, aktivitas, individu, maupun kelompok sosial dalam konteks tertentu. Dengan demikian, penelitian studi kasus bertujuan untuk menggali suatu fenomena secara rinci dalam suatu periode waktu tertentu dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh dan mendalam mengenai kasus yang diteliti. [10] Studi kasus (case study) berfokus pada pengkajian mendalam terhadap suatu kejadian, individu, kelompok, maupun aktivitas tertentu. Istilah case merujuk pada suatu peristiwa atau fenomena yang dikaji secara khusus dalam konteks tertentu. Dalam penelitian studi kasus, objek yang diteliti disebut sebagai “sistem terbatas”, yaitu fenomena yang memiliki batasan waktu, tempat, dan kondisi tertentu, sehingga tidak dapat digeneralisasikan secara luas.</p>
      <p id="_paragraph-29">Menurut Lincoln dan Guba yang dikutip dalam Mulyana, studi kasus memiliki sejumlah keunggulan penting. Pertama, studi kasus menjadi sarana utama dalam penelitian emik karena mampu menampilkan sudut pandang subjek yang diteliti secara langsung. Kedua, pendekatan ini memberikan gambaran yang utuh dan mendalam, sehingga pembaca dapat merasakan situasi yang serupa dengan kehidupan sehari-hari (realitas keseharian). Ketiga, studi kasus efektif dalam memperlihatkan hubungan yang terjalin antara peneliti dengan subjek atau informan.Keempat, studi kasus memungkinkan pembaca menemukan konsistensi internal, baik dari segi gaya penulisan, fakta, maupun tingkat kepercayaan data (trustworthiness). Kelima, studi kasus menyajikan deskripsi yang rinci (thick description) sehingga memudahkan penilaian terhadap kemungkinan penerapan hasil penelitian pada konteks lain (transferabilitas). Keenam, pendekatan ini memberikan ruang bagi pembaca untuk menilai konteks yang memengaruhi pemaknaan suatu fenomena. [11]</p>
      <p id="_paragraph-30">Berdasarkan berbagai keunggulan tersebut, penelitian studi kasus mampu memberikan pemahaman yang mendalam, jelas, dan akurat terhadap suatu peristiwa atau masalah. Selain itu, studi kasus juga memungkinkan adanya berbagai interpretasi dari pihak lain terhadap konteks yang diteliti, sehingga hasil penelitianmenjadi lebih kaya dan komprehensif. Selain keunggulan, studi kasus juga memiliki kelemahan, berikut kelemahan yang ada pada studi kasus Pertama, dalam konteks penelitian kuantitatif, studi kasus sering diperdebatkan terutama terkait aspek reliabilitas, validitas, dan kemampuan generalisasi hasil penelitian. Kedua, metode studi kasus dinilai kurang sesuai apabila digunakan dalam penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melakukan generalisasi. Ketiga, studi kasus yang bersifat observasional menuntut peneliti untuk terlibat secara langsung di lapangan agar memperoleh data yang akurat dan valid. [12]</p>
      <p id="_paragraph-31">Menurut Stake (1994), tujuan utama penelitian studi kasus adalah untuk memahami secara mendalam karakteristik khusus atau keunikan yang terdapat pada suatu kasus. [13] Oleh karena itu, penelitian ini tidak berfokus pada generalisasi, melainkan pada pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena yang diteliti. Pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini karena peneliti ingin menggali secara rinci terkait peran guru dan strategi dalam mengatasi anak <italic id="_italic-152">slow learner</italic>dengan <italic id="_italic-153">speech delay</italic>. Subjek penelitian ini adalah seorang anak usia 5 Tahun yang berada pada jenjang TK di salah satu lembaga pendidikan yang menjadi lokasi penelitian yaitu TK PKK Tunas Bangsa Sidorejo. Selain itu, guru kelas yang juga berperan sebagai Guru Pembimbing Khusus (GPK) dijadikan sebagai</p>
      <p id="_paragraph-32">informan pendukung untuk melengkapi data Penentuan subjek dilakukan dengan teknik purposive, yaitu berdasarkan pertimbangan bahwa Syabil memiliki keterlambatan dalam menerima materi dan sesuai dengan fokus penelitian serta dinilai mampu memberikan informasi yang dibutuhkan. Lingkungan sekolah yang menerapkan pendekatan inklusif turut memperkuat kesesuaian lokasi penelitian dengan topik yang dikaji. Melalui pemilihan subjek ini, peneliti diharapkan dapat memperoleh data yang lebih mendalam, spesifik, dan sesuai dengan konteks penelitian.</p>
      <p id="_paragraph-33">Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara mendalam dan berkelanjutan untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi anak. Pengumpulan data adalah tahapan penting dalam penelitian yang sangat memengaruhi mutu serta validitas hasil yang diperoleh. Dalam konteks akademik berbagai pendekatan Metodologis diterapkan sesuai dengan karakteristik permasalahan dan tujuan penelitian. Beberapa pendekatan yang paling umum digunakan meliputi metode kuantitatif, kualitatif, serta metode gabungan atau mixed methods [14].. Menurut Sugiyono, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kualitas data penelitian, yaitu mutu instrumen penelitian dan proses pengumpulan data. Kualitas instrumen berkaitan dengan tingkat validitas dan reliabilitasnya, sedangkan kualitas pengumpulan data berhubungan dengan teknik atau cara yang digunakan dalam memperoleh data. Oleh karena itu, meskipun instrumen telah terbukti valid dan reliabel, hasil data yang diperoleh belum tentu memiliki kualitas yang baik jika penggunaannya dalam proses pengumpulan data tidak dilakukan secara tepat. [15]</p>
      <fig id="fig1">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-34"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image1.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-686795410fe698c14394ae1fb94f3541">Gambar 1 wawancara dengan guru kelas</p>
      <p id="_paragraph-35">Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data diambil dari keterangan guru kelas dan guru pendamping, bernama Bu Wana dan Bu Putri dengan melakukan wawancara dan observasi serta melihat data seperti RPP kelas bagi siswa yang bersangkutan. Informasi yang didapat dari guru kelas dan guru pendamping bisa menjadi penambah penulisan data sebagai sumber utama penelitian yang konkrit. Peneliti mengamati dengan cara pendekatan terhadap siswa, komunikasi dengan orangtua dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung perilaku belajar anak di kelas interaksi anak dengan guru dan teman sebaya serta respons anak terhadap kegiatan pembelajaran. Melalui observasi, peneliti dapat memperoleh data nyata mengenai kondisi dan perkembangan anak dalam situasi pembelajaran. Sedangkan wawancara tetap peneliti lakukan terhadap orang tua untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan anak, riwayat belajar, serta strategi yang telah dilakukan dalam mendampingi anak. Wawancara ini bertujuan untuk memperkuat data hasil observasi. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa catatan perkembangan anak, hasil karya anak, serta laporan sekolah yang relevan dengan penelitian. Data dokumentasi membantu melengkapi dan memperkuat hasil penelitian.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="heading-dc3cfc2863212601cdccc161c00ea763">
