<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Application of Nazhoriyah Al-Wahdah to Learning Arabic at Tahfidz Muhammadiyah Islamic Boarding School Al-Fattah Ngantang Malang</article-title>
        <subtitle>[Penerapan Nazhoriyah Al-Wahdah pada Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang Malang]</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-0be49114880bd83e39bf0a413c8d36f7" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Ahmad Ghozin</surname>
            <given-names>Amrul Haq</given-names>
          </name>
          <email>samlenji2@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-c4e472cadc43323bf4e4d6b9464ae6e4" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Khizanatul</surname>
            <given-names>Hikmah</given-names>
          </name>
          <email>khizanatul.hikmah@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-06-14">
          <day>14</day>
          <month>06</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-410c5300b21ed27beefb62f9d31d0e15">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-13">Bahasa sangatlah penting dalam kehidupan, karena manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak akan terlepas dari interaksi dengan manusia lainnya. Bahasa menjadi alat penyambung dalam interaksi antara manusia satu dengan manusia lain atau kelompok satu dengan kelompok lain. Bahasa merupakan alat komunikasi yang terorganisasi dalam bentuk satuan-satuan seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tertulis.[1] Selain itu, dalam konteks bahasa memiliki fungsi yang sangat vital bagi manusia. Sedemikian pentingnya bahasa, menjadikannya harus diwujudkan dalam bentuk materi pelajaran yang tersusun secara sistematis, yang kemudian diajarkan dalam proses belajar- mengajar. [2]</p>
      <p id="_paragraph-14">Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan budi pekerti, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. [3]</p>
      <p id="_paragraph-15">Dalam pendidikan di Indonesia terdapat sistem yang mengatur jalannya proses belajar mengajar di dalam suatu lembaga pendidikan. Sistem pembelajaran bahasa sangat penting dalam mengembangkan bahasa Arab, namun dari lembaga pendidikan terkadang kurang memperhatikan penggunaannya dengan benar. Hal ini akan berdampak besar pada keberhasilan kemampuan berbahasa pelajar. [3]Sistem pembelajaran yang sesuai adalah sistem yang tersusun secara matang, menggambarkan berbagai hambatan yang mungkin akan dihadapi, sehingga dapat menentukan berbagai strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai standar proses pendidikan agar tujuan pendidikan itu sendiri dapat tercapai. Penyusunan standar proses pendidikan diperlukan untuk menentukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sebagai upaya ketercapaian Standar Kompetensi Lulusan. Dengan demikian, standar proses dapat dijadikan pedoman oleh setiap guru dalam pengelolaan proses pembelajaran serta menentukan komponen-komponen yang dapat mempengaruhi proses pendidikan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas proses pendidikan adalah perencanaan sistem pembelajaran. Melalui perencanaan sistem pembelajaran dapat terlihat berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses dalam pendidikan. [4]</p>
      <p id="_paragraph-16">Begitu juga dengan pembelajaran bahasa Arab terdapat sistem yang mengatur di dalam proses pembelajarannya. Agar mencapai pada tujuan pembelajaran pastinya dalam suatu lembaga pendidikan akan memgunakan sistem dan metode yang mendorong keberhasilan dalam <italic id="_italic-11">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-12">Al-Wahdah</italic> pembelajarannya. Sebagaimana yang di uraikan oleh M. Asy’ari terdapat beberapa sistem dalam pembelajaran bahasa Arab yaitu sistem terpadu, sistem separasi, dan sistem gabungan. [5]</p>