        <bold id="bold-1">A. </bold>
        <bold id="bold-2">Strategi Guru dalam menangani anak <italic id="italic-1">slow learner </italic>dengan <italic id="italic-2">speech delay</italic></bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-36">Guru memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing anak yang mengalami <italic id="_italic-154">slow learner</italic>, memahami karakteristik, memahami potensi dan menciptakan metode pembelajaran yang efektif. Berdasarkan</p>
      <p id="_paragraph-37">kumpulan data penelitian yang dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak usia dini baik dalam aspek akademis, kognitif, maupun kemampuan berkomunikasi sangat bergantung pada stimulasi dan intervensi eksternal yang adaptif dari lingkungan sekitarnya. Pada anak yang mengalami keterlambatan belajar (<italic id="_italic-155">slow learner</italic>) kunci utama keberhasilan perkembangannya terletak pada kompetensi guru yang bertindak sebagai fasilitator untuk memahami kebutuhan individu anak secara spesifik. Melalui penerapan strategi pembelajaran yang fleksibel, adaptif, serta ditunjang oleh pemberian layanan yang sesuai dengan karakteristik unik anak, subjek penelitian terbukti dapat menunjukkan peningkatan yang signifikan pada aspek akademik maupun perilaku, sehingga mereka tetap mampu berkembang secara optimal sesuai dengan potensi masing-masing.</p>
      <p id="_paragraph-38">Penelitian ini dilakukan di TK PKK Tunas Bangsa dengan melibatkan anak berusia 5 tahun yang mengalami <italic id="_italic-156">slow learner</italic>disertai <italic id="_italic-157">speech delay</italic>. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan wawancara terhadap pihak terkait seperti guru pendamping dan orang tua. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, guru guru di PKK Tunas Bangsa, menerapkan pembelajaran yang menyenangan, dan mengelolah kelas menjadi lebih kondusif seperti, membuat anak mengeluarkan suara, bernyanyi dan mendorong anak lebih percaya diri dengan maju ke depan kelas. Dengan begitu guru bisa membentuk karakteristik setiap anak, memunculkan potensi potensi yang dimiliki anak serta dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri anak. Strategi ini dilakukan untuk meminimalisir tingkat <italic id="_italic-158">slow learner</italic>yang disertai <italic id="_italic-159">speech delay</italic>. Berdasarkan observasi, mengamati proses pembelajaran di dalam kelas, guru menggunakan strategi untuk mengatasi salah satu siwa TK PKK Tunas Bangsa berusia lima tahun, guru mengajaknya jalan jalan eksplorasi lingkungan, dengan mengenalkan jenis tanaman, hewan yang ada di sekitar, kegiatan tersebut bisa melatih berpikir pada anak. Selain itu, guru mengajak salah satu siwa TK PKK Tunas Bangsa berusia lima tahun berolahraga yang dapat membuatnya senang dan sehat, melatih psikomotorik anak. Secara rinci, strategi atau perlakuan yang diterapkan oleh guru meliputi: sering mengajak anak berkomunikasi, memberikan pelajaran yang dapat memicu anak mengeluarkan suara, mengajak bernyanyi dan berolahraga, memberikan fasilitas yang sama dengan teman-temannya, memutar video kartun, hingga melakukan aktivitas di luar sekolah seperti berkeliling lingkungan sekitar.</p>
      <p id="_paragraph-39">Dengan cara ini, guru dapat menjelaskan kembali materi yang belum dipahami, memberikan contoh yang lebih sederhana, serta memastikan bahwa siswa tersebut benar-benar mengerti. Guru TK PKK Tunas Bangsa memberikan fasilitas yang sama kepada setiap siswa, agar proses pembelajaran bisa berjalan intensif guru mekakukan pembelajaran dengan cara mengajak semua siswa menyanyi dan menebak gambar, dalam momen tersebut, terlihat anak anak sangat antusias mengikuti pembelajaran, termasuk siswa berusia lima tahun yang terkena <italic id="_italic-160">slow</italic><italic id="_italic-161">learner</italic>dan <italic id="_italic-162">speech delay</italic>. Mereka ikut menyanyi dan berusaha menebak gambar yang ditunjukkan oleh guru kelas. Sedangkan gambar samping kanan menunjukkan guru menjelaskan sebuah materi kemudian melakukan pengulangan atau evaluasi materi kepada semua siswa. Banyak dari siswa yang berani maju ke depan untuk menulis kembali huruf yang sudah dipelajari. Siswa berusia lima tahun itu juga turut berani maju ke depan walaupun cara menulisnya masih belum maksimal. Semua strategi ini dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa dan memberikan stimulus positif berupa berani berbicara kepada anakn yang mengalami <italic id="_italic-163">speech delay</italic>.</p>
      <fig id="fig2">
        <label>Figure 2</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-40"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-2" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image2.jpeg"/>
      </fig>
      <fig id="fig3">
        <label>Figure 3</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-41"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-3" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image3.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-38b762811c417ff580716d907f3a4ed3">Gambar 2 pendampingan saat jam istirahatgambar 3 pendampingan saat jam istirahat</p>
      <p id="_paragraph-42">Pada gambar diatas guru kelas TK PKK Tunas Bangsa memberikan perlakuan khusus saat jam istirahat, siswa tersebut diberikan waktu sendiri belajar sendiri, berbicara dengan guru, guru memberikan perhatian yang lebih karena siswa tersebut ingin selalu di perhatikan. Jadi, setiap jam istirahat siswa ini pasti diberikan waktu untuk guru bisa memberikan perhatian dan pembelajaran lebih, karena dengan begitu siswa merasa diperhatikan dan semangat untuk terus belajar dan bicara. Siswa tersebut terus diberikan pertanyaan yang memunculkan jawaban panjang, seperti apa saja aktivitas yang dilakukan selama di rumah, bertanya tentang huruf huruf yang sudah dipelajari dan lain</p>
      <p id="_paragraph-43">sebagainya. Pemberian waktu khusus ini bukan untuk membedakan, tetapi agar guru lebih mudah memberikan perhatian dan pendampingan secara khusus. Setelah guru menyampaikan materi kepada seluruh siswa di kelas, guru dapat memberikan waktu tambahan untuk membimbing siswa <italic id="_italic-164">slow</italic><italic id="_italic-165">learner</italic>disertai <italic id="_italic-166">speech</italic><italic id="_italic-167">delay</italic>secara lebih intensif. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Baiq Yuni Wahyuningsih , Ni Made Yeni Suranti Seorang guru memiliki beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. <bold id="_bold-29">Pertama,</bold>guru perlu memiliki strategi dalam mengelola kelas yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, khususnya yang berkaitan dengan perubahan perilaku dan pembentukan kepribadian peserta didik. Dalam hal ini, guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan perkembangan sikap, kebiasaan, dan karakter siswa agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. <bold id="_bold-30">Kedua</bold>, dalam menghadapi siswa yang termasuk kategori lamban bicara dan belajar di kelas reguler, guru dapat menggunakan cara-cara khusus agar mereka lebih mudah mengikuti pelajaran. Salah satu caranya adalah dengan menempatkan siswa <italic id="_italic-168">slow learner</italic>di bangku paling depan supaya mereka dapat lebih fokus dan lebih jelas melihat serta mendengar penjelasan guru. Selain itu, guru juga dapat melakukan rotasi tempat duduk dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kenyamanan siswa, sehingga mereka tetap merasa percaya diri dan tidak merasa dibedakan dari teman-temannya. <bold id="_bold-31">Ketiga</bold>, strategi guru dalam memberikan tugas kepada siswa <italic id="_italic-169">slow learner </italic>juga perlu disesuaikan dengan kemampuan mereka. Guru dapat memberikan tugas yang tingkat kesulitannya lebih sederhana, menggunakan instruksi yang jelas dan singkat, serta memberi waktu yang lebih panjang agar siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik tanpa merasa tertekan. <bold id="_bold-32">Keempat,</bold>dalam hal motivasi, guru perlu memberikan dorongan semangat secara terus-menerus kepada siswa. Guru dapat memberikan pujian atas usaha yang telah dilakukan, bukan hanya pada hasil akhirnya. Dengan adanya perhatian, dukungan, dan motivasi yang positif, siswa</p>
      <p id="_paragraph-44"><italic id="_italic-170">slow</italic><italic id="_italic-171">learner</italic>akan merasa lebih dihargai dan lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. [17]</p>
      <p id="_paragraph-45">Sedangkan menurut Febri Dwiyanto , Nova Estu Harsiwi Terdapat beberapa strategi khusus yang dapat diterapkan oleh guru untuk mengatasi berbagai faktor yang memengaruhi keterbatasan belajar pada peserta didik, terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar lambat atau yang sering disebut sebagai <italic id="_italic-172">slow</italic><italic id="_italic-173">learner</italic>. Strategi ini dapat dilakukan melalui beberapa aspek penting dalam proses pembelajaran maupun saat penyampaian materi, sehingga kebutuhan belajar mereka tetap dapat terpenuhi secara optimal. [18] Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah penyediaan fasilitas belajar. Dalam pelaksanaannya, fasilitas pembelajaran untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus dan mengalami keterlambatan dalam memahami materi dapat diatur secara lebih terfokus. siswa <italic id="_italic-174">slow learner</italic>dikelompokkan secara terpisah dari siswa lainnya yang tidak mengalami kesulitan belajar, contohnya saat guru TK PKK Tunas Bangsa memberikan waktu khusus untuk memberikan perlakuan yang lebih maksimal.</p>
      <p id="_paragraph-46">Penerapan strategi yang dilakukan, tidak lepas dari catatan anekdot yang ditulis oleh guru krlas dan guru pendamping terkait momen momen tidak terduga yang dilihat secara langasung. Menurut Dea Vitaloka, Shy Fany Intan Qotrun Nada, Husnul Hotimah, dkk Catatan anekdot merupakan salah satu teknik observasi mendalam yang dirancang untuk menangkap momen-momen krusial dalam interaksi sehari-hari anak. Berbeda dengan metode observasi terstruktur yang menggunakan kisi-kisi ketat, catatan anekdot berfokus pada kejadian spontan yang muncul secara alami di lingkungan anak, seperti saat bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, atau menghadapi tantangan baru.[19] Isi dari catatan anekdot tersebut sebagai berikut :</p>
      <list list-type="order" id="list-30cea18039117f6e5ca423e0296ff8ab">
        <list-item>
          <p>
            <bold id="_bold-33">Strategi</bold>
            <bold id="_bold-34">Guru</bold>
            <bold id="_bold-35">dalam</bold>
            <bold id="_bold-36">menangani</bold>
            <bold id="_bold-37">anak</bold>
            <bold id="_bold-38">
              <italic id="_italic-175">slow</italic>
            </bold>
            <bold id="_bold-39">
              <italic id="_italic-176">learner</italic>
            </bold>
            <bold id="_bold-40">dengan</bold>
            <bold id="_bold-41">
              <italic id="_italic-177">speech</italic>
            </bold>
            <bold id="_bold-42">
              <italic id="_italic-178">delay</italic>
            </bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Ananda sudah tidak menangsis ketika masuk kelas tanpa pengawasan orangtuanya</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Ananda sudah terlihat duduk dengan tenang, tidak mengamuk dan tidak tantrum</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Ananda terlihat mau membagikan makanannya kepada teman di sekitarnya</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Ananda terjatuh, namun langsung berdiri tanpa menangis</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Ananda sudah berani menjaawab pertanyaan guru</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-47">Catatan anekdot ini sangat penting dilakukan karena orang tua atau guru bisa melihat perilaku siswa secara jujur tanpa dibuat buat, memperkuat bukti pengembangan anak selama di sekolah. Sehingga guru bisa membangun keadaan belajar yang lebih kondusif dan dapat menyesuaikan kebutuhan siswa.</p>
      <p id="_paragraph-48">Menurut Muhammad Mahfud, Moh. Sahlan dalam penelitiannya yang berjudul “ Menilai Yang Tak Tampak: Evaluasi Autentik Berbasis Observasi Dalam Pembelajaran Pai Anak Usia Dini ” menyatakan bahwa Instrumen pengawasan seperti <italic id="_italic-179">checklist</italic>, <italic id="_italic-180">rating scale</italic>, dan catatan anekdot sangat penting untuk mengamati pembentukan perilaku anak usia dini. Melalui pemantauan ini, indikator seperti kebiasaan berdoa, ibadah, sopan santun, dan kepedulian sosial dapat dievaluasi secara objektif, memberikan gambaran nyata mengenai proses perkembangan moral anak dari waktu ke waktu. [20] Selain catatan ankdot, guru juga menyediakan RPP sebagai jadwal setiap hari bagi siswa khusus seperti siswa berusia lima tahun yang mengalami dua kondisi sekaligus yakni <italic id="_italic-181">slow learner</italic>dan <italic id="_italic-182">speech delay </italic>yang di tampilkan di bagian lampiran</p>