      <p id="_paragraph-17"><italic id="_italic-13">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-14">Al-Wahdah</italic> ini merupakan salah satu sistem dalam pembelajaran yang populer digunakan dalam lembaga pendidikan di Indonesia khususnya pada lembaga pendidikan Islam. Berikut penjabaran tentang sistem (<italic id="_italic-15">Nazhoriyah)</italic>: 1.Sistem Terpadu (<italic id="_italic-16">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-17">Al-Wahdah</italic>) merupakan pendekatan yang memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Keterpaduan yang dimaksud yaitu bagaimana cara melihat bagian-bagian bahasa Arab dan bagaimana cara mengajarkan bagian-bagian tersebut. Sistem <italic id="_italic-18">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic> disebut juga dengan sistem integrasi atau terpadu atauall in one system. Sistem ini mengandung makna bahwa pembelajaran bahasa Arab adalah bahasa merupakan satu kesatuan yang berkaitan erat, dan bukan disajikan dalam bentuk terpisah (bercabang-cabang).[6] Unsur pembelajaran yang dipadukan dapat berupa konsep dengan proses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran lain, atau dapat juga berupa penggabungan metode satu dengan metode yang lain.[7] 2. Sistem Separasi atau Cabang (<italic id="_italic-19">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-20">Al-Furu’</italic>) merupakan pendekatan dalam sistem pembelajaran bahasa Arabnya dibagi-bagi dalam berbagai mata pelajaran, perencanaan, dan pengevaluasiannya di lakasanakan secara terpisah tanpa berkaitan.[8]</p>
      <p id="_paragraph-18">Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang adalah salah satu lembaga Islam yang ada di Jawa Timur khususnya Malang, dimana dalam proses pembelajarannya menerapkan <italic id="_italic-21">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-22">Al-Wahdah</italic> (sistem terpadu). Dalam penerapan pengajaran bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan <italic id="_italic-23">nadzoriyah al-wahdah</italic> selalu dimulai dengan menetapkan tema ( judul) sebagai pusat kegiatan dalam pengajaran. Kemudian dari tema tersebut dikembangkan dalam berbagai materi yang terdapat dalam buku pegangan (buku paket), yang meliputi : <italic id="_italic-24">at-taqdīm, mufradāt, ḥiwār, tarkib, qirā’ah dan kitābah</italic>.[9]Keterpaduan dalam pendekatan terpadu diciptakan melalui suatu “jembatan” untuk menghubungkan unsur-unsur yang akan dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Secara khusus pendekatan <italic id="_italic-25">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-26">Al-wahdah</italic> ini mencakup empat keterampilan bahasa Arab. Dimana empat keterampilan tersebut menjadi tujuan pembelajaran bahasa Arab, antara lain (<italic id="_italic-27">Istima’</italic>) membaca (<italic id="_italic-28">Qiro’ah</italic>), menulis (<italic id="_italic-29">Kitabah</italic>), dan berbicara (<italic id="_italic-30">Kalam</italic>)[10]Di mana dalam proses pembelajarannya materi pembahasan tersebut dijadikan satu mata pelajaran yakni bahasa Arab selama satu jam pelajaran dan evaluasinya menjadi satu. Hal tersebut tidak menuntut kemungkinan bahwa dalam penerapan pendekatan tersebut terdapat perbedaan antara lembaga pendidikan satu dengan lembaga yang lain dalam penerapannya.</p>
      <p id="_paragraph-19">Pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah sudah mencakup beberapa komponen penting dalam pembelajarannya, seperti mendengar (<italic id="_italic-31">Istima’</italic>) membaca (<italic id="_italic-32">Qiro’ah</italic>), menulis (<italic id="_italic-33">Kitabah</italic>), dan berbicara (<italic id="_italic-34">Kalam</italic>). Dimana dalam kegiatan harian yang ada di pondok tersebut setiap hari diberikan kosakata (<italic id="_italic-35">mufrodat)</italic> dan setiap hari minggu terdapat kegiatan <italic id="_italic-36">muhawarah </italic>yang dibimbing oleh pengajar-pengajar dari lulusan lembaga pendidikan bahasa Arab LIPIA Jakarta dan juga dari pendidikan bahasa Arab di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sehingga untuk mensukseskan progam bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah ini sebagai prioritas utama. [11]</p>
      <p id="_paragraph-20">Berdasarkan dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti terhadap<italic id="_italic-37">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-38">Al-Wahdah</italic> yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab, peneliti mengetahui bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah memadukan beberapa konten bahasa Arab menjadi satu proses pembelajaran, satu waktu, satu pengevaluasiaan. Selain itu terdapat perbedaan penerapan dengan beberapa lembaga pendidikan yang telah menerapkan<italic id="_italic-39">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-40">Al-Wahdah</italic>, yaitu jika pada umumnya penerapan <italic id="_italic-41">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-42">Al-Wahdah</italic> buku bahan ajar yang digunakan sebagai acuan pembelajaran hanya satu bahan ajar dimana di dalam konten isinya sudah memadukan dari berbagai unsur yaitu <italic id="_italic-43">at taqdim, mufradat hiwar, tarkib, qira'ah dan kitabah</italic>. Akan tetapi di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al Fattah Ngantang dalam tahap penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP sedikit berbeda, yaitu dengan mengacu pada dua bahan ajar sekaligus yaitu bahan ajar kitab <italic id="_italic-44">Durusullughoh</italic>[12]dari GONTOR, dengan bahan ajar kitab <italic id="_italic-45">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah</italic>[13]yang dipakai Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Arab yang di terbitkan oleh Jami’ah Al-Imam Muhammad bin Su’udi Al-Islami .</p>
      <p id="_paragraph-21">Pondok pesantren ini juga memiliki progam unggulan, yakni tahfidz Alquran yang dibina oleh hafidz yang sudah bersanad keilmuannya, bahasa Arab serta santri juga dibekali dengan ilmu umum. Dapat dibuktikan dari alumni Pondok Pesantresn Tahfidz Muhammadiyah Ngantang sudah terbekali berbagai kemampuan, mulai dari mahir berbahasa Arab, memiliki akhlakul karimah, hafalan Alquran sebanyak 3 juz, dan juga santri bisa menafsirkan Alquran per kata dengan menggunakan bahasa Jawa. [14]</p>
      <p id="_paragraph-22">Beberapa penelitian yang sudah dilakukan tentang sistem<italic id="_italic-46">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-47">Al-Wahdah,</italic>antara lain :Pertama, penelitian oleh Citra Dewipada tahun 2013, dengan judul : Implementasi Sistem Pembelajaran Terpadu di Sekolah Islam Terpadu ( SDIT ) Ar-Risalah Surakarta. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tentang sistem pembelajaran terpadu ( <italic id="_italic-48">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-49">al-wahdah </italic>) secara umum dan kelengkapan administrasi internal.Hasil dari penelitian ini adalah : 1) Implementasi sistem pembelajaran terpadu di SDIT Ar-Risalah Surakarta belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan dari Pusat Kurikulum-Departemen Pendidikan Nasional pembelajaran tematik untuk kelas bawah belum dilakukan secara penuh. Pembelajaran tematik menuntut adanya guru kelas, sedangkan di SDIT Ar-Risalah Surakarta berlaku guru mata pelajaran. Kendala utama dari pelaksanaan pembelajaran terpadu yaitu kurikulum yang belum terpadu. Hal ini menuntut kemampuan guru (tim guru) dalam memadukan konsep atau topik antarmata pelajaran. 