      <p id="_paragraph-49">Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada orang tua, peneliti menemukan informasi terkait keadaan dan kondisi anak berusia 5 tahun tersebut. Anak tersebut memiliki kepribadian yang berbeda dengan anak seusianya seperti suka berteriak, menangis dan perilaku yang tidak bisa dikendalikan, bukan karena bermain gadget terlalu sering tetapi karena siswa tersebut memiliki permasalahan kepribadian, sehingga harus di konsultasikan kepada dokter anak, dan itu bisa menjadi faktor penghambat anak dalam belajar dan komunikasi. Orang tua juga menyatakan, sejak usia tiga tahun memperlihatkan perbedaan tingkah laku dan masih belum bisa berbicara secara jelas seperti anak seusianya. Orang tua yang khawatir memutuskan untuk memasukkan salah sau siwa TK PKK Tunas Bangsa berusia lima tahun</p>
      <p id="_paragraph-50">tersebut pada Pendidikan Anak Usia Dini dan menjalani terapi secara rutin ke ahli Setelah terapi dan sekolah, perilaku salah sau siwa TK PKK Tunas Bangsa berusia lima tahun nampak lebih baik, yang sebelumnya masuk kelas menangis, sekarang bisa mandiri tanpa pendampingan orang tua. Jadi, dampak terapi dan perlakuan guru terhadap siswa tersebut terlihat dan secara bertahap mengubah perilaku yang siswa alami. Karena hal itu, salah sau siwa TK PKK Tunas Bangsa berusia lima tahun bisa dikatakan anak yang mengalami <italic id="_italic-183">slow learner</italic>yang disertai <italic id="_italic-184">speech delay</italic>, sehingga membutuhkan perlakuan atau pendekatan yang khusus.</p>
      <fig id="fig4">
        <label>Figure 4</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-51"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-4" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image4.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-1998f133cfe1cbcdca3d2dd03e1b8db0">Gambar 4 wawancara bersama orang tua anak</p>
      <p id="_paragraph-52">Di sisi lain, kolaborasi antara guru, lingkungan, dan orang tua juga memegang peran yang penting dalam mengatasi masalah perkembangan bahasa anak, khususnya dalam kasus keterlambatan bicara (<italic id="_italic-185">speech</italic><italic id="_italic-186">delay</italic>). Temuan ilmiah menegaskan bahwa faktor lingkungan atau eksternal jauh lebih krusial dibandingkan dengan hambatan fisik atau faktor internal dalam membentuk kemampuan berbahasa. Terganggunya perkembangan komunikasi verbal pada anak didominasi oleh kondisi lingkungan yang kurang mendukung, seperti tingginya durasi bermain gawai (<italic id="_italic-187">gadget</italic>) yang berlebihan serta minimnya interaksi verbal secara langsung dengan orang tua di rumah. Oleh sebab itu, baik dalam mengoptimalkan kemampuan anak <italic id="_italic-188">slow learner</italic>maupun memulihkan anak dengan <italic id="_italic-189">speech delay</italic>, intervensi positif yang konsisten dari guru di sekolah serta pengkondisian lingkungan keluarga yang kaya akan stimulasi komunikasi menjadi penentu utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal</p>
      <p id="_paragraph-53">Penelitian ini memiliki sedikit perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Qurotul Aini dan Putri Alifia yang menyatakan pengaruh lingkungan lebih penting daripada pngaruh dari faktor internal. Pengaruh lingkungan yang positif memang bisa mendukung perkembangan anak, namun jika faktor internalnya, yang ada dalam diri anak tidak atau belum ditanagani maka, akan sulit anak mengikuti dan mencerna kondisi pada lingkungannya. Kepribadian yang dimiliki anak tersebut antara lain, hiperaktif, susah mengucapkan kata kata, dan fokus yang tidak terarah. Dari sekian faktor, peran guru sangat penting dalam mengamati dan nenberikan perlakuan tertentu pada siswa TK PKK Tunas Bangsa khususnya pada anak berusia lima tahun, dan kasus ini mencakup dua factor yakni <italic id="_italic-190">slow learner</italic>dan <italic id="_italic-191">speech </italic><italic id="_italic-192">delay</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-54">Setelah wawancara dilakukan, peneliti melihat kembali bagaimana strategi guru terhadap diterapkan pada siswa berusia 5 tahun tersebut, yang sekaligus mengalami <italic id="_italic-193">speech</italic><italic id="_italic-194">delay</italic>, guru TK PKK Tunas Bangsa sering mengajak siswa tersebut untuk menyusun balok kayu, melibatkan siswa pada proyek proyek kecil seperti itu. Selalu mengajak ngobrol memakai microfon karena siswa tersebut mau bercerita jika menggunakan microfon. Setelah guru menjelaskan siswa tersebut diperintah untuk menulis atau menggambar bentuk yang sudah dijelaskan di papan tulis. Hal tersebut bisa melatih sensorik dan motorik anak, serta bisa meningkatkan kepercayaan diri anak.</p>
      <fig id="fig5">
        <label>Figure 5</label>
        <caption>
          <p id="_paragraph-55"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-5" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="image5.jpeg"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-b0b8ee9c855b73c772c73cdf71fd9300">Gambar 5 siswa menyusun balok kayu</p>
      <p id="_paragraph-56">Foto di atas, siswa berusia lima tahun itu mencoba membangun balok kayu yang sudah disediakan oleh pihak sekolah, guru kelas sengaja menyediakan balok balok itu agar dapat melatih kemampuan sensorik anak dalam mengatasi masalah. Dalam proses menyusun balok, terlihat siswa tersebut dengan sabar meletakkan satu per satu balok di atas balok lain. Siswa tersebut terlihat sangat senang dan lebih menikmati waktu di dalam kelas.</p>
      <p id="_paragraph-57">Strategi ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriyani Fitriyani, Liftiah Liftiah, dan Ali Formen dalam penelitiannya yang berjudul "Strategi Guru Dalam Menangani Anak <italic id="_italic-195">Speech delay </italic>Di Sekolah Dasar: Studi Kasus". Penelitian tersebut menyatakan bahwa strategi guru yang tepat dalam menangani anak <italic id="_italic-196">speech delay </italic>dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. <bold id="_bold-43">Pertama</bold>, melalui metode multisensori, di mana guru menerapkan metode yang menstimulus semua pancaindra sehingga siswa tidak hanya mendengar penjelasan secara verbal, melainkan diajak untuk meniru dan merasakan gerakan dari apa yang sudah dijelaskan (yang biasa disebut demonstrasi). <bold id="_bold-44">Kedua</bold>, melalui instruksi sederhana dan bertahap, mengingat anak <italic id="_italic-197">speech delay </italic>tidak bisa mengingat kalimat atau instruksi yang panjang. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian dalam menjelaskan maksud instruksi tersebut; guru bisa memberikan contoh satu per satu secara bertahap kepada murid agar dipahami secara maksimal, dan jika siswa masih belum memahami, guru dapat mengulangi instruksi dengan sabar.</p>
      <p id="_paragraph-58">Selanjutnya, strategi <bold id="_bold-45">ketiga </bold>adalah penerapan model pembelajaran interaktif, di mana siswa diajak untuk terlibat dalam proyek-proyek kecil yang membantu tumbuh kembang mereka, seperti memecahkan masalah (menyelesaikan puzzle atau tebak-tebakan ciri-ciri hewan) serta membentuk kelompok untuk menyelesaikan tugas sekaligus melatih nilai sosial pada setiap siswa. <bold id="_bold-46">Keempat</bold>, penggunaan media pembelajaran interaktif juga sangat disarankan; guru bisa memanfaatkan media visual untuk membantu siswa memahami makna dengan lebih mudah, seperti menggunakan buku cerita bergambar atau kartu nama-nama hewan dan tumbuhan beserta gambarnya. Terakhir, strategi ini didukung oleh komunikasi spontan, dialog ringan, dan penguatan positif (positive reinforcement) yaitu dengan mengajak siswa berdialog atau berbicara menggunakan bahasa yang sederhana guna menstimulus bahasa dan cara bicara. Jika ada siswa yang menunjukkan keberanian dengan merespons atau menjawab, guru dapat memberikan pujian sebagai bentuk apresiasi.</p>
      <p id="_paragraph-59">Menurut Sutardi dan Sugiharsono, dalam penelitian Mauzifa , Lulu Nur Lathiifah Jamiilah, Subhi Amali, Ahmad Shabri, Uus Ruswandi, guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan tercapainya hasil belajar yang maksimal. Keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengatur, membimbing, dan mengelola kegiatan belajar mengajar secara tepat. [21] Artinya, kualitas pembelajaran tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada cara guru menyampaikan dan mengelolanya di dalam kelas. Oleh sebab itu, seorang pendidik dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang tidak membosankan, penuh kreativitas, dan membuat peserta didik merasa nyaman serta termotivasi untuk belajar. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan yang baik dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif.</p>
      <p id="_paragraph-60">Pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus bersifat menyeluruh, dimulai dari tahap perencanaan, kemudian pelaksanaan pembelajaran, hingga tahap evaluasi hasil belajar peserta didik. Proses evaluasi pun tidak hanya berfokus pada nilai atau kemampuan akademik saja, tetapi juga harus menilai perkembangan peserta didik dari berbagai aspek, seperti kemampuan berpikir (kognitif), sikap dan nilai efektif, serta keterampilan atau praktik (psikomotorik). Dengan pengelolaan yang menyeluruh tersebut, proses pembelajaran diharapkan dapat berjalan secara optimal dan memberikan hasil yang seimbang bagi perkembangan peserta didik. Hal ini sesuai dengan</p>
      <p id="_paragraph-61">dua pernyataan sebelumnya yang menyatakan bahwa peran guru dalam mengatasi anak <italic id="_italic-198">slow</italic><italic id="_italic-199">learner</italic>dengan <italic id="_italic-200">speech delay</italic>sangat dibutuhkan terutama dalam melatih kogntif dan psikomotorik.</p>
      <p id="_paragraph-62">Hal ini sejalan dengan pernyataan Fadhillah dan Fitriani anak lamban belajar memiliki karakteristik yang menekankan pada proses pembelajaran melalui praktik langsung dengan melibatkan seluruh indera. Pembelajaran bagi mereka perlu disusun secara terstruktur dan berbasis pengalaman nyata sebagai perantara untuk memahami konsep-konsep yang bersifat simbolik. Oleh karena itu, kebutuhan belajar siswa lamban belajar dengan gangguan bicara harus disesuaikan dengan kondisi mereka, termasuk penggunaan berbagai bentuk penyajian materi (multi-presentasi) dalam proses pembelajaran di sekolah. Pendidikan bagi siswa lamban belajar sebaiknya tetap dilaksanakan di sekolah umum dengan melakukan penyesuaian strategi dan metode pembelajaran. Dalam konteks ini, penerapan model pendidikan inklusif menjadi salah satu implikasi penting dalam penanganan pembelajaran siswa lamban belajar di sekolah dasar.</p>
      <p id="_paragraph-63">Sementara itu, berdasarkan Bala dan Rao (dalam Bagaskorowati &amp; Sukma, 2021), karakteristik <italic id="_italic-201">slow</italic><italic id="_italic-202">learner </italic>dapat dikelompokkan ke dalam beberapa aspek, yaitu kognitif, bahasa, auditori-perseptual, visual-motor, serta sosial-emosional. Pada aspek kognitif, siswa lamban belajar cenderung memerlukan waktu yang lebih lama dalam memahami materi dan sering kali belum sepenuhnya menguasai apa yang telah dipelajari. Mereka juga menunjukkan kecenderungan tertentu dalam memilih jenis materi pembelajaran, serta umumnya memiliki capaian akademik yang relatif rendah. Selain itu, mereka lebih menyukai pembelajaran yang diberikan secara langsung oleh guru. [22] Dalam aspek bahasa, <italic id="_italic-203">slow</italic><italic id="_italic-204">learner</italic>sering mengalami hambatan dalam mengekspresikan gagasan secara verbal. Mereka juga mengalami kesulitan dalam membaca nyaring dibandingkan membaca dalam hati, serta menghadapi masalah dalam pelafalan atau artikulasi kata. Maka, sudah dipastikan perlakuan atau strategi yang diterapkan oleh guru u ntuk bernyanyi sudah tepat agar siswa bisa percaya diri bersuara nyaring.</p>
      <p id="_paragraph-64"><italic id="_italic-205">Slow learner</italic>merupakan keadaan anak yang mengalami keterlambanan dalam memahami suatu keadaan dan kondisi di lingkungannya. <italic id="_italic-206">Slow learner</italic>merupakan kondisi pada siswa yang mengalami hambatan dalam perkembangan belajar dan termasuk ke dalam salah satu kategori anak berkebutuhan khusus. Siswa dengan kondisi <italic id="_italic-207">slow learner</italic>sering kali tidak teridentifikasi secara jelas oleh guru maupun orang tua. Hal ini terjadi karena secara fisik siswa tampak normal dan tidak menunjukkan kelainan tertentu. Siswa <italic id="_italic-208">slow</italic><italic id="_italic-209">learner</italic>masih mampu berpikir serta mengekspresikan perasaan dan emosi kepada orang lain seperti anak pada umumnya. Namun, perbedaan utama terletak pada kemampuan kognitif yang lebih rendah atau terbatas. Keterbatasan tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran, memproses informasi, dan memecahkan masalah.</p>