2) Implementasi sistem pembelajaran terpadu meningkatkan keefektifan pembelajaran di SDIT Ar-Risalah Surakarta. Keefektifan pembelajaran terpadu tercermin dari bermaknanya pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna menghasilkan siswa yang aktif dalam proses belajar mengajar yang menyenangkan, sehingga terjadi komunikasi dua arah guru dan murid. Pembelajaran disebut menyenangkan jika guru kreatif dan terdapat variasi cara belajar sehingga menghasilkan prestasi belajar yang baik.[15]Kedua, penelitian dilakukan oleh Novita Rahmi pada tahun 2019 ( Universitas Sriwijaya ), dengan judul : Problematika Penerapan Sistem <italic id="_italic-50">Al-Wahdah</italic> pada Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah se-Kota Metro Tahun 2018. Adapun tujuan penelitiannya untuk mengetahui problematika yang muncul setelah menerapkan sistem <italic id="_italic-51">Al-Wahdah</italic> pada pembelajaran bahasa Arab. Hasil penelitian adalah bahwa problematika ini terjadi karena alokasi waktu yang tidak memadai dan tidak tersedianya laboratorium bahasa. Dan guru yang profesional di bidang bahasa Arab dan adanya lingkungan bahasa menjadi solusi dari permasalahan ini.[6]Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Aufa Syukronpada tahun 2019 dengan judul “Implementasi Pendekatan <italic id="_italic-52">Integrated System</italic> dalam Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar Bahasa Arab Siswa Kelas XI Di MA NU Miftahul Ulum Margasari-Tegal”. Penelitian ini berfokus pada implementasi pendekatan <italic id="_italic-53">integrated system</italic> dan bagaimana pengaruh implementasi sistem tersebut pada peningkatan minat dan prestasi belajar bahasa Arab pada siswa kelas XI di MA NU Miftahul Ulum Margasari-Tegal.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pra tindakan, siswa kurang berminat sebanyak 40%, kemudian setelah pelaksanaan tindakan meningkat menjadi cukup berminat. Jadi dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa meningkat dengan rata-rata 75,7 di atas nilai KKM 67.[16]Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem <italic id="_italic-54">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-55">Al-wahdah </italic>mulai dari perencanaan, implementasi, dan pengevaluasiannya, serta mengetahui respon siswa pada proses pembelajaran bahasa Arab.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-23">Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif sendiri adalah penelitian yang dalam penelitiannya tidak menggunakan angka.[17]subjek penelitian adalah sumber tempat memperoleh keterangan penelitian atau lebih tepat dimaknai sebagai seseorang atau sesuatu yang mengenainya ingin diperoleh keterangan.[18]Adapun subjek dari penelitian ini adalah guru pengampu bahasa Arab dan siswa kelas VIII.</p>
      <p id="_paragraph-24">Sedangkan teknik pengumpulan data penelitian ini dengan menggunakan metode gabungan atau simultan, yang artinya adalah penggabungan antara metode kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan, namun yang lebih dominan kualitatif.[19] Adapun penelitian ini diperoleh dengan observasi secara langsung ke lapangan dan melakukan wawancara kepada guru mata pelajaran bahasa Arab untuk mengetahui proses pembelajaran bahasa Arab dengan menerapkan sistem <italic id="_italic-56">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-57">Al-Wahdah</italic>. Selanjutnya angket dimana peneliti menyiapkan berupa beberapa peryataan kepada siswa kelas VIII putra sebanyak 15 orang, hasilnya akan diolah dalam bentuk deskriptif untuk menyimpulkan perolehan respon peserta didik terhadap pembelajaran bahasa Arab tersebut. Selanjutnya dokumentasi tentang proses pembelajaran, pengumpulan data, serta lingkungan belajar di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang.</p>
      <p id="_paragraph-25">Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan teknik Miles dan Huberman. Dimana teknik tersebut memiliki 3 komponen yaitu[20]reduksi data (memilah data yang telah didapat dari wawancara, observasi, angket dan dokumentasi), sajian data (menampilkan data yang telah dipilah dan dijabarkan), dan penarikan kesimpulan/verifikasi (mengambil kesimpulan dari data yang dijabarkan).</p>