      <p id="_paragraph-65">Kondisi ini berdampak pada lemahnya kemampuan berpikir secara logis dan sistematis, sehingga proses belajar menjadi lebih lambat dibandingkan dengan siswa lainnya. Akibatnya, kegiatan belajar di kelas maupun aktivitas lain yang berkaitan dengan kemampuan berpikir sering mengalami hambatan dan membutuhkan bimbingan serta pendampingan khusus dari guru. Banyak penyebab yang melatarbelakangi <italic id="_italic-210">slow learner </italic>, salah satunya tingkat konsentrasi yang kurang, anak yang <italic id="_italic-211">slow learner</italic>bisa dilihat dari cara dia memperhatikan sesuatu dan melakukan stimulus atau umpan balik dari yang sudah dia lihat dan dengar. Selain <italic id="_italic-212">slow learner</italic>kondisi yang mengikuti pada siswa ini adala <italic id="_italic-213">speech delay</italic>, Pada rentang usia 3 hingga 5 tahun, setiap anak menunjukkan kapasitas berbahasa yang berbeda-beda karena mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan fasenya masing-masing. Tanda-tanda anak yang mengalami kondisi ini antara lain memiliki fokus yang pendek, lambat atau kesulitan dalam merespon pertanyaan, serta belum mampu memahami instruksi dengan baik. Secara umum, <italic id="_italic-214">speech delay</italic>merupakan suatu kondisi ketika anak mengalami hambatan untuk berkomunikasi secara jelas. Salah satu pemicu utamanya adalah kebiasaan menonton yang berlebihan. Hal ini membuat anak berada dalam mode komunikasi satu arah, di mana mereka hanya terbiasa mendengarkan tanpa mendapatkan stimulasi yang cukup untuk ikut belajar berbicara. [23]</p>
      <p id="_paragraph-66">Pada siswa TK PKK Tunas Bangsa ada beberapa anak yang terlihat lamban dalam memahami pembelajaran, seperti setelah diterangkan suatu materi, saat ditanya, siswa tersebut hanya diam dan tidak bisa menjawab, berbeda dengan temannya yang lain, Ketika ditanya, bisa menjawab dan menjelaskan, dilihat dari proses belajar mengajar, siswa tersebut kesulitan dalam berkonsentrasi, dan kurang berkomunikasi dengan teman, Tingkat kepercayaan dirinya kurang, ditandai dengan orangtua yang masih menunggu didalam kelas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Septy Nurfadhillah, Fitri Alia, dkk dalam judul “Analisis Faktor Penyebab Anak Lamban Belajar (<italic id="_italic-215">Slow learner</italic>) di Sd Negeri Jelambar 01 Jakarta Barat” menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebablan anak mengaalami <italic id="_italic-216">slow learner</italic>seperti Faktor prenatal (Sebelum Lahir) dan Genetik Kelambanan belajar pada anak dapat disebabkan oleh faktor yang terjadi sebelum kelahiran dan faktor genetik. Faktor ini meliputi adanya kelainan pada kromosom yang dapat menimbulkan gangguan fisik sekaligus memengaruhi tingkat kecerdasan otak anak. Selain itu, gangguan biokimia dalam tubuh ibu selama masa kehamilan juga dapat memengaruhi perkembangan janin. Kelahiran prematur turut menjadi salah satu penyebab, karena organ tubuh bayi, termasuk otak, belum berkembang dan berfungsi secara optimal. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan anak mengalami <italic id="_italic-217">slow learner</italic>sejak sebelum lahir.</p>
      <p id="_paragraph-67">Faktor Biologis Non-Keturunan Faktor biologis non-keturunan juga dapat menjadi penyebab anak mengalami <italic id="_italic-218">slow learner</italic>. Hal ini dapat terjadi apabila ibu selama masa kehamilan mengonsumsi obat-obatan yang tidak aman bagi janin, mengonsumsi minuman beralkohol, obat terlarang, atau zat adiktif lainnya. Selain itu, kondisi gizi ibu yang buruk, paparan radiasi sinar-X, serta ketidaksesuaian faktor rhesus antara ibu dan janin juga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan otak anak. Faktor Saat Proses Kelahiran (Natal) pada Faktor natal</p>
      <p id="_paragraph-68">merupakan penyebab kelambanan belajar yang terjadi pada saat proses kelahiran. Salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan oksigen yang dialami bayi ketika proses persalinan berlangsung. Kondisi ini dapat disebabkan oleh proses persalinan yang berlangsung lama atau adanya komplikasi saat melahirkan. Kekurangan oksigen tersebut menghambat aliran oksigen ke otak bayi, sehingga dapat memengaruhi perkembangan fungsi otak dan menyebabkan anak mengalami lamban belajar. Dari pernuataan diatas, dapat disimpulkan jika faktor yang menyebabkan <italic id="_italic-219">slow learner</italic>bisa dari gen atau ada gangguan dalam tubuh anak atau ibu sebelum melahirkan.[24]</p>
      <p id="_paragraph-69">Menurut Alfani Nurul Istiqlal dalam penelitiannya yang berjudul "Gangguan Keterlambatan Berbicara (<italic id="_italic-220">Speech delay</italic>) pada Anak Usia 6 Tahun", menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi <italic id="_italic-221">speech delay </italic>pada anak. Pertama adalah faktor genetik dan fisiologis (fisik). Selain faktor lingkungan yang mendominasi, teori dalam penelitian ini menyebutkan bahwa hambatan fisik atau kecacatan fisiologis yang menyertai perkembangan anak seperti kondisi disartria atau gerakan lidah anak yang terbatas dapat menjadi faktor penyebab terjadinya <italic id="_italic-222">speech delay</italic>. Faktor kedua adalah tidak adanya model (role model) yang baik untuk ditiru. Anak usia prasekolah belajar berbahasa dan mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan cara meniru secara spontan bahasa yang mereka dengar di sekitarnya. Jika anak tidak mendapatkan contoh atau model pengucapan kata yang tepat dari orang dewasa di dekatnya, fungsi bicaranya tidak akan terserap dan berkembang dengan baik.</p>
      <p id="_paragraph-70">Faktor ketiga adalah kurangnya motivasi anak untuk berbicara. Secara psikologis, anak yang mengalami <italic id="_italic-223">speech delay </italic>sering merasa bahwa memproduksi kata-kata adalah hal yang rumit dan menjadi ancaman baginya. Ketika mereka mencoba berbicara namun ekspresi atau maksudnya tidak dipahami oleh orang lain, mereka cenderung menghentikan usahanya dan menjadi enggan berbicara. Faktor keempat adalah kesempatan berbicara yang kurang adekuat (kurang stimulasi). Anak membutuhkan ruang dan kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi keinginan, perasaan, serta mendapatkan penguatan (reinforcement) dari lingkungan rumah. Kesempatan ini menjadi sangat minim apabila orang tua memiliki jam kerja yang tinggi, anggota keluarga lain acuh, atau anak dibiarkan bersama pengasuh tanpa diberikan stimulus interaksi.Faktor kelima adalah faktor penunjang lingkungan lain (televisi dan gadget). Kebiasaan anak dalam menonton televisi dan bermain handphone secara pasif tanpa kontrol turut memperparah keterlambatan bicara pada anak.</p>
      <p id="_paragraph-71">Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Abd. Rahim Mansyur, Andi Bunyamin dalam judul “Telaah Problematika Anak <italic id="_italic-224">Slow learner</italic>dalam Pembelajaran” menyatakan gejala anak yang mengalami <italic id="_italic-225">slow learner</italic>Adalah membutuhkan pengulangan yang lebih banyak, maksudnya adalah ketika diberikan suatu materi anak tersebut masih belum memahami konsep dan maksudnya, jadi akan lebih banyak waktu guru untuk mengulanginya berula ngklali agar sama seperti temannya yang lain. Tingkat konsentrasi yang rendah membuat guru melakukan hal yang berbeda seperti membuat media menarik untuk memudahkan materi masuk dalam pemahamannya, karena dengan ,menggunakan media, anak atau siswa akan jauh lebih meenikmati proses pembelajaran, bahkan bisa melekat pada pikiranya. Penelitian ini memiliki kesamaan dalam menjabarkan gejala atau faktor yang mempengaruhi <italic id="_italic-226">slow learner</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-72">Dari sekian banyak problematika yang terjadi, guru membuat strategi dalam mengajarkan materi kepadda semua siswanya, terutama yang mengalami <italic id="_italic-227">slow</italic><italic id="_italic-228">learner</italic>dengan <italic id="_italic-229">speech</italic><italic id="_italic-230">delay</italic>, didapat dari wawancara dengan siswa yang bersangkutan, ternyata siswa tersebut memang merasa bising dan terganggu Ketika ada temannya yang berbicara, sehingga tidak bisa konsentrasi, ada juga yang mengatakan jika jaraknya yang kejauhan dari papan tulis, dan ada yang menyatakan pelajaranyya terlalu sulit, disini peneliti bisa membuatkan media yang menarik di kelas berupa permainan monopoli yang berisikan materi tentang hewan dan ciri cirinya. Dengan begitu, siswa akan tertarik dan akan lebih konsentrasi, dan akan mudah memahami.</p>
      <p id="_paragraph-73">Pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jasmine Mutiara Bintang, Karistya Tirta Kusuma, Krisna Wahyu Nugraha, dalam judul “Peran Media Pembelajaran Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa <italic id="_italic-231">Slow</italic><italic id="_italic-232">learner</italic>” yang menyatakan bahwa Penggunaan media pembelajaran oleh guru memberikan peluang yang lebih luas bagi siswa <italic id="_italic-233">slow learner</italic>untuk mengakses dan memahami materi pembelajaran secara optimal. Berbagai jenis media, seperti video pembelajaran, presentasi multimedia, permainan edukatif, serta aplikasi pembelajaran interaktif, dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk membantu siswa <italic id="_italic-234">slow learner</italic>dalam mengeksplorasi materi secara bertahap dan sesuai dengan kemampuan belajar mereka. Media-media tersebut memungkinkan penyajian informasi secara visual, audio, dan interaktif sehingga dapat meningkatkan perhatian, motivasi, serta pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari.</p>
      <p id="_paragraph-74">Selain membantu pemahaman materi, media pembelajaran juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. Dengan adanya variasi media, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan individu siswa, termasuk siswa <italic id="_italic-235">slow learner</italic>dengan <italic id="_italic-236">speech delay </italic>yang memerlukan waktu lebih lama dan pendekatan yang berbeda dalam proses belajar. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu penyampaian materi, tetapi juga sebagai strategi pedagogis untuk mendukung pembelajaran diferensial dan mengurangi kesenjangan dalam pencapaian hasil belajar.</p>
      <p id="_paragraph-75">Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini sesuai dengan konsep utama penelitian ini, yakni berpacu pada strategi dalam mengatasi anak <italic id="_italic-237">slow</italic><italic id="_italic-238">learner</italic>dengan <italic id="_italic-239">speech</italic><italic id="_italic-240">delay</italic>, mengkaji secara lebih mendalam peran penggunaan media pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa <italic id="_italic-241">slow</italic><italic id="_italic-242">learner</italic>dengan <italic id="_italic-243">speech</italic><italic id="_italic-244">delay</italic>. Melalui eksplorasi potensi media pembelajaran dalam mendukung pembelajaran yang inklusif dan adaptif, diharapkan dapat ditemukan strategi</p>
      <p id="_paragraph-76">pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif. Strategi tersebut diharapkan mampu membantu guru dalam mewujudkan kesetaraan pendidikan, sehingga setiap siswa, termasuk siswa <italic id="_italic-245">slow</italic><italic id="_italic-246">learner</italic>, memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai perkembangan akademik yang optimal. Dengan begitu, angka persentase anak <italic id="_italic-247">slow</italic><italic id="_italic-248">learner</italic>bisa berkurang karena menurut Nur'aeni, Nur'aenia, Adinda Putri Seviana, dkk angka persentase anak yang mengalami <italic id="_italic-249">slow</italic><italic id="_italic-250">learner </italic>meningkat dari tahun 2015 hngga 2023.</p>
      <p id="_paragraph-77">Secara biologis, fenomena ini berkaitan erat dengan masa perkembangan otak anak. Otak kanan dan kiri pada anak perempuan cenderung tumbuh secara seimbang. Sebaliknya, perkembangan otak anak laki-laki cenderung lebih didominasi oleh bagian otak kanan. Selain itu, pertumbuhan otak dan hemisfer (belahan) serebral kiri pada anak perempuan terjadi jauh lebih cepat dibandingkan anak laki-laki. Mengingat belahan otak kiri memegang peranan krusial dalam mengatur fungsi dan kemampuan berbahasa, perbedaan laju perkembangan inilah yang menyebabkan anak laki-laki lebih rentan mengalami keterlambatan bicara. [25] data di atas sesuai dengan subjek penelitian yang juga seorang anak laki laki berusia lima tahun dengan gangguan bicara, dengan adanya hal tersebut guru menyediakan dan memberikan perlakuan yang membuat stimulus pada anak tertarik dari semua pancra indera. Pelaksanaan strategi penanganan oleh guru di lapangan kerap kali diuji oleh berbagai tantangan kompleks yang bersumber dari dalam diri anak maupun dinamika lingkungan sekitarnya. Hambatan-hambatannya sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-78">Tantangan mendasar yang paling sering dijumpai adalah keterbatasan rentang perhatian (<italic id="_italic-251">attention span</italic>) anak. Konsentrasi yang mudah terdistraksi dan durasi fokus yang amat singkat membuat anak rentan kehilangan minat di tengah proses pembelajaran. Kondisi ini diperparah oleh tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap stimulasi eksternal, seperti kebisingan atau gangguan visual di sekitarnya. Selain itu, belum matangnya kemampuan regulasi emosi kerap terwujud dalam perilaku impulsif—seperti menangis secara mendadak, berteriak, atau menunjukkan dorongan hiperaktif. Kombinasi faktor-faktor ini menjadi ujian berat bagi guru dalam menjaga iklim dan ikatan belajar kelas tetap kondusif, terutama saat menerapkan pembelajaran secara klasikal. Dari dimensi kognitif, hambatan muncul berupa terbatasnya daya serap anak terhadap informasi baru. Anak tidak dapat secara instan mencerna materi atau instruksi yang kompleks. Dampaknya, proses pemahaman berlangsung jauh lebih lambat, sehingga guru dituntut untuk menerapkan pola penyampaian yang repetitif, bertahap, serta memanfaatkan media konkret agar pesan yang disampaikan dapat benar-benar dipahami oleh anak.</p>