    </sec>
    <sec id="heading-3a2ac583dd68cef4c0e8cd934c3b22e5">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="paragraph-4d87d2914ca0c9db0cac2889fe340b27">A. Penerapan Sistem Nazhoriyah Al-Wahdah pada Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantresn Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang</p>
      <p id="_paragraph-26">Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Ngantang berlokasi di Dusun Sumbermulyo, Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Pada 2012 dilakukan pembebasan lahan, selanjutnya pada 2015 melakukan pembangunan, dan digunakan proses belajar mengajar pada 2017. Pondok pesantren ini adalah cabang dari Pondok Al-Fattah Buduran Sidoarjo yang bekerja sama dengan PCM Ngantang untuk mendirikan pondok pesantren Tahfidz di Kecamatan Ngantang.</p>
      <p id="_paragraph-27">Pondok Pesantresn Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang menerapkan <italic id="_italic-58">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-59">Al-wahdah</italic> (sistem terpadu) pada pembelajaran bahasa Arab. Dalam satu pekan pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan selama tiga hari yakni pada hari Senin, Selasa, dan Rabu. Penerapan sistem <italic id="_italic-60">Nazhoriyah </italic><italic id="_italic-61">Al-Wahdah</italic>pada pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang ialah guru pengampu bahasa Arab melakukan perencanaan,pelaksanaan, ebaluasi. Antara lain:</p>
      <p id="paragraph-fa933c1cd9cd8e084903232182f72022">1. Perencanaan</p>
      <p id="_paragraph-28">Perencanaan pada pembelajaran bahasa Arab mengacu pada silabus yang telah disepakati oleh guru pengampu dengan pihak Al-Fattah pusat, akan tetapi penggunaannya tidak seratus persen atau tidak sepenuhnya digunakan. Karena dalam pelaksanaan pembelajarannya guru bahasa Arab mempunyai sistem dan metode belajar tersendiri. Perencanaan pembelajaran bahasa Arab dimulai dengan menetapkan tema, dimana dalam satu tahun ajaran guru menetapkan 15 tema. Kemudian dari tema tersebut dikembangkan dalam berbagai materi pembahasan meliputi :<italic id="_italic-62"> M</italic><italic id="_italic-63">ufradāt, ḥ</italic><italic id="_italic-64">iwār</italic><italic id="_italic-65">, qirā’ah dan kitābah</italic>,dengan memadukan konsep bahan ajar kitab Durusullughoh dari Pondok Modern Darussalam Gontor dan kitab Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah yang digunakan oleh LIPIA. Yang selanjutnya perpaduan dua bahan ajar kitab diatas diwujudkan dengan pembuatan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) telah disesuaikan pada Kurikulum Merdeka revisi 2013 yang digunakan pada Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang.[11] Dalam satu tahun ajarandi Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang terdapat 36 jam pelajaran yang dibagi menjadi 2 semester dengan alokasi waktu 60 menit, dimana dari 15 tema tersebut 8 tema ditempuh pada semester I dan 7 tema selanjutnya di tempuh pada semester II.</p>
      <p id="_paragraph-29">Hal ini sesuai dengan teori Gentery yang diuraikan oleh Wahyudi bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu proses yang merumuskan dan menentukan tujuan pembelajaran, strategi, teknik, dan media agar tujuan pembelajaran tercapai.[21]</p>
      <p id="paragraph-51e6cf2b83462cf9bf219a499bef765c">2. Pelaksanaan</p>
      <p id="_paragraph-30">Pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada RPP dimulai dengan tiga tahapan, dimana konten isinya sudah disesuaikan dengan tema yang akan dipelajari. Adapun proses pelaksanaannya antara lain :</p>
      <p id="paragraph-be1598afcdfd8aed6fcd8cdb1c9b6422">a. Tahap I yaitu guru pengampu memfokuskan pada ketrampilan mendengar (<italic id="italic-1">Istima’) dan </italic>menulis <italic id="italic-2">(Kitabah)</italic>. guru pengampu menggunakan <italic id="italic-3">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah Baina Yadaik</italic>yang berbentuk MP3 untuk mengasah keterampilan mendengar (<italic id="italic-4">Istima’), </italic>guru melafalkan materi dengan ditirukan peserta didik. Selanjutnya keterampilan menulis <italic id="italic-5">(Kitabah)</italic> menggunakan kitab <italic id="italic-6">Kurrasatu At-Tadribat Al-Khat</italic>dari <italic id="italic-7">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah mustawa awwal</italic>. Guru memberi gambar yang sudah disesuaikan dengan tema, lalu peserta didik diminta mendeskripsikan gambar yang di berikan sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Arab, dan menulis kata baru yang belum dipahami. Kemudian peserta didik mengumpulkan hasil dan guru mengoreksi hasil tulisan tersebut serta menjelaskan tentang kosa kata yang masih belum belum dipahami. Hal ini bertujuan untuk bekal peserta didik agar dapat mudah memahami dan bebas berekspresi dalam bahasa Arab secara lisan maupun tulisanyang didengar dari lisan orang Arab asli maupun orang yang mahir berbahasa Arab, serta dapat menulis sesuai kaidah penulisan bahasa Arab.</p>
      <p id="_paragraph-31">Hal ini sudah sejalan dengan Implikasi dalam pelaksanaan pengajaran ialah bahwa guruhendaknya memulai pelajarannya dengan memperdengarkan(sebaiknya secara spontan, tidak dengan membaca) ujaran-ujaranbahasa Arab baik berupa kata-kata maupun kalimat, setidaktidaknyaketika guru memperkenalkan kata-kata baru, ungkapan-ungkapanbaru, atau pola kalimat baru.[22]Adapun dalam tujuan pembelajarannya sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa Arab pada kitab <italic id="_italic-66">Kurrasatu At-Tadribat Al-Khat</italic> dari <italic id="_italic-67">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah mustawa awwal</italic> yakni memudahkan peserta didik dalam penguasaan dan pengekspresian terhadap pembelajaran bahasa Arab.[23]</p>
      <p id="paragraph-00a1b9b05e4096cc038cc68c859cf9ec">b. Tahap II yaitu keterampilan membaca <italic id="italic-d2abed4902a59de5ed5a5cee1b44dbce">(Qira’ah)</italic>; pada tahap ini guru pengampu memberikan teks deskripsi yang mengacu pada bahan ajar kitab <italic id="italic-9ac4c1a04c56429f588fba5684a17eb4">Durusullughoh</italic> dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Selanjutnya, guru pengampu memerintahkan peserta didik untuk membacakan teks tersebut secara bergilir dengan suara yang lantang. Hal itu bertujuan agar peserta didik terbiasa melafalkan bahasa Arab secara jelas dan benar sesuai dengan pelafalan bahasa Arab. </p>
      <p id="_paragraph-32">Hal ini sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ada pada kitab <italic id="_italic-68">Al-qira’ah Wa Al-Kitabah</italic>dari <italic id="_italic-69">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah mustawa awwal</italic>yakni pembiasaan peserta didik dengan pengucapan bunyi bahasa Arab yang sesuai dengan kaidah berbahasa Arab.[24]</p>
      <p id="paragraph-9877c5dcee65d821564543aa0386d879">c. Tahap III yaitu keterampilan berbicara (<italic id="italic-69d5e5fdd73c145ee96ce8b72cddc277">Kalam</italic>); dalam hal ini guru menyediakan teks percakapan yang mengacu pada bahan ajar kitab <italic id="italic-abb073c6fadd0bde40633122a9cf69cc">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah </italic>adapun konteks isinya telah disesuaikan dengan tema pembelajaran. Selanjutnya guru pengampu membagikan teks tersebut kepada semua perseta didik yang kemudian mempraktikkan secara langsung. Selain itu, untuk memaksimalkan peserta didik dalam penguasaan keterampilan berbicara terdapat progam pembiasaan berbahasa Arab yaitu <italic id="italic-385f40e19d3c0c3d60922c56369e2759">Yaumul