      <p id="_paragraph-79">Kendala komunikasi, khususnya pada anak yang mengalami keterlambatan bicara (<italic id="_italic-252">speech delay</italic>), turut menciptakan hambatan berlapis. Anak menghadapi kesulitan fisik dan intuitif untuk merangkai kata, menyampaikan gagasan, maupun memberikan respons cepat terhadap instruksi guru. Keterbatasan dalam mengekspresikan diri ini tidak hanya menyulitkan interaksi dua arah, tetapi juga memicu dampak psikologis berupa penurunan rasa percaya diri. Anak cenderung menarik diri atau merasa tertekan karena menganggap proses produksi kata sebagai beban yang amat berat.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-80">Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi guru dalam menangani anak <italic id="_italic-253">slow learner </italic>dengan <italic id="_italic-254">speech delay </italic>di TK PKK Tunas Bangsa, dapat disimpulkan bahwa penanganan anak yang mengalami dua kondisi tersebut memerlukan strategi pembelajaran yang bersifat individual, fleksibel, adaptif, dan berkesinambungan sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan anak. Guru berperan penting dalam mengidentifikasi kemampuan, hambatan, dan potensi anak sehingga dapat menentukan bentuk layanan yang tepat selama proses pembelajaran. Strategi yang diterapkan guru meliputi penggunaan instruksi sederhana, pengulangan materi, komunikasi intensif, pendekatan individual, pemberian waktu belajar tambahan, penggunaan media pembelajaran yang menarik, kegiatan bernyanyi, eksplorasi lingkungan, permainan edukatif, aktivitas motorik, serta pemberian penguatan positif. Strategi tersebut mampu meningkatkan keberanian anak untuk berkomunikasi, kepercayaan diri, kemampuan memahami instruksi, serta partisipasi anak dalam kegiatan belajar di kelas. Penerapan strategi yang dilakukan secara konsisten juga menunjukkan adanya perkembangan perilaku anak, seperti lebih mandiri, lebih tenang saat mengikuti pembelajaran, berani menjawab pertanyaan, serta mulai mampu berinteraksi dengan guru dan teman sebaya.Penelitian ini juga menemukan bahwa pelaksanaan strategi guru tidak terlepas dari berbagai hambatan, antara lain keterbatasan kemampuan komunikasi anak, rendahnya konsentrasi, karakteristik perilaku yang mudah terdistraksi, keterbatasan waktu pembelajaran, serta kurang optimalnya stimulasi yang diberikan di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, keberhasilan penanganan anak <italic id="_italic-255">slow learner </italic>dengan <italic id="_italic-256">speech delay </italic>tidak hanya bergantung pada kompetensi guru, tetapi juga memerlukan kolaborasi yang berkesinambungan antara sekolah, orang tua, dan tenaga profesional, seperti terapis maupun dokter.Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan individu anak, didukung oleh komunikasi yang intensif, penggunaan media yang sesuai, serta kerja sama antara sekolah dan keluarga, merupakan faktor utama dalam membantu perkembangan kemampuan belajar dan komunikasi anak <italic id="_italic-257">slow</italic><italic id="_italic-258">learner</italic>dengan <italic id="_italic-259">speech</italic><italic id="_italic-260">delay</italic>. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru PAUD dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih inklusif dan efektif bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus, khususnya anak yang mengalami kombinasi <italic id="_italic-261">slow learner </italic>dan <italic id="_italic-262">speech delay</italic>.</p>
      <p id="paragraph-7799c2efdef12193d3bfa0a3cf39a642">
        <bold id="bold-fd33ca6ac22b6d4899c3582c45702cf0">Ucapan Terimakasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-81">Puji syukur kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul <bold id="_bold-47">"Strategi Guru dalam Menangani Anak </bold><italic id="_italic-263"><bold id="_bold-48">Slow Learner dengan Speech Delay </bold></italic><bold id="_bold-49">di TK PKK Tunas Bangsa Sidorejo" </bold>sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana.</p>
      <p id="_paragraph-82">Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan, doa, serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:</p>
      <list list-type="order" id="list-8e3f5071aaa6a88432eeba011f1c2811">
        <list-item>
          <p>Allah Swt. yang senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan, dan pertolongan kepada penulis dalam setiap proses penyusunan skripsi ini.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Kedua orang tua tercinta beserta seluruh keluarga yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dukungan moral maupun material, serta menjadi motivasi terbesar bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikan ini.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bapak/Ibu Rektor Universitas, Dekan Fakultas, dan Ketua Program Studi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh pendidikan hingga tahap penyusunan skripsi.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Bapak/Ibu dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, serta dengan sabar memberikan arahan, kritik, dan saran yang sangat berarti selama proses penyusunan skripsi ini.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Seluruh dosen Program Studi yang telah memberikan ilmu, pengalaman, serta wawasan yang bermanfaat selama masa perkuliahan.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Kepala TK PKK Tunas Bangsa Sidorejo beserta seluruh guru yang telah memberikan izin, bantuan, dan kerja sama kepada penulis selama pelaksanaan penelitian sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Anak-anak didik TK PKK Tunas Bangsa Sidorejo beserta orang tua yang telah bersedia menjadi bagian dari proses penelitian ini.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Sahabat, teman-teman seperjuangan, dan seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan semangat, doa, bantuan, serta motivasi selama penyusunan skripsi ini.</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-83">Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki berbagai keterbatasan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan karya ilmiah ini di masa mendatang.</p>
      <p id="_paragraph-84">Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pengembangan strategi pembelajaran bagi anak yang memiliki kebutuhan belajar seperti <italic id="_italic-264">slow</italic><italic id="_italic-265">learner</italic>dengan <italic id="_italic-266">speech delay</italic>, serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