Lughoh </italic>yang diadakan dua kali dalam satu pekan antara lain di hari Senin dan Kamis, berjalan sejak pagi hingga sore hari. Selain itu, di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang juga mengadakan <italic id="italic-6c90435cddb1268d58cad768d9c159ec">workshop</italic> motivator dengan beberapa orang Arab dan juga alumni dari Pondok Al-Fattah pusat yang sekarang menuntut ilmu di timur tengah. Hal ini bertujuan untuk memotivasi peserta didik agar bersemangat dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Arab dan mengasah beberapa keterampilan bahasa Arab yang dimiliki peserta didik. Dari tiga tahap pelaksanaan pembelajaran tersebut guru tidak akan melanjutkan ke tahap selanjutnya hingga tahap sebelumnya berjalan dengan sempurna.</p>
      <p id="_paragraph-33">Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab tersebut bahwasannya tujuan pembelajaran sudah sejalan dengan yang diuraikan oleh Muhammad Hilmi yakni tujuan dari pembelajaran Bahasa Arab adalah untuk mengembangkan empat keterampilan bahasa yaitu keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Empat keterampilan ini telah terprogram dalam pembelajaran bahasa arab.[25]Selain itu fitri nur salam juga mengemukakan bahwa pendekatan <italic id="_italic-70">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic>dalam urutan pengajaran kemahiranberbahasa adalah menyimak (<italic id="_italic-71">al-istima’, listening</italic>), menulis (<italic id="_italic-72">al-</italic><italic id="_italic-73">kitabah</italic><italic id="_italic-74">, writing</italic>), membaca (<italic id="_italic-75">al-qira’ah, reading</italic>), berbicara (<italic id="_italic-76">al</italic><italic id="_italic-77">-</italic><italic id="_italic-78">kalam, speaking</italic>).[26]</p>
      <p id="paragraph-edfca2299aa79ecff27c0a1e683180ce">3. Pengavaluasian</p>
      <p id="_paragraph-34">Tahap akhir dari penerapan <italic id="_italic-94">Nazhoriyah Al-Wahdah </italic>adalah tahap evaluasi. Pada tahap evaluasi, guru pengampu mempunyai beberapa susunan kriteria evaluasi penerapan dari perencanaan <italic id="_italic-95">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic>yang telah dibuat atau direncanakan. Dimana di Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang dalam pengevaluasian pembelajaran bahasa Arab dilakukan dua pengevaluasian: Pertama pemberian tugas harian, yang nantinya dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya. Kedua melakukan Sumatif Akhir Semester I dan II. Adapun dalam penyusunan soal Sumatif Akhir Semester tersebut guru pengampu memadukan beberapa konsep sekaligus yaitu untuk soal uraian dan pencocokan mengambil konsep dari bahan ajar kitab <italic id="_italic-96">Silsilah Ta’lim Al-Lughah Al-Arobiyyah</italic>dari LIPIA, pada soal pilihan ganda guru pengampu mengambil konsep dari LKS bahasa Arab Kurikulum 2013. Sedangkan konten isi dari pengevaluasian guru pengampu mengambil dari bahan ajar kitab <italic id="_italic-97">Durusullughoh</italic> dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Tujuan dilaksanakan evaluasi adalah untuk mengetahui penguasaan keterampilan dan pemahaman terhadap pembelajaran bahasa Arab.</p>
      <p id="_paragraph-35">Hal ini sejalan dengan uraian Cahya Edi Setyawan tentangkegunaan dari evaluasi program ini adalah untukmengetahui tingkat keberhasilanpembelajaran bahasa arab selama satu semester atau dua semester.[27] Dan juga menurut Ubaid Ridho evaluasi adalah salah satu komponen pembelajaran yang sangat vital dalam kegiatan belajar mengajar. Karena dengan evaluasi bisa diukur sukses tidaknya proses pembelajaran.[28]</p>
      <p id="paragraph-2fd079feed7bde8c5846d9a87972e33e">B. Respon Siswa pada Penerapan Sistem Nazhoriyah Al-Wahdah dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantresn Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang</p>
      <p id="_paragraph-36">Peneliti menggunakan angket yang akan dibagikan kepada peserta didik kelas VIII putra sebanyak 15 orang. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui respon peserta didik terhadap beberapa keterampilan dan pemahaman materi yang dimiliki pada pembalajaran bahasa Arab dengan menggunakan <italic id="_italic-98">Nazhoriyah Al-Wahdah </italic>dan mencari apakah pembelajaran bahasa Arab dapat diterima oleh peserta didik. Dengan demikian guru pengampu mata pelajaran Bahasa Arab juga bisa mengetahui apakah sistem pembelajaran <italic id="_italic-99">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic> yang telah diterapkan menghasilkan perkembangan atau hasilnya justru dirasa menyulitkan peserta didik. Hal itu sudah sesuai dengan apa yang diuraikan oleh Kennia Ayu bahwa respon berarti reaksi atau tanggapan berupa penerimaan, penolakan, atau sikap acuh tak acuh terhadap apa yang disampaikan oleh komunikator dalam pesannya.[29]</p>
      <p id="_paragraph-37">Adapun peneliti menemukan hasil dari penyebaran angket tersebut Bahwa siswa merasa puas dalam pembelajaran bahasa Arab. hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem <italic id="_italic-100">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic>termasuk dalam kategori layak diterapkan pada pembelajaran bahasa Arab. Bisa dibuktikan bahwa dalam proses pembelajaran berlangsung antara lain; Dalam proses pembelajaran berlangsung peserta didik merasa cukup memahami pembahasan materi yang disampaikan guru pengampu.Peserta didik dapat memperhatikan dengan baik selama proses berlangsung, dibuktikan dengan keaktifan dalam bertanya, menjawab soal yang diberikan guru.Peserta didik merasa cukup bersemangat ingin menguasai dan merasa dapat mengembangkan dengan baik semua keterampilan mendengar, membaca, menulis, berbicara dalam bahasa Arab. Serta dalam mempraktikkan bahasa Arab pada kehidupan sehari-hari peserta didik mempraktikkan dengan cukup baik.</p>
      <p id="_paragraph-38">Dari penemuan peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa hasil respon peserta didik pada penerapan <italic id="_italic-101">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic> dalam pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammdiyah Al-Fattah Ngantang menunjukkan bahwa peserta didik merasakan kemudahan dalam pembelajaran bahasa Arab dengan penerapan <italic id="_italic-102">Nazhoriyah Al-Wahdah</italic>. Mulai dari penyampaian materi guru pengampu mudah dipahami, murid menjadi aktif saat proses pembelajaran berlangsung, memunculkan rasa ingin mengetahui dan bersemangat dalam mengembangkan dan menguasai dari beberapa keterampilan berbahasa Arab.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="paragraph-1293ddfaa8e30280f24e58537cbc69e3">Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan, dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem Nazhoriyah Al-Wahdah dalam pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Tahfidz Muhammadiyah Al-Fattah Ngantang memberikan manfaat dalam memahami dan menguasai Bahasa Arab. Sistem ini melibatkan perencanaan pembelajaran yang memadukan bahan ajar dari kitab Durusullughoh dan kitab Silsilah Ta'lim Al-Lughah Al-Arobiyyah, serta melalui tiga tahapan pembelajaran yang mencakup keterampilan mendengar, menulis, membaca, dan percakapan. Respon peserta didik terhadap penerapan ini menunjukkan kemudahan dalam memahami pembelajaran Bahasa Arab. Namun, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengkaji dampak penerapan sistem ini secara menyeluruh dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Arab peserta didik, serta untuk memperluas penelitian ini ke lingkungan pembelajaran lainnya guna mengidentifikasi efektivitas dan penerapan sistem ini dalam konteks yang lebih luas.